
Hari Ini Genap 33 Tahun Sri Sultan Naik Tahta, Lima Prosesi ini Biasanya Diadakan Kraton Yogyakarta
- MASA kepemimpinan Sultan HB X hari ini genap memasuki tahun ke-33 bertahta. Naik tahta Sultan HB X bermula saat masih bergelar KGPH Mangkubumi.Lalu, dinobatkan
Jogja
MASA kepemimpinan Sultan HB X hari ini genap memasuki tahun ke-33 bertahta. Naik tahta Sultan HB X bermula saat masih bergelar KGPH Mangkubumi.
Lalu, dinobatkan menjadi raja ke-10 Keraton Yogyakarta pada 7 Maret 1989. Namanya pun secara otomatis berubah menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Sementara itu sebagaimana dikutip dari kratonjogja.id setiap tahun Kraton Yogyakarta memperingati Ulang Tahun Kenaikan Takhta (Tingalan Jumenengan Dalem) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Agenda peringatan dilakukan utamanya berdasarkan kalender Jawa.
Tingalan Jumenengan Dalem adalah serangkaian upacara yang digelar berkaitan dengan peringatan penobatan/ kenaikan tahta Sultan. Puncak acara dalam rangkaian peringatan ini adalah Sugengan yang digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat Yogyakarta.
Setelah sugengan kemudian digelar acara labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta. Selain upaya untuk berdoa memohon keselamatan, upacara labuhan baik di gunung maupun tepi laut juga untuk melaksanakan tugas Sultan untuk selalu menjaga keselarasan alam, “Hamemayu Hayuning Bawono”.
- Sejarah Singkat Berdirinya Kraton Yogyakarta
- Dukung Potensi Kearifan Lokal, OYO Bantu Digitalisasi 'Desa Wisata'
- Lewat #SemuaBisalebih, Tunaiku Membantu Masyarakat di Masa Pandemi
Pada tahun 2021 Tingalan Dalem diadakan pada 10 Maret 2021. Kraton Yogyakarta menggelar rangkaian upacara yang dilaksanakan sejak 27 Rejeb. Rangkaian Hajad Dalem peringatan Tingalan Jumenengan Dalem adalah sebagai berikut:
Ngebluk: 27 Rejeb
Ngapem: 28 Rejeb
Sugengan: 29 Rejeb
Labuhan Parangkusumo: 30 Rejeb
Labuhan Lawu dan Labuhan Merapi: 1 Ruwah

1. Ngebluk (27 Rejeb)
Ngebluk merupakan kegiatan membuat adonan apem. Ngebluk dilakukan 2 hari menjelang upacara Hajad Dalem Labuhan. Bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton, sebuah tempat yang berada di lingkup Kaputren atau kediaman para Putri Raja. Ngebluk hanya boleh dilakukan oleh para wanita yang dipimpin Permaisuri dan Putri Raja tertua.
Selain para Putri Raja, orang-orang yang terlibat pada prosesi ngebluk adalah para kerabat Keraton beserta Abdi Dalem Keparak. Proses pertama, para Putri dibantu oleh Abdi Dalem mencampurkan bahan yang diperlukan guna dijadikan jladren atau adonan. Adonan terus diaduk hingga tercampur. Proses pengadukan adonan menimbulkan suara “bluk”, sehingga prosesi ini disebut Ngebluk. Setelah menjadi jladren, adonan kemudian dipindahkan kedalam enceh (gentong berukuran besar), kemudian didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang.
Pada waktu bersamaan beberapa Abdi Dalem Keparak memiliki tugas lain untuk mengeluarkan layon sekar (bunga sesaji yang sudah layu atau mengering) dari Gedhong Prabayeksa (gedung penyimpanan Pusaka). Layon sekar yang terkumpul selama satu tahun akan menjadi salah satu ubarampe yang akan dilabuh.
2. Ngapem (28 Rejeb)
Setelah prosesi ngebluk, keesokan harinya rangkaian acara dilanjutkan dengan ngapem. Ngapem merupakan prosesi membuat apem, kue basah berbentuk bulat. Konon asal kata apem berasal dari bahasa Arab “afwan” artinya maaf atau ampun, yang menyimbolkan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.
Apem yang akan dibuat dibedakan menjadi dua ukuran, apem biasa yang berukuran kecil dan apem besar atau disebut Apem Mustaka. Apem Mustaka ini disusun sesuai dengan setinggi badan Sultan.
Cara membuat apem kecil, jladren yang sudah didiamkan semalaman dituangkan pada wajan dan di bolak balik hingga matang. Sedangkan apem besar dibuat dengan cara melapisi apem kecil dengan adonan yang dimasak menggunakan ukuran wajan lebih besar. Apem yang sudah dibuat oleh para puteri dan kerabat Sultan ini kemudian akan dibagikan pada acara Sugengan.
