Jogja

Makna Tirakatan Bagi Masyarakat Yogya Saat Malam HUT Kemerdekaan RI

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Selain menggelar sejumlah lomba, masyarakat Jogja biasanya juga melakukan tirakatan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Selain menggelar sejumlah lomba, masyarakat Jogja biasanya juga melakukan tirakatan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang jatuh tiap tanggal 17 Agustus.

Tirakatan, memang menjadi  tradisi rutin yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekan RI.  

Biasanya, tradisi ini dilakukan di malam tanggal 16 Agustus, yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB atau ba’da Isyak, dan dihadiri para petinggi dan tokoh daerah setempat.

Di Jogja, baik yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan, biasanya rutin mengadakan tradisi ini. Kendati dalam dua tahun terakhir Sri Sultan HB X menginstruksikan untuk tirakatan ‘di rumah aja’ dikarenakan pandemi Covid-19, tahun ini kemungkinan tirakatan sudah bisa dilakukan secara massal lagi.

Lantas, apa makan tirakatan yang jadi tradisi jelang peringatan HUT RI ini?

Zunly Nadia, dalam penelitiannya pada 2006 lalu menjelaskan, tirakatan sebenarnya berangkat dari tradisi islam tradisional.

Tradisi ini merupakan silang-kebudayaan antara Islam dan kepercayaan tradisional pendahulu, seperti kejawen.

Maka dari itu, dalam tirakatan sendiri, biasanya dijumpai ritual kumpul-kumpul, berdoa bersama yang dipimpin tetua atau pimpinan agama, dan terdapat sesaji. Namun, belakangan ‘sesaji’ ini diganti dengan nasi dan lauk pauk pada umumnya.

Nadia juga menggarisbawahi, bahwa elemen terpenting dari tirakatan ini lebih ke doa yang dipanjatkan bersama-sama sebagai manifestasi dari harapan orang-orang yang berkumpul dalam acara ini.

Di Jogja, dalam kaitannya dengan peringatan HUT RI, tirakatan menjadi tradisi rutin tak lepas dari pengaruh kraton. Tradisi yang awalnya dilakukan warga dalam skala kecil dari kampung ke kampung, menjadi tradisi khusus setelah kraton juga mulai menyelenggarakannya.

Menurut Nadia, ada tiga aspek yang harus dilihat untuk memaknai tradisi tirakatan ini, yakni modernitas, agama, dan budaya nenek moyang.

Dalam kaitannya dengan modernitas, menurut Nadia, tirakatan mengalami pembaharuan dari bentuk awalnya yang semula upacara persembahan kepada leluhur menjadi ‘persembahan’ ke hal yang sifatnya non-spiritual. Contohnya, adalah tirakatan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang diperoleh Indonesia.

Sementara dalam aspek agama, tirakatan dapat dilihat sebagai doa. Ia dipanjatkan sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan, karena telah memberikan anugrah bernama ‘kemerdekaan’ kepada Indonesia.

Sedangkan dalam kerangka budaya nenek moyang, Nadia melihat bahwa tirakatan adalah manifestasi dari bagaimana masyarakat harus terus merawat dan melestarikan setiap budaya nenek moyang terdahulu. Salah satunya tradisi ini.

Sri Sultan HB X, dalam sambutannya di acara tirakatan kraton Jogja 2016 lalu, mengungkapkan bahwa tirakatan punya makna sebagai perenungan spiritual agar setiap warga Indonesia dapat menunaikan cita-cita kemerdekaan.

“Merenung sesungguhnya adalah upaya mengakrabi lingkungan yang selalu berubah, memahami potensi diri, mengukur tantangan dan hambatan untuk mencari solusi pemecah masalah agar tak terseret oleh pusaran zaman yang berubah cepat,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara.

Menurut Sultan, fakta sejarah perjuangan kemerdekaan di masa lalu, memang harus direnungkan secara mendalam. Karena memang pada hari ini masih banyak warga yang merayakan HUT RI hanya sebatas formalitas, tanpa mengena ke tujuan kemerdekaan republik ini.

 

“Oleh karena itu alangkah naifnya jika pengorbanan mencapai kemerdekaan dinodai dengan perilaku tak terpuji seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan penegakan keadilan yang tidak didapat orang kecil,” tegas Sultan di depan sekitar 500 hadirin dari berbagai elemen, seperti Forkom Pimpinan DIY, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), pejabat eselon III dan IV di lingkungan Pemda DIY, dan sebagainya. (Eff)