News

AL Rusia Didoktrin Baru Lagi, Mampukah Melawan Dominasi US Navy?

  • Saat peringatan Hari Angkatan Laut Rusia 31 Juli 2022 Presiden  Vladimir Putin mengumumkan doktrin martim baru negara tersebut. Poin penting dalam doktrin tersebut adalah menempatkan Amerika sebagai ancaman bagi keamanan tersebut
News
Ties

Ties

Author

JAKARTA-Saat peringatan Hari Angkatan Laut Rusia 31 Juli 2022 Presiden  Vladimir Putin mengumumkan doktrin martim baru negara tersebut. Poin penting dalam doktrin tersebut adalah menempatkan Amerika sebagai ancaman bagi keamanan tersebut. Rusia juga akan melawan dominasi Angkatan Laut Amerika termasuk juga NATO di perairan dunia.

Doktrin tersebut secara jelas menggambarkan bahwa Rusia akan membawa kekuatan lautnya keluar kandang. Mereka akan mengirimkan kapal-kapal mereka untuk bersaing dengan US Navy di perairan dunia.

Untuk bisa melakukan hal itu, Rusia mau tidak mau harus bekerja keras. Karena harus diakui kekuatan maritim negara tersebut masih jauh berada di bawah Amerika. 

Sebuah laporan Naval War College  tahun 2020 menyebut  Angkatan Laut Rusia dengan semua metrik tertinggal di belakang Amerika.  Moskow secara total memiliki 360 kapal. Ini lebih banyak dibandingkan Amerika yang memiliki 333 kapal. Tetapi kapal Amerika rata-rata jauh lebih besar dari kapal Rusia. Bobot total Armada Amerika sekitar 4,6 juta ton. Sementara  Armada Rusia hanya berbobot 1,2 juta ton.

Sejumlah sumber terbuka menyebutkan Amerika Serikat saat ini mengoperasikan sekitar 92 kapal perusak. Jauh di atas Rusia yang memiliki 15 kapal kelas ini. Kekuatan kapal induk Amerika juga tidak tertandingi dengan 12 kapal induk. Sedangkan Moskow hanya memiliki satu kapal yakni Admiral Kuznetzov yang sudah tua dan kerap bermasalah.

 

Dalam hal kekuatan Kapal selam mengoperasikan sekitar 65 kapal selam baik nuklir maupun konvensional. Jumlah yang tidak terlalu jauh berbeda dengan Amerika yang mengoperasikan sekitar 70 kapal selam. Seluruh kapal selam Amerika menggunakan tenaga nuklir. 

Rusia  unggul dalam jumlah korvet dengan sekitar 85 unit. Secara resmi Angkatan Laut Amerika sebenarnya  tidak memiliki korvet, tetapi sekitar 20 kapal tempur pesisir mereka bisa dimasukkan dalam kelas ini. Amerika juga menjadi negara dengan armada penjelajah terbesar di dunia dengan sekitar 20 kapal kelas Ticenderoga. Sementara Rusia memiliki kurang dari 10 unit.

Ukuran kapal akhirnya mempengaruhi jumlah senjata yang dibawa. Armada Angkatan Laut Amerika menurut studi tersebut dapat membawa sekitar 12.000 rudal ofensif. Sementara Armada Rusia mengemas tidak lebih dari 3.300. 

Anatol Lieven seorang peneliti senior  Rusia dan Eropa di Quincy Institute of Responsible Statecraft kepada Aljazerra Minggu 31 Juli 2022 mengatakan Angkatan laut Rusia, setidaknya kekuatan kapal permukaan kalah jumlah 4 banding 1 dengan anggota NATO Eropa. Dan kalah jauh lebih banyak dibandingkan dengan angkatan laut Amerika.

Rusia menyadari kekurangan ini sehingga doktrin maritim baru itu menegaskan akan menggunakan resolusi untuk membangun kekuatannya. Rusia secara jelas mengatakan akan mengandalkan senjata hipersonik berbasis laut yang dikenal sebagia Tzirkon untuk menutup celah tersebut. 

Dalam pidatonya di Naval Day Putin mengatakan rudal yang dia klaim tidak ada tandingannya tersebut akan segera ditempatkan ke kapal perang Rusia. Mereka akan menjadi senjata yang sulit untuk dilawan oleh Amerika.

Lieven memahami strategi tersebut. Dia menyebut  Rusia dan Amerika memiliki keseimbangan dalam hal  senjata nuklir. “Itulah  sebabnya  Putin berulang kali menekankan teknologi rudal Rusia. Karena ini adalah satu-satunya area di mana Rusia masih menjadi negara adidaya,” katanya.

Tetapi juga harus dipahami doktrin baru akan mengubah gaya operasi Rusia. Selama ini para analisis perang menyebut angkatan laut Rusia berfokus pada konsep anti akses area/area denial. Ini berarti kapal akan lebih banyak digunakan di perairan dekat dengan pantai. Itulah kenapa sebagian besar armada Rusia selama ini diisi dengan kapal-kapal kecil sekelas korvet.

Dalam dekade terakhir, pemikir angkatan laut Rusia memang telah menekankan pentingnya serangan darat terhadap target  darat. Doktrin resminya mencatat bahwa salah satu perannya adalah  untuk menyerang fasilitas  musuh yang sangat penting, tanpa melanggar, sampai saat tertentu, kedaulatan nasionalnya.  

Tetapi secara umum  filosofi perang angkatan laut Rusia tidak berfokus secara eksklusif pada kontrol atau penolakan laut. Rusia diyakini akan sangat mumpuni di area  pesisir dan apa yang disebut “Near Seas”. Istilah istilah yang jarang didefinisikan, tetapi umumnya dipahami sebagai  wilayah hingga 300 mil laut lepas pantai. Dalam jarak ini  kapal Rusia akan menjadi sangat berbahaya. Baik untuk menyerang target darat musuh atau kapal lawan yang mendekat.

Perang Rusia di wilayah pesisir dan laut dekat  berbasis di sekitar jaringan sensor, jammer, umpan, rudal darat, dan pesawat tempur taktis yang berlapis. Tetapi saat  kapal bergerak ke zona Laut jauh dan "Samudera Dunia"  yang berjarak lebih dari 300 mil Rusia penurunan kekuatan akan mulai terjadi.

Sensor dan kapal

Area yang lebih besar membutuhkan kemampuan pencarian over-the-horizon dengan volume yang lebih tinggi ditambah dengan sejumlah besar kapal perang yang dapat bertahan di lautan. Sayangnya persediaan keduanya terbatas di Angkatan Laut Rusia.

Moskow telah berhasil membangun lini platform angkatan laut yang lebih kecil dan tidak terlalu kompleks yang diharapkan dapat mempertahankan laut dekat. Ukuran yang lebih kecil dari kapal-kapal ini membatasi jangkauan dan kemampuan bertahan mereka. Banyak dari mereka yang dilengkapi dengan  rudal jelajah  Kalibr dengan jangkauan hampir 1.000 mil. Tetapi ini adalah rudal serangan darat. Bukan rudal antikapal.

Platform yang lebih besar, terutama kombatan permukaan besar dan kapal selam bertenaga nuklir yang berbasis di Armada Utara dan Pasifik, memiliki jangkauan dan kemampuan bertahan yang lebih besar.  Tetapi wilayah ini sangat luas. Atlantik Utara saja luasnya mencapai sekitar 6,4 juta persegi mil. 

Radar Over-the-horizon  juga menjadi  elemen penting dari perang laut terbuka. Dan ini  merupakan tantangan perang maritim paling kritis di Rusia. Mereka memang  telah mengembangkan rudal anti-kapal jarak jauh yang luar biasa, termasuk Tzirkon. Tetapi rudal ini  tidak dapat membunuh apa yang tidak dapat mereka temukan atau dilihat. Butuh kekuatan sensor yang sangat mumpuni. 

Sensor berbasis pantai Rusia memiliki kemampuan yang mengesankan hingga beberapa ratus mil. Tetapi  tidak memadai untuk penargetan laut terbuka. Untuk mengatasi ini, Moskow telah membangun keluarga baru satelit intelijen elektronik. Sistem satelit “Liana” mengumpulkan sinyal elektronik yang dipancarkan oleh kapal angkatan laut musuh dan mengirimkan informasi tersebut ke kapal perang Rusia yang dilengkapi dengan peralatan komunikasi satelit yang tepat. Tetapi sejauh ini sensor satelit masih memiliki sejumlah kendala. Tidak hanya dialami Rusia. Demikian juga dengan Amerika.

Untuk itu platform sensor seperti pesawat patroli maritim jarak jauh masih sangat penting. Pesawat pengintai seperti Tu-142 Bear-F dan Il-38 May Rusia akan mengisi celah ini. Tetapi Rusia tidak memiliki pangkalan garis depan, pesawat tempur dengan jangkauan yang sama, dan pesawat tempur berbasis kapal induk yang cukup. Kondisi ini akan menjadikan pengawalan terhadap misi jarak Tu-142 dan Il-38 menjadi ssulit dilakukan.  

Sensor di kapal perang dan kapal selam juga memiliki keterbatasan kritis. Untuk kapal selam, hanya dalam kondisi tertentu deteksi sonar kapal permukaan dapat dilakukan hingga beberapa lusin mil. 

Platform permukaan dapat memiliki jangkauan deteksi yang jauh lebih besar, tetapi tidak memiliki daya tahan dan kemampuan bertahan dibandingkan  kapal selam bertenaga nuklir. Ini akan menjadi masalah yang harus diatasi Rusia.

 

Dari semua fakta itu Rusia memang harus bekerja keras untuk bisa mewujudkan doktrin baru maritim mereka untuk melawan dominasi Amerika di lautan dunia.