Jogja

Generasi Muda Diajak Pahami Konsep Kebangsaan Demo Tolak Radikalisme

  • YOGYA,Jogjaaja.com - Tantangan bangsa Indonesia ke depan adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda yang tergolong generasi milenial dan generasi Z agar memil
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA,Jogjaaja.com - Tantangan bangsa Indonesia ke depan adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda yang tergolong generasi milenial dan generasi Z agar memiliki paham kebangsaan untuk melawan gerakan-gerakan yang ingin mengganti ideologi negara dengan menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya.

Demikian dikatakan Ketua Pemimpin Wilayah GP Ansor DIY Muchammad Saifudin saat berbicara dalam Glenak-glenik Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat, di Aula Kevikepan Yogyakarta Barat.

Saifudin mengatakan GP Ansor sudah menengarai pola-pola gerakan yang merongrong Pancasila dan NKRI. “Target mereka ingin memguasai tempat-tempat masyarakat dan pemerintah, universitas, menguasai sistem parlementer baik DPR daerah maupun Pusat, hingga sampai tingkat RT. Mereka juga berupaya merebut mimbar-mimbar di rumah-rumah ibadah," katanya, Minggu (28/8/2022).

"Jumlah mereka tidak banyak, tetapi mereka pengin tampil dan diterima di masyarakat untuk memaksakan ideologinya. Tidak segan juga memakai kekerasan dengan label agama,” tegasnya.

Upaya untuk melakukan pencegahan itu, Syaifudin menawarkan jalan dengan menggandeng kaum milenial dan generasi Z yang berdasar sensus penduduk 2020 merupakan jumlah terbesar.

“Generasi Z yang lahir tahun 1997-2012 jumlahnya 75,49 juta atau 27.954% dan generasi milenial yang lahir tahun 1981-1996 berjumlah 69,90 juta atau 25,87 %. Generasi milenial inilah usia-usia mereka menjadi  para aktivis saat ini,” ujar Syaifudin.

Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Kevikepan Yogyakarta Timur, Romo Dr Martinus Joko Lelono, Pr mengatakan, umat Katolik masih terkungkung pada imajinasinya sendiri, memandang dirinya sebagai kelompok kecil, tersakiti, korban sejarah maupun ketakutan lainnya, serta berharap pihak lain yang maju menghadapi masalah.

“Kita beranggapan bahwa hidup di Indonesia itu ingin hidup sedamai-damainya, senyaman-nyaman, masyarakat yang tanpa masalah. Apakah ada?  Padahal selalu ada masalah dimanapun, termasuk di Amerika yang katanya paling demokratis,” tegasnya. (Anz)