
Badan Geologi KemenESDM Ubah Potensi Dampak Guguran Lava Gunung Merapi
- YOGYA, Jogjaaja.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan sumber Daya Mineral Republik Indonesia (KemenESDM RI), melakukan pemutakhiran data berkaitan dengan a
Jogja
YOGYA, Jogjaaja.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan sumber Daya Mineral Republik Indonesia (KemenESDM RI), melakukan pemutakhiran data berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi yang telah memasuki status siaga atau level III sejak 5 November 2021 lalu.
Kepala Badan Geologi KemenESDM RI, Joko Budi Lelono menjelaskan bahwa, saat ini fase erupsi Gunung Merapi sudah berlangsung lebih dari satu tahun dengan sifat erupsi efusif berupa pertumbuhan kubah lava dan pembentukan guguran lava dan awanpanas.
Rekomendasi bahaya terakhir yang ditetapkan pihaknya adalah pada 25 Juni 2021 lalu yakni daerah bahaya guguran lava dan awanpanas berada pada sektor selatan – barat daya meliputi Sungai Boyong, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal lima km.
- Values 20 2022 (V20) Beri Masukan Berdasarkan Nilai Bagi Penyusunan Kebijakan Publik
- Bakpia Tugu Jogja Tawarkan Black forest, Bolunya Sultan
- Mulai 2023, Rawat Inap BPJS Kesehatan Dilebur Jadi 1 Kelas
- Devero Sajikan Ayam Betutu dan Sate Lilit Bali Terenak di Yogya
- Feramitha Tiffani Mokodompit Lulusan Tercepat Program Magister, 979 Mahasiswa Pascasarjana UGM Diwisuda
- Pertemuan Tatap Muka 100 Persen Harus Diikuti Program 3T Secara Berkala
Sementara pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga km dan Sungai Gendol lima km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga km dari puncak.
Joko menyebutkan bahwa, kubah lava tengah kawah dan barat daya terus tumbuh dengan laju rata-rata masing-masing sebesar 5.000 m3/hari dan 10.000 m3/hari. Pada 20 Januari 2022 lalu, volume kubah tengah kawah terhitung sebesar 3.007.000 m3 dan kubah lava barat daya sebesar 1.670.000 m3.
"Perubahan topografi lereng akibat aktivitas erupsi berpengaruh kepada potensi bahaya guguran dan awanpanas berikutnya. Untuk itu perlu dilakukan pemutakhiran penilaian bahaya guguran dan awanpanas menggunakan data topografi terbaru," jelas Joko, Kamis (27/1/2022).
Menurut Joko, berdasarkan data topografi terbaru, hasil pemodelan menunjukkan jika kubah lava barat daya longsor secara masif, maka akan menimbulkan awanpanas guguran ke Sungai Bedog, Bebeng, Krasak sejauh maksimal 6,3 km dan ke Sungai Boyong sejauh 3,9 km.
"Untuk kubah lava tengah, apabila longsor secara masif, maka awanpanas guguran ke arah Sungai Gendol akan mencapai jarak lima km dan ke Sungai Woro sejauh tiga km," jelasnya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan – barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh km.
Sementara pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga km dan Sungai Gendol lima km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga km dari puncak.
- Pemkot Yogya Imbau Minyak Goreng Subsidi Bukan untuk Dijual Kembali
- Telkomsel Akuisisi Pixel Ninja By Kuncie, Siap Hadirkan Edukasi di Bidang Kreatif Digital
- Temukan Keseruanmu di Jogja Exotarium, Wisata Mini Zoo dan Adventure
"Kami merekomendasikan kepada instansi terkait agar menindaklanjuti perubahan potensi ancaman erupsi Merapi yang terjadi saat ini dalam upaya mitigasi bencana termasuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam KRB III," ungkap Joko. (Anz)
