
LKS SMK Robotic Welding 2026 Diikuti 14 Sekolah dari 11 Provinsi
- LKS SMK Robotic Welding 2026 diikuti 14 sekolah dari 11 provinsi untuk mengasah kompetensi pemrograman robot industri dan keterampilan siswa SMK.
Edukasi
CIKARANG – Sebanyak 14 sekolah menengah kejuruan (SMK) dari 11 provinsi mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Robotic Welding 2026 yang diselenggarakan PT Unggul Semesta bersama PT OTC Daihen Indonesia pada 26–28 Oktober 2026 di Kawasan Industri Delta Silicon 1, Cikarang.
Memasuki penyelenggaraan ketiga, kompetisi ini menjadi wadah bagi siswa SMK untuk mengasah keterampilan pemrograman robot las sekaligus mengenal standar kompetensi yang dibutuhkan industri manufaktur. Para peserta ditantang menunjukkan kemampuan teknis serta menerapkan sikap kerja sesuai dengan standar dunia industri.
Ke-14 sekolah peserta berasal dari Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Banten, Lampung, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Pembukaan kompetisi dihadiri jajaran direksi PT Unggul Semesta, yakni Yunus Kurniawan, Mellisa Christine, dan Andree Christian, serta Presiden Direktur PT OTC Daihen Indonesia, Seiji Ichikawa.
Hadir pula Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Dr. Adrianus Patiung, S.E., M.M., yang mewakili pemerintah, serta Direktur Lembaga Sertifikasi dan Profesi Elektronika Indonesia, Dra. Aviana Tjokro, dari unsur lembaga profesional.
Adrianus Patiung menilai penguasaan teknologi robot industri menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dipersiapkan melalui pendidikan vokasi. Perkembangan teknologi manufaktur menuntut lulusan SMK memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
"Penguasaan kompetensi pemrograman robot industri menjadi salah satu keterampilan yang perlu dipersiapkan oleh peserta didik SMK. Perkembangan teknologi manufaktur menuntut lulusan yang mampu beradaptasi dengan penggunaan teknologi di lingkungan industri," ujar Adrianus.
Ia menambahkan, keselarasan antara materi pembelajaran di sekolah dan kebutuhan industri perlu terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri penting untuk memastikan keterampilan yang dipelajari siswa relevan dengan kebutuhan lapangan. Kompetisi seperti LKS Robotic Welding juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengukur kemampuan dan menerapkan kompetensi yang telah dipelajari," tambahnya.
Perkuat Kompetensi Robot Industri melalui Pendidikan Vokasi
LKS SMK Robotic Welding merupakan bagian dari program edukasi vokasi yang dijalankan PT Unggul Semesta bersama PT OTC Daihen Indonesia sejak 2019. Program ini dikembangkan untuk membantu mengatasi kesenjangan keterampilan atau skill gap, khususnya dalam penguasaan pemrograman robot industri.
Hingga awal Oktober 2026, kedua perusahaan telah menyelenggarakan 226 batch pelatihan dengan jumlah peserta sekitar 1.400 orang. Pesertanya berasal dari berbagai SMK dan perguruan tinggi di Indonesia.
Dalam kompetisi tahun ini, setiap peserta diberikan waktu maksimal 1,5 jam untuk menyelesaikan proses pemrograman robot las. Penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil pengelasan, tetapi juga mencakup keseluruhan proses pengerjaan dari awal hingga akhir.
Aspek yang dinilai meliputi keterampilan teknis dan sikap kerja peserta. Kedua aspek tersebut dinilai penting karena berkaitan langsung dengan penerapan teknologi robot industri di lingkungan manufaktur.
Penguasaan kompetensi robotic welding juga mendukung kebutuhan industri dalam meningkatkan efisiensi proses dan waktu produksi, mengendalikan biaya, mengurangi produk cacat, menjaga konsistensi kualitas, serta memperhatikan keselamatan kerja.
SMK Tunas Harapan Pati Raih Juara Pertama
Setelah melalui rangkaian penilaian, Meylano Alan Arizona Prayuda dari SMK Tunas Harapan Pati, Jawa Tengah, berhasil meraih juara pertama LKS SMK Robotic Welding 2026.
Posisi juara kedua diraih Gallih Kusuma Wardhana dari SMKN 68 Jakarta, sedangkan juara ketiga ditempati Aviz Rifqul Fata dari SMK NU Ma’arif Kudus, Jawa Tengah.
Penyelenggaraan kompetisi ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk mengukur kemampuan siswa, tetapi juga memberikan pengalaman praktik dalam mengoperasikan dan memprogram robot industri.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan semakin siap menghadapi perkembangan teknologi manufaktur sekaligus memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. (*)
