
Masih Andalkan Rudal Balistik, Kemana Angkatan Udara Rusia?
- Seperti yang diprediksi sebelumnya serangan akan dibuka dengan gempuran rudal jelajah dan balistik untuk menghancurkan radar peringatan dini berbasis darat di seluruh Ukraina.
News
JAKARTA-Invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 dini hari. Seperti yang diprediksi sebelumnya serangan akan dibuka dengan gempuran rudal jelajah dan balistik untuk menghancurkan radar peringatan dini berbasis darat di seluruh Ukraina.
Hasilnya adalah secara efektif membutakan Angkatan Udara Ukraina dan dalam beberapa kasus juga menghalangi pergerakan pesawat.
Serangan juga menghantam beberapa baterai rudal permukaan-ke-udara S-300P Ukraina yang memiliki mobilitas terbatas karena kekurangan suku cadang dalam jangka panjang.
Sejujurnya serangan awal ini mengikuti pola yang terlihat di banyak intervensi pimpinan Amerika sejak akhir Perang Dingin.
- Kominfo Harap Sinergi dan Keterlibatan Masyarakat Sukseskan Agenda Presidensi G20
- Enam Makna Dibalik Hari Raya Nyepi yang Diyakini Umat Hindu
- Tim Kemenag RI Mengecek Kesiapan Penyelenggaraan Haji 2022
- Empat Hal ini Tidak Boleh Dilakukan Saat Hari Raya Nyepi
Langkah selanjutnya yang logis dan diperkirakan secara luas, seperti yang terlihat di hampir setiap konflik militer sejak 1938, adalah agar Angkatan Udara Rusia segera melakukan operasi serangan skala besar untuk menghancurkan Angkatan Udara Ukraina.
Dengan rantai peringatan dini yang dibutakan dan beberapa landasan pacu rusak, Angkatan Udara Ukraina akan rentan terhadap serangan oleh pesawat serang seperti Su-34 dengan amunisi berpemandu, atau bahkan pesawat tempur Su-30 multiperan dengan amunisi yang sebagian besar tidak terarah.
Sebagaimana dikutip dari laman resmi TrenAsia.com jaringan media Jogjaaja.com, Jika hadir dalam jumlah yang signifikan, pengawalan oleh pesawat tempur Su-35 dan Su-30 akan membuat jet tempur Ukraina kewalahan. Bahkan jika mereka berhasil lepas landas mereka akan memilki kesadaran situasional yang terbatas. Tetapi ini tidak terjadi.
Justin Bronk dari lembaga pemikir Royal United Services Institute (RUSI) di London dalam tulisannya menyebut serangan udara besar-besaran akan menjadi langkah selanjutnya yang logis dan diperkirakan secara luas. Sebuah cara yang terlihat di hampir setiap konflik militer sejak 1938.
Sebaliknya, sekitar 300 pesawat tempur modern yang ditempatkan Rusia dalam jangkauan yang mudah dari zona kontak utama di utara, timur dan selatan Ukraina tampaknya sebagian besar tetap di darat, Bahkan hingga setidaknya hari keenam perang.
Hal ini memungkinkan Angkatan Udara Ukraina justru bisa terus menerbangkan serangan udara tingkat rendah dan serangan darat. Dan ini tampaknya memiliki beberapa keberhasilan dalam mencegat helikopter serang Rusia.
Kurangnya pesawat tempur sayap tetap Rusia memungkinkan pasukan Ukraina dengan MANPADS seperti rudal Stinger buatan Amerika untuk menyerang helikopter tempur dan transportasi Rusia dengan risiko pembalasan yang jauh lebih kecil.
Koordinasi buruk
Selain itu hampir tidak adanya serangan udara ofensif Rusia telah digabungkan dengan koordinasi yang sangat buruk antara pergerakan pasukan darat Rusia dan sistem pertahanan udara jarak menengah dan pendek mereka sendiri.
Beberapa kolom pasukan Rusia telah dikirim ke depan di luar jangkauan pertahanan udara mereka sendiri. Hal ini memungkinkan drone bersenjata Bayraktar TB-2 Ukraina yang masih hidup untuk beroperasi dengan efektivitas yang cukup besar di beberapa daerah. Secara jelas terlihat Bayraktar TB2 baru muncul di sekitar hari ketiga perang setelah diyakini mereka aman untuk terbang. Mereka mampu menimbulkan kerugian yang signifikan pada kolom kendaraan Rusia.
Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan Rusia untuk mencapai dan mengeksploitasi superioritas udara. Terlepas dari keunggulan besar mereka dalam jumlah pesawat, kemampuan peralatan, dan pendukung seperti pesawat komando udara dibandingkan dengan Angkatan Udadra Ukraina.
Yang pertama adalah jumlah terbatas dari amunisi presisi dipandu yang tersedia untuk Angkatan Udara Rusia. Selama operasi tempur di Suriah, hanya armada Su-34 yang secara teratur menggunakan senjata presisi. Dan bahkan pesawat serang spesialis ini secara teratur menggunakan serangan bom dan roket yang tidak terarah.
Ini menunjukkan persediaan presisi dipandu Angkatan Udara Rusia cukup terbatas. Operasi tempur selama bertahun-tahun di Suriah akan semakin menguras persediaan itu dan mungkin berarti bahwa sebagian besar dari 300 pesawat tempur sayap tetap Rusia yang berkumpul di sekitar Ukraina hanya memiliki bom dan senjata tak terarah.
Rob Lee, seorang spesialis militer Rusia di Institut Penelitian Kebijakan Luar Negeri menyebut banyak hal yang Rusia lakukan cukup membingungkan.
Dia pikir awal perang akan menjadi penggunaan kekuatan maksimum. Karena setiap hari berjalan, biaya dan risikonya naik. “Dan mereka tidak melakukan itu dan itu sangat sulit untuk dijelaskan karena alasan yang realistis.” Katanya.
Pakar militer telah melihat bukti kurangnya koordinasi angkatan udara Rusia dengan formasi pasukan darat. Salah satunya dengan beberapa kolom pasukan Rusia dikirim ke depan di luar jangkauan pertahanan udara mereka sendiri.
David Deptula, pensiunan jenderal bintang tiga Angkatan Udara Amerika yang pernah memimpin zona larangan terbang di Irak utara mengatakan dia terkejut Rusia tidak bekerja lebih keras untuk membangun dominasi udara sejak awal.
Kepada Reuters dia mengatakan Rusia menemukan bahwa mengoordinasikan operasi multi-domain tidak mudah. Dan bahwa mereka tidak sebaik yang mereka duga.
Sementara Rusia berkinerja buruk, militer Ukraina di sisi lain sejauh ini justru melebihi harapan.
Para ahli menilai kemampuan Ukraina untuk terus menerbangkan pesawatnya termasuk drone adalah demonstrasi nyata dari ketahanan negara dalam menghadapi serangan dan telah menjadi pendorong moral. Baik untuk militernya sendiri dan rakyat Ukraina.
Kondisi ini yang telah menyebabkan mitos angkatan udara Ukraina, termasuk kisah tentang jet tempur Ukraina yang konon seorang diri menjatuhkan enam pesawat Rusia dan dijuluki "The Ghost of Kyiv".
Pemeriksaan menunjukkan bagaimana klip dari videogame Digital Combat Simulator telah digunakan untuk mengklaim sebagai jet tempur Ukraina yang menembak jatuh pesawat Rusia.
- Miliki Produk Unggulan, UMKM Kalimantan Disebut Potensial Tembus Pasar Jepang
- Lewat Penanaman 1000 Pohon, UAD Dorong Dusun Terong Jadi