Budaya

Harmoni Nyadran di Makam Sudagaran, Misa Arwah dan Tahlil dalam Satu Tradisi

  • Meski identik dengan doa dan tahlil untuk leluhur yang dilaksanakan sebelum bulan Ramadan, rangkaian Nyadran di Makam Sudagaran juga ditandai dengan Misa Arwah yang diikuti oleh umat Katolik.
Budaya
Tyo S

Tyo S

Author

Bantul – Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini tercipta dari akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nyadran digelar di bulan Sya’ban atau Ruwah untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal. 

Pelaksanaan Nyadran umumnya ditandai dengan sejumlah prosesi, diantaranya besik atau membersihkan makam leluhur secara gotong royong. Doa untuk leluhur ditandai dengan kenduri, yang biasanya dilanjutkan dengan kembul bujono atau prosesi makan bersama.

Namun pelaksanaan Nyadran di Makam Sudagaran, Pundung, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu, 23 Februari 2025 berbeda dari tempat lain. Meski identik dengan doa dan tahlil untuk leluhur yang dilaksanakan sebelum bulan Ramadan, rangkaian Nyadran di Makam Sudagaran juga ditandai dengan Misa Arwah yang diikuti oleh umat Katolik.

Misa Arwah yang dipimpin oleh Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. dimulai pukul 10.00 WIB. Misa untuk mendoakan para leluhur ini oleh sekitar 100 umat Katolik dari Lingkungan Yustinus dan Antonius, Wilayah Mater Dei, Imogiri maupun umat dari luar lingkungan tersebut yang memiliki leluhur di Makam Sudagaran.

Dalam homili Misa Arwah, Rm. Merdi mengapresiasi adanya misa untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia. Menurut Rm. Merdi, Misa Arwah adalah wujud kasih dan doa kita bagi para leluhur yang telah berpulang, sebagai ungkapan syukur atas hidup dan teladan yang mereka wariskan. 

“Dalam kebersamaan iman, kita memohonkan rahmat dan belas kasih Tuhan, agar jiwa-jiwa mereka diterima dalam kedamaian abadi. Melalui doa, nyanyian, dan perayaan Ekaristi, kita menghidupkan kembali kenangan indah serta meneguhkan harapan akan janji kebangkitan. Semoga terang Kristus senantiasa menyinari perjalanan mereka menuju kehidupan kekal, dan cinta mereka tetap hadir dalam hati kita selamanya,” ungkap Rm. Merdi.

Ketua Lingkungan Yustinus, Yustina Ari Kusdarwanti menjelaskan Nyadran di Makam Sudagaran dalam bentuk Misa Arwah ini sudah rutin dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu. Kegiatan ini sempat terhenti saat terjadinya pandemi Covid-19, namun kembali dilanjutkan sejak 2022 lalu.

“Misa Arwah pada momentum Nyadran ini merupakan bentuk doa bagi saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia. Tidak hanya untuk para leluhur di Makam Sudagaran, umat juga boleh menyampaikan ujud doa untuk leluhur maupun saudara yang sudah meninggal dunia dan dimakamkan di makam lain,” terangnya.

Pada kesempatan ini, umat juga membawa bunga tabur yang diberkati oleh Rm. Merdi di akhir Misa Arwah. Seusai Misa Arwah, umat melakukan tabur bunga ke makam leluhur mereka di Makam Sudagaran.

Di sesi kedua, Nyadran dilanjutkan dengan doa tahlil oleh warga yang beragama Islam. Seperti pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, pada Nyadran di Makam Sudagaran kali ini juga terdapat buwuh. Para ahli waris yang memiliki leluhur di Makam Sudagaran bisa membeli tiket dengan dana sukarela. Tiket dapat ditukarkan dengan nasi berkat untuk dibawa pulang. (*)