Jogja

Ada 6.058 Penderita HIV, Begini Langkah Dinkes DIY Kendalikan Penularan

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Selama hampir tiga dekade terakhir, tercatat ada 6.058 penderita HIV dan 1.931 di antaranya telah memasuki fase AIDS di Jogja.Angka ini be
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaja.com - Selama hampir tiga dekade terakhir, tercatat ada 6.058 penderita HIV dan 1.931 di antaranya telah memasuki fase AIDS di Jogja.

Angka ini berdasarkan data yang dihimpun oleh Komisi Penanggulangan Aids (KPA) DIY sepanjang tahun 1993-2022.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Setyarini Hestu Lestari, menjelaskan bahwa untuk menekan penularan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah penanggulangan.

Satu di antaranya dengan menggencarkan kegiatan pencarian atau penemuan penderita HIV/AIDS dengan menyasar kelompok beresiko.
 

Program tersebut diberi nama ‘Mobile VCT’ atau Voluntary Counselling and Testing HIV/AIDS, yang dilaksanakan sesuai dengan wilayah kerja puskesmas.

“Ada penguatan tes HIV melalui VCT mobile. Masyarakat, untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, harus segera periksa," ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (28/8/2022).

Jika ada penemuan orang terpapar, lanjut Rini, dilakukan juga notifikasi pasangan orang dengan HIV. Notifikasi itu dilakukan oleh petugas kepada pasangan orang yang hidup dengan HIV.

Menurutnya, tujuan notifikasi adalah untuk mengidentifikasi mereka yang belum terdiagnosis. Adapun, pihak yang bisa diberi notifikasi meliputi suami atau istri orang dengan HIV, anak biologis orang dengan HIV, serta partner seks orang dengan HIV.

Di samping itu, pihaknya juga menyediakan konselor di 121 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah DIY.

"Ada puskesmas extra hour dengan menyelenggarakan layanan konseling dan perawatan di luar jam pelayanan puskesmas," terangnya.

Selain bermacam upaya pencegahan, Dinkes DIY juga melakukan edukasi untuk mendorong masyarakat agar tidak mendiskriminasi orang dengan HIV dan AIDS atau ODHA. Sebab, praktek diskriminasi juga berdampak pada upaya penanganan.

Bahkan, tak hanya masyarakat, edukasi juga menyasar kalangan tenaga kesehatan. Sehingga, nakes tidak hanya mampu menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh ODHA.

"Intervensi penurunan stigma dan diskriminasi menjadi hal penting. Juga perluasan layanan pengobatan HIV/AIDS melalui pelatihan juga penguatan jejaring dengan LSM penjangkau dan pendukung sebayanya," tutur Setyarini.

Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV. Sehingga penyintas HIV harus mengkonsumsi obat Antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk melemahkan virus agar penyakit tidak semakin parah dan menjelma menjadi AIDS. 

Obat tersebut disediakan oleh pemerintah pusat dan dapat diakses ODHA secara gratis.  (Eff)