Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur Sumarna saat melihat proses penanaman bibit bawang merah di lahan pasir milik anggotanya di Dusun Ngepet, Srigading, Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (15/12/2021).
Ekonomi, Fintech & UMKM

Efek Electrifying Agriculture, Petani Lahan Pasir Tak Subur di Bantul Jadi Makmur

  • Matahari bersinar terik pada Selasa (14/12/2021) pagi. Teriknya sinar matahari membuat lahan pasir di Pesisir Pantai Samas, tepatnya di Dusun Ngepet, Srigading, Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi cukup kering.
Ekonomi, Fintech & UMKM
Tyo S

Tyo S

Author

BANTUL, Jogjaaja.com – Matahari bersinar terik pada Selasa (14/12/2021) pagi. Teriknya sinar matahari membuat lahan pasir di Pesisir Pantai Samas, tepatnya di Dusun Ngepet, Srigading, Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi cukup kering.

Tapi keringnya lahan pasir tersebut bukan lagi menjadi masalah bagi para anggota Kelompok Tani Pasir Makmur. Beberapa petani yang tengah menyiapkan lahan pasir untuk ditanami bawang merah langsung melakukan penyiraman di lahan yang mereka kelola.

Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur Sumarna mengatakan, penyiraman lahan pasir menjadi sangat mudah dilakukan sejak hadirnya program Electrifying Agriculture dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Keberadaan listrik untuk sektor pertanian ini benar-benar sangat membantu para petani.

“Program Electrifying Agriculture dari PLN ini memberikan manfaat yang luar biasa bagi para petani. Yang pasti, pengeluaran para petani menjadi jauh lebih hemat dan tentu saja lebih ramah lingkungan. Selain itu, support dari PLN Bantul juga sangat besar,” kata Sumarna.

Sumarna menambahkan, saat menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi untuk pengairan di lahan seluas satu hektar, para petani bawang merah harus menggelontorkan biaya hingga Rp800 ribu, mulai dari penyemaian bibit sampai panen. Dengan adanya program Electrifying Agriculture yang dikombinasikan dengan sistem irigasi kabut (sistem pengairan tanaman dengan menggunakan air yang dipompa ke dalam selang plastik yang telah dilubangi sangat kecil sehingga air akan memancar ke atas menjadi seperti kabut untuk menyiram tanaman-red), biaya yang dikeluarkan petani hanya sekitar Rp80 ribu.

“Artinya para petani bawang merah di lahan pasir ini bisa menghemat biaya untuk pengairan atau penyiraman kurang lebih sampai 90 persen. Hal ini otomatis meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan para petani,” imbuh Sumarna.

Salah satu petani bawang merah di lahan pasir Pesisir Pantai Samas, Sudantoro sependapat dengan Sumarna. Menurutnya, adanya listrik untuk pertanian ini sangat membantu petani, terutama dalam hal mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan.

“Keuntungan bagi para petani tentu bertambah setelah masuknya listrik sebagai sumber energi untuk pengairan di lahan kami. Soalnya biaya yang harus dikeluarkan khususnya untuk pengairan bisa ditekan jauh banget. Bagi kami, adanya program Electrifying Agriculture benar-benar sangat berarti terutama di masa pandemi ini,” ujar Sudantoro. 

PLN sendiri memberikan berbagai kemudahan dalam pemasangan listrik untuk pertanian ini. Pengajuan program Electrifying Agriculture ini dilakukan melalui masing-masing kelompok tani. Kemudahan ini diberikan sebagai bentuk dukungan PLN terhadap ketahanan pangan nasional. 

Saat ini terdapat 96 petani penggarap yang sudah memasang listrik untuk kebutuhan pertanian ini dengan total daya 134.300 Volt Ampere (VA). Untuk mendukung program ini, meteran listrik dari PLN dipasang di masing-masing gubuk yang sudah disiapkan di lahan petani.

Dalam program Electrifying Agriculture ini, masing-masing petani memperoleh subsidi daya listrik. Untuk pengisian pulsa listrik Rp100 ribu, setiap petani akan mendapatkan daya sebesar 95,9 kWh. Jumlah daya lebih banyak dibandingkan dengan listrik untuk rumah tangga yang hanya mendapatkan 63,1 kWh untuk setiap pengisian pulsa listrik senilai Rp100 ribu di wilayah DIY.

M. Irwansyah Putra selaku General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut program Electrifying Agriculture menjadi bukti semangat transformasi PLN dalam memberikan pelayanan listrik yang mudah, andal, dan terjangkau bagi para pelaku usaha, khususnya di bidang pertanian. 

“Program Electrifying Agriculture ini memang bertujuan untuk membantu para petani dalam mengembangkan usahanya sehingga kesejahteraan mereka akan meningkat. Kami tentu sangat senang dan bangga bisa melihat para petani berhasil mengelola lahan mereka dengan menggunakan listrik dari PLN,” ungkapnya.

Irwansyah berharap nantinya akan semakin banyak petani atau pelaku sektor pertanian yang menggunakan peralatan maupun mesin berbasis listrik. Dengan demikian, para petani bisa menghemat biaya dan perekonomian masyarakat petani semakin tumbuh. (*)