Home

Hadapi Gelombang Ketiga Covid-19, Ini Yang Harus Disiapkan Media

  • JAKARTA, Jogjaaja.com - Hingga akhir Oktober 2020, kasus penyebaran Covid-19 terus menunjukkan grafik menurun. Namun, ancaman gelombamg ketiga Covid-19 terus me
Home
Ties

Ties

Author

JAKARTA, Jogjaaja.com - Hingga akhir Oktober 2020, kasus penyebaran Covid-19 terus menunjukkan grafik menurun. Namun, ancaman gelombang ketiga Covid-19 terus mengancam meski pemerintah telah mencabut cuti bersama untuk liburan Natal dan Tahun Baru.

"Potensi terjadinya gelombang ketiga Covid-19 tetap ada, namun Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Penerapan protokol kesehatan yang ketat merupakan kunci utama dan bagaimanakah sikap media jika gelombang ketiga Covid-19 itu terjadi. Masihkah masyatakat masih mempercayai media mainstream di tengah gempuran informasi di media sosial," kata Endah Saptorini dari Internews di sela diskusi bertajuk Peran Media Massa Mengantisipasi Gelombang 3 COVID-19 secara virtual belum lama ini bagi peserta FJPP yang diinisiasi Dewan Pers.

Menurut Endah suatu berita itu disanakan dengan cerita sehingga para jurnalis bisa menyampaikan berita terbaru Covid-19 secara menyeluruh. Biarkan masyarakat menceritakan pengalamannya tentang Covid-19, baik sebagai korban atau membantu orang lain yang menderita akibat terpapar Covid-19. Karena itu, berita yang didampaikan tidak hanya bersumber dari pejabat daerah sampai nasional sehingga masyarakat mendapatkan cerita baru dan menarik meski harus menghadapi gelombang ketiga Covid-19 nantinya.

"Tampunglah semua cerita masyarakat. Bukan hanya satu atau bebrapa narasumber dari pejabat pemerintahan. Jurnalis jangan berperan sebagai pejabat humas tapi tulislah semua cerita masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami mereka. Selain kabar terbaru Covid-19, jurnalis bisa menceritakan cerita inspirasi, kepedulian terhadap sesama dan tetap mengedukasi masyatakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan karena Covid-19 belum mereda," tegasnya.

Endah menambahkan selain meliput, jurnalis juga hendaknya menampilkan standar jurnalistik dalam karyanya, memberi kritik membangun terhadap suatu masalah terkait Covid-19 sehingga menjadi seorang jurnalis yang humanis atau peduli terhadap sesamanya.

Pendapat senada diungkapkan Erwan Widyarto eks jurnalis Jawa Pos. Menurutnya seorang jurnalis tidak hanya taak kepada kode etik jurnalistik dalam memberitakan sesuatu namun perlu ditambah hal lain yaitu menampilkan karya jurnalistik bermakna saat terjadi gelombang ketiga pandemi Covid-19.

"Diburuhkan agenda matang untuk merencanakan liputan selama pandemi. Media harus mampu berperan sebagai tempat mengkampanyekan protokol kesehatan sampai pentingnya vaksinasi sampai pada contoh keberhasilan penanganan Covid-19. Ditambah menjadi pengawas sekaligus evaluator keberhasilan penanganan kasus Covid-19. Contohnya, misalkan ada kendala dalam pdmbagian oksigen, setelah dimunculkan oleh media dan mampu diatasi, hal ini menjadi salah satu keberhasilan peran media di lapangan," tandas Erwan.

Erwan juga meminta jurnalis untuk mampu mengungkap data dan fakta di lapangan yang mengarah kepada potensi terjadinya gelombang ketiga Covid-19. Termasuk kesiapsiagaan ayau ketidaksiapan suatu pemerintahan dalam mengahadapi serangan Covid-19 di fase ketiga nanti.

Sidik Pramono dari Kompas mengingatkan kembali peran wartawan dalam pembagunan nasional guna memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menehakkan nilai dasar demokrasi, mengembangkan pendapat umum dengan benar dan melaksanakan pengawasan atau kritik.

"Wartawan harus mempunyai vitalitas diman mengerjalan sesuatu yang sederhana dengan cara luar biasa, menjaga kebenaran dan menyusun semua informasi menjadi berita yang utuh. Adapun sikap jurnalis saat terjadi gelombang ketiga Covid-19 adalah terud mencari kebaruan," ungkapnya.

Dia menambahkan mencari kebaruan adalah gejala yang saling berhubungan yang tampaknya positif tapi kenyataanya negatif. Bisa juga memahami gejala yang tampaknya berdampingan tapi bertentangan. Bahkan, gejala yang dikira ada hubungan ternyata tidak berhubungan sama sekali.

"Hal yang perlu diingat adalah jurnalis selama pandemi COVID-19 harus mampu mengantisipasi dan mengingatkan, menjaga sikap kritis dan mencegah pengulangan, " tandasnya. (ties)