
Jerapah Punya Leher Panjang Cara Memikat Betina dan Seleksi Seksual?
- YOGYA, Jogjaaja.com - Bagaimana jerapah mendapatkan leher panjangnya?Pertanyaan ini terus menjadi teka-teki, mengingat dibanding mamalia sejenis yang lain, bisa
News
YOGYA, Jogjaaja.com - Bagaimana jerapah mendapatkan leher panjangnya?
Pertanyaan ini terus menjadi teka-teki, mengingat dibanding mamalia sejenis yang lain, bisa dibilang tubuh jerapah adalah yang paling ‘unik’.
Sejak lama studi mengenai leher panjang jerapah telah menarik minat banyak peneliti. Hal itu mengingat bahwa leher yang terlalu panjang justru akan menyebabkan kesulitan bagi jerapah itu sendiri.
“Ini mungkin sangat cocok [untuk jerapah mencari makan], tapi itu menjadi risiko yang lebih besar baginya,” kata Rob Simons, ahli ekologi dari University of Cape Town, seperti dikutip dari Nature, Sabtu (4/6/2022).Makna 5 Lambang Sila dalam Pancasila sebagai Dasar Negara yang Wajib Diketahui
- Siapa Masih Ingat? Inilah Butir-Butir Pancasila Selengkapnya
- Jarang Diketahui, Ternyata I Gusti Bagus Sugriwa Pencetus Istilah Pancasila
Sebenarnya, jantung jerapah perlu memompa darah dua meter ke atas kepala. Ini tentu membutuhkan tekanan darah yang tinggi pula, serta manajemen yang baik untuk menghindari pingsan dan stroke. Maka dari itu, cukup mengherankan mengapa jerapah akhirnya ‘memilih’ memanjangkan lehernya.
Salah satu teori yang paling banyak dipercaya adalah evolusi. Yang mana, panjangnya leher jerapah adalah untuk mencapai makanan di pohon-pohon yang tinggi.
“Ini dipercaya secara luas dan itu benar-benar mengakar, ”kata Simmons mengamini.
Meskipun terdengar masuk akal, kata Simons, tetapi ini tidak sesederhana yang dipikirkan. Faktanya, banyak penelitian justru menunjukkan jerapah cenderung mengonsumsi makanan di tempat-tempat yang rendah.
Lantas, sebenarnya apa yang membuat leher jerapah menjadi panjang?
Baru-baru ini, sejumlah peneliti menemukan fosil spesies jerapah yang hidup jutaan lalu di China. Oleh peneliti, spesies ini dinamai ‘Discokeryx xiezhi’ (D.xiezhi), binantang mitologi China yang mirip Unicorn. Ia diperkirakan telah hidup di Miosen, sekitar 16,9 juta tahun yang lalu.
Penemuan tengkorak dengan empat tulang belakang, yang disebut mirip binatang mitologi Unicorn ini, diklaim dapat menjawab teka-teki.
Melalui sebuah penelitian yang terbit di jurnal Science pada 2 Juni 2022 lalu, Shi-Qi Wang, ahli paleontologi asal Chinese Academy of Sciences Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology menjelaskan temuannya.
Bersama timnya, selama hampir dua dekade Wang menemukan lebih dari 77 fosil, termasuk kerangka tengkorak dan gigi dari spesies D.xiezhi yang disebut masih kerabat dekat dengan jerapah.
Studi anatomi komparatif osteologis (membandingkan tulang rangka) menujukkan, bahwa struktur tulang kepala dan leher hewan itu sangat sesuai untuk membantu melakukan pertarungan antara pejantan.
Tujuan pertarungan ini biasanya untuk bersaing memikat calon pasangan mereka.
“Leher panjang itu kemungkinan besar menunjukkan pertempuran seksual yang intensif antarpejantan dalam evolusi jerapah,” tulis Wang dalam penelitiannya.
“Leher panjang sekaligus menjadi keuntungan bagi jerapah dalam melawan binatang-binatang bertanduk lain di zamannya,” lanjutnya.
‘Necking’, atau strategi pertempuran menggunakan leher, menurut peneliti semakin sering dipakai seiring berkembangnya gaya bertarung mereka.
“Persaingan-persaingan seksual yang intensif ini terus mendorong morfologi yang ekstrem, dan menjawab ceruk [teka-teki leher panjang] pada kasus jerapah,” pungkasnya.
Melalui temuan itu, Rob Simmons berpendapat bahwa seleksi seksual memiliki peran yang kuat dalam bentuk leher leluhur jerapah, yang bisa jadi menjawab teka-teki pada jerapah modern.
Penelitian ini sekaligus membuka kemungkinan dibukanya kembali perdebatan teori ‘neck for sex’—gagasan bahwa jerapah ber-evolusi dengan leher yang lebih panjang untuk kompetisi seksual—yang masih menjadi pro-kontra.
“Makalah ini akan membuka mata orang bahwa kita harus menganggap serius teori seleksi seksual ini,” kata Simmons. (Eff)
