
Hingga Juni 2022, KTT G20 Targetkan Vaksinasi Mencapai 70 Persen
- Para pemimpin negara pesertaKTT G20 Roma sepakat mempercepat target vaksinasi global. Ditargetkan, vaksinasi dapat mencapai 70% pada pertengahan 2022.
Home
JAKARTA -- Para pemimpin negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Roma sepakat mempercepat target vaksinasi global. Ditargetkan, vaksinasi dapat mencapai 70% pada pertengahan 2022.
Kesepakatan tersebut tercapai dalam sebuah pertemuan tingkat Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 yang digelar pada Jumat, 29 Oktober 2021, sebagai rangkaian KTT G20 yang digelar pada 30-31 Oktober 2021.
Dalam pertemuan itu, para menteri tidak dapat mencapai kesepakatan tentang fasilitas pembiayaan terpisah yang diusulkan oleh Amerika Serikat dan Indonesia.
Namun mereka mengatakan gugus tugas akan mengeksplorasi opsi untuk memobilisasi dana untuk meningkatkan kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons (PRR) pandemi.
- Ini Link Nonton Drakor dan Film Korea yang Wajib Ditonton Saat Halloween, Gratis dan Legal!
- Inilah Trik Supermarket agar Anda Berbelanja Lebih Banyak
- Fasilitas Kesehatan Nekat Tidak Menerapkan Tarif Baru RT-PCR, Sanksi Tegas Ini Menanti
"Untuk membantu kemajuan menuju tujuan global memvaksinasi setidaknya 40 persen populasi di semua negara pada akhir 2021 dan 70 persen pada pertengahan 2022, kami akan mengambil langkah-langkah untuk membantu meningkatkan pasokan vaksin dan produk dan menghilangkan kendala pasokan dan pembiayaan yang relevan," kata para menteri dikutip dari Euronews.com.
Untuk mencapai target tersebut, para menteri mengatakan akan membentuk gugus tugas atau task force yang "bertujuan untuk meningkatkan dialog dan kerja sama global mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi."
Selain itu, juga untuk "mempromosikan pertukaran pengalaman dan praktik terbaik, mengembangkan pengaturan koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Kesehatan, mempromosikan aksi kolektif , menilai dan menangani keadaan darurat kesehatan dengan dampak lintas batas dan mendorong pengelolaan sumber daya yang efektif."
Para menteri mengatakan mereka membentuk badan baru karena pandemi COVID-19 telah memperlihatkan kekurangan signifikan untuk melakukan koordinasi terkait penanganan.
Mereka berjanji untuk mendukung "semua upaya kolaboratif" untuk menyediakan akses ke vaksin, terapi, diagnostik, dan alat pelindung diri yang aman, terjangkau, berkualitas dan efektif, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah."
Untuk mencapai tujuan vaksinasi, mereka mengatakan mereka akan bekerja untuk meningkatkan pasokan vaksin dan produk medis penting dan masukan di negara-negara berkembang, sementara menghilangkan kendala pada pasokan dan pembiayaan, tetapi tidak memberikan rincian spesifik.
Global Citizen, sebuah kelompok advokasi internasional, menyambut baik target yang lebih awal, tetapi mengatakan dunia membutuhkan "rencana pertempuran" yang memetakan bagaimana cara-cara mencapai target.
- Garuda Negosiasi Utang Sewa Pesawat Biar Tak Bangkrut, BUMN Pasang Badan
- Biaya Transfer Antarbank Turun Jadi Rp2.500 Mulai Desember 2021
- Impor Listrik PLTS ke Singapura, Medco Gandeng Grup Salim
Wakil Presiden Global Citizen Friederike Roder mengatakan transparansi yang lebih besar berapa banyak dosis yang diproduksi di mana, kapan dan untuk siapa, dan kejelasan merupakan hal-hal yang harus diperhatikan.
"Ini bukan lagi waktunya untuk pernyataan niat. Sekarang saatnya bagi para pemimpin kita untuk bertindak," katanya.
Bahas Transfer Teknologi mRNA
Dalam pertemuan pekan lalu, para menteri juga menyerukan untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan melalui pusat transfer teknologi sukarela, seperti Hub mRNA yang baru didirikan di Afrika Selatan, Argentina dan Brasil, dan melalui perjanjian produksi dan pemrosesan bersama.
Kesepakatan untuk transfer teknologi ini berarti bahwa pembicaraan tentang gagasan pengabaian sementara hak kekayaan intelektual pada vaksin dan terapi COVID-19 tetap macet di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Rencana transfer teknologi tersebut awalnya diusulkan oleh Afrika Selatan dan India dan sekarang diperjuangkan oleh Amerika Serikat.
Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz mengatakan G20 belum membahas paten yang terkait dengan rencana transfer teknologi itu.
"Kami memiliki banyak vaksin yang tersedia di seluruh dunia tetapi kenyataannya masih ada daerah di dunia di mana pangsa dari mereka yang divaksinasi sangat rendah," kata Scholz kepada wartawan di sela-sela KTT G20.*
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Daniel Deha pada 01 Nov 2021
