
Bumi Dalam Bayang-Bayang Kepunahan Massal, Ini Kata Peneliti
- YOGYA,Jogjaaja.com - Usia bumi yang kita huni ini tak dimungkiri memang telah berusia tua. Dalam sejarahnya sendiri, sebagaimana dicatat Elisabeth Kolbert dalam
News
YOGYA,Jogjaaja.com - Usia bumi yang kita huni ini tak dimungkiri memang telah berusia tua. Dalam sejarahnya sendiri, sebagaimana dicatat Elisabeth Kolbert dalam bukunya The Sixth Extinction (2020), ada masa di mana bumi mengalami kepunahan massal.
Tak tanggung-tanggung, ia mencatat ada lima kali masa kepunahan sebelum era antroposen (era peradaban manusia).
Dalam studi terbaru, University of Hawai’i di Manoa dan Museum d’Histoire Naturelle di Paris, menemukan fakta bahwa hari ini kita berada di bayang-bayang ancaman ‘kepunahan massal keenam’.
Melalui risetnya, yang terbit di laman Study Finds, potensi kepunahan massal ini disebut tinggal menunggu waktu. Ironisnya, bukan bencana alam, melainkan ulah manusia adalah penyebab kepunahan ini.
Dalam penelitian tersebut, dijelaskan bahwa tingkat kepunahan spesies saat ini tengah meningkat drastis. Secara khusus, diungkapkan bahwa 7,5 persen hingga 13 persen dari dua juta organisme yang menghuni bumi kini telah punah.
Lebih lanjut, peneliti juga menghitung sekitar 150 ribu hingga 260 ribu spesies di darat, laut, dan udara tidak ditemukan lagi pada taun 2022 ini.
Misalnya, peneliti mencontohkan, spesies siput.
Profesor riset UH Manoa Pacific Biosciences Research Robert Cowie, penulis utama penelitian ini, mengatakan bumi ini telah kehilangan hingga 13 persen dari semua spesies siput yang dikenal sejak tahun 1500-an.
“Tingkat kepunahan spesies yang meningkat drastis dan penurunan kelimpahan banyak populasi hewan dan tumbuhan sebenarnya didokumentasikan dengan baik,” ujarnya, yang dikutip Kamis (2/6/2022).
“Namun, beberapa menyangkal bahwa fenomena ini sama dengan kepunahan massal,” ia mengimbuhkan.
Sementara secara habitat, peristiwa kepunahan massal ini mempengaruhi kehidupan di darat pada tingkat yang berbeda daripada lautan.
Di darat, penelitian tersebut menemukan spesies pulau berada pada risiko kepunahan yang lebih tinggi daripada di benua yang lebih besar.
Dari proses kumulatif ini, manusia merupakan organisme paling besar pengaruhnya dalam kepunahan. Mengingat manusia merupakan satu-satunya spesies yang mampu memanipulasi biosfer dalam skala besar.
Namun, kata Cowie, kendati sejumlah bukti menunjukkan manusia turut andil dalam proses kepunahan, ada banyak penyangkalan di dalamnya.
- Makna 5 Lambang Sila dalam Pancasila sebagai Dasar Negara yang Wajib Diketahui
- Siapa Masih Ingat? Inilah Butir-Butir Pancasila Selengkapnya
- Jarang Diketahui, Ternyata I Gusti Bagus Sugriwa Pencetus Istilah Pancasila
“Kami [manusia] bukan hanya spesies yang ber-evolusi dalam menghadapi pengaruh eksternal. Sebaliknya, manusia adalah satu-satunya spesies yang memiliki pilihan sadar mengenai masa depan kita,” pungkasnya. (Eff)