3. Mempersiapkan Ubarampe (28 Rejeb)
Pada waktu bersamaan dengan prosesi ngapem, para Abdi Dalem Reh Widyabudaya bertugas menyiapkan ubarampe labuhan. Ubarampe utama berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sultan, seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku dan potongan rambut Sultan serta layon sekar.
Ubarampe dibawa dari Kawedanan Hageng Punakawan Widya Budaya menuju ke Bangsal Manis untuk diteliti kembali kelengkapannya. Setelah semua lengkap, ubarampe kemudian diinapkan di Gedhong Prabayeksa.
4. Sugengan (29 Rejeb)
Tepat pada hari peringatan penobatan Sultan diadakan acara Sugengan, yaitu upacara selamatan yang dihadiri kerabat Keraton beserta Abdi Dalem. Upacara selamatan ini merupakan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Sultan dan Keraton.
Upacara ini diadakan di Bangsal Kencana, seusai upacara kemudian apem dan nasi golong lengkap dibagikan kepada yang hadir. Selain itu, semua ubarampe labuhan dibawa ke Bangsal Srimanganti untuk disemayamkan selama satu malam.
5. Prosesi Upacara Labuhan (30 Rejeb)
Setelah prosesi sugengan, barulah keesokan harinya diselenggarakan upacara labuhan. Seluruh ubarampe yang telah dipersiapkan diarak dari Gedhong Prabayeksa menuju ke Bangsal Srimanganti untuk diberangkatkan ke masing-masing petilasan.
Lokasi-lokasi petilasan untuk upacara Labuhan diantaranya Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Khayangan.
Terkait adanya pandemi COVID-19, pelaksanaan seluruh rangkaian acara digelar dengan pembatasan, baik personel maupun tata cara pelaksanaan. Acara juga digelar secara tertutup atau tidak membuka akses untuk umum.
Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Parwabudaya, GKR Mangkubumi, menuturkan bahwa meski terdapat penyesuaian pada prosesi, makna dan esensi dari upacara tersebut tidaklah hilang.
Menurut GKR Mangkubumi sebagainana dilansir dari kratonjogja.id, Upacara adat yang telah berjalan ratusan tahun lamanya, akan tetap berjalan sebagaimana mestinya walaupun dengan penyesuaian. Adanya kebijakan ini merupakan wujud konsistensi Keraton Yogyakarta melaksanakan tradisi dalam situasi apa pun.
“Seperti halnya pelaksanaan peringatan Tingalan Jumenengan Dalem tahun lalu, saat itu pandemi sudah ada. Pada saat itu, pelaksanaan Labuhan Lawu yang biasanya dilaksanakan sampai Hargo Dalem, disesuaikan hanya sampai di Cemoro Kandang. Meski demikian, ubarampe yang disiapkan beserta prosesinya tetaplah sama. Tahun ini, berbagai penyesuaian tetap dilakukan. Acara di luar Hajad Dalem seperti pameran dan simposium juga akan disesuaikan,” terang Gusti Mangku, sapaan akrab beliau.
GKR Mangkubumi selanjutnya menambahkan bahwa peringatan Tingalan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X dimaknai tak hanya sebagai pertambahan periode kekuasaan saja, melainkan juga sebagai penanda bahwa zaman telah banyak berubah.
Menurut GKR Mangkubumi, pada kepimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X, keraton senantiasa berupaya untuk dapat relevan dengan perkembangan zaman.
“Teknologi berkembang, dan keraton menggunakannya untuk siar budaya yang lebih luas. Kekayaan budaya keraton baik benda maupun tak benda didokumentasikan agar masyarakat bisa mengenal, mempelajari, kemudian ikut menjaga. Hal-hal ini tentu membutuhkan dukungan dari siapa pun, termasuk tenaga Abdi Dalem yang memiliki keahlian namun tetap menjunjung tinggi adat dan budi pekerti,” jelas Gusti Mangku.
Selain itu, Gusti Mangku berharap, dengan semakin bertambahnya periode takhta Ngarsa Dalem, semakin banyak berkah yang terlimpah untuk Keraton Yogyakarta.
“Sebagai seorang pemimpin, tentu kami semua berharap Ngarsa Dalem selalu dilimpahi kesehatan agar selalu bisa menjadi sosok yang Hamengku (melindungi), Hamangku (mengutamakan kepentingan rakyat, lebih banyak memberi daripada menerima), dan Hamengkoni (menguatkan)."
- Fakta Menarik Mukjizat Nabi Muhammad saat Isra Mi'raj
- Serangan Umum 1 Maret dan Alasan Perlu Diperingati Setiap Tahun
- Serangan Umum 1 Maret Ingatkan Sosok Letnan Komarudin, Pejuang ‘Nyentrik’ dan Kebal Peluru
"Semoga berkah juga selalu mengiringi Ngarsa Dalem dalam memimpin keraton, keluarga, dan masyarakat Yogyakarta dengan segala dinamikanya,” harap Gusti Mangku. (*)
