Inspirasi Komunitas

76Rider Touring : Saat Jurnalis Mengenang Kembali Perjuangan Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa

  • PERANG Jawa yang berlangsung tahun 1825-1830 tercatat perang yang paling melelahkan dan menimbulkan kerugian besar bagi Belanda (VOC). Belanda sangat kesulitan
Inspirasi Komunitas
Ties

Ties

Author

PERANG Jawa yang berlangsung tahun 1825-1830 tercatat perang yang paling melelahkan dan menimbulkan kerugian besar bagi Belanda (VOC). Belanda sangat kesulitan menangkap Pangeran Diponegoro yang menggelorakan semangat perjuangan ini.

Guna meresapi kembali dan menapaki sejarah itu,tim Jurnalis Jogja yang tergabung dalam komunitas 76Rider, kelompok pecinta motor yang juga memiliki sensitivitas sejarah dan sosial. Mereka memulai perjalanan dari Museum Diponegoro, Tegalrejo, tempat yang menjadi simbol dimulainya babak besar perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Tempat itu juga dikenal sebagai saksi bisu bagaimana seorang bangsawan kraton, Pangeran Diponegoro, memutuskan untuk turun ke medan laga demi harga diri bangsa dan tanah air.

"Perjalanan dimulai Sabtu (2/8) pagi, Kami ingin membuktikan bahwa touring bisa lebih dari sekadar jalan-jalan. Ini adalah napak tilas, membawa semangat perjuangan dan keteguhan hati sang Pangeran,” kata Azam Sauki, Sekretaris Panitia, sembari memandangi museum yang berdiri kokoh namun sederhana itu.

Sementara itu, Chaidir, Ketua Panitia 76Rider FJ2 Touring mengatajan bagi para jurnalis, perjalanan ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah kesadaran: bahwa sejarah tidak pernah mati, ia hanya menunggu untuk kita datangi kembali—dengan sepenuh hati dan jiwa. “Perjalanan ini mengajarkan kami, bahwa di balik jalan-jalan sunyi yang kami lewati, ada jejak langkah perjuangan yang tak boleh dilupakan," katanya.

Dengan semangat membara, motor-motor mereka menderu melewati jalan Godean, menembus perkampungan yang tenang, hamparan sawah yang menghijau, dan rute-rute yang diyakini pernah dilalui oleh Pangeran Diponegoro bersama pasukannya. Rasa lelah tak terasa, tergantikan oleh rasa haru dan hormat yang dalam kepada sosok pemimpin yang rela menanggalkan kenyamanan istana demi perjuangan yang penuh pengorbanan.

Tujuan selanjutnya adalah Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro di Kota Magelang, tepatnya di Jalan Pangeran Diponegoro No. 1. Museum ini dulunya merupakan rumah dinas Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Hendrik Markus de Kock, dan menjadi tempat bersejarah saat perundingan antara Diponegoro dan Belanda terjadi.

Di sinilah, sang Pangeran akhirnya ditangkap dalam pengkhianatan yang menyayat sejarah. Ketika memasuki ruangan utama museum, suasana hening. Di dalam almari kaca, para jurnalis menatap takjub jubah putih dan Alqur’an tulisan tangan milik Pangeran Diponegoro—dua benda asli yang masih terawat rapi.

“Aura perjuangan itu masih terasa di sini. Seakan kita bisa mendengar suara sang Pangeran membaca doa sebelum berunding,” bisik salah satu peserta, matanya sedikit berkaca-kaca.

Di sudut lain, mereka melihat meja dan kursi asli tempat perundingan berlangsung. Dari dalam ruang itu terasa seperti ada aura luapan emosi sang Pangeran atas pengkhianatan dan tipu daya penjajah. Apa lagi ada replika lukisan karya Raden Saleh yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi saksi bisu betapa tragis akhir dari satu fase perjuangan itu.

Perjalanan belum berakhir. Para 76Rider kembali menyalakan motor mereka dan menuju sebuah tempat suci di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Di sinilah Masjid Langgar Agung Diponegoro berdiri. Masjid ini dibangun di atas petilasan tempat Pangeran Diponegoro beristirahat kala berjuang pada masa Perang Jawa. Langgar yang dulunya sederhana, kini telah berubah menjadi masjid yang kokoh dan anggun. Dibangun sejak tahun 1960-an dan diresmikan pada 8 Januari 1972, masjid ini adalah wujud penghormatan atas jasa Pangeran Diponegoro. 

 

Jurnalis yang tergabung dalam 76Rider Touring

 

“Langgar ini menjadi tempat perenungan beliau, tempat mencari kekuatan spiritual sebelum kembali ke medan juang,” imbuh Chaidir.

Di tempat ini, waktu seperti melambat. Seolah suara adzan dari masa lalu kembali terdengar, mengingatkan bahwa perjuangan bukan hanya soal senjata, tapi juga soal iman dan keteguhan hati.

Usai berziarah ke masjid tersebut, perjalanan pun ditutup dengan hening yang dalam. Para jurnalis saling berpandangan. Mereka tidak hanya membawa kembali foto dan catatan liputan, tapi juga semangat perjuangan dan kebesaran jiwa seorang pahlawan yang telah menembus ruang dan waktu. Touring edisi pertama ini berakhir. 

 

Didukung oleh Djarum76 dan perlengkapan lapangan dari Eiger, perjalanan ini bukan hanya sukses secara teknis, tapi juga berhasil menyentuh sisi terdalam dari rasa nasionalisme dan kemanusiaan.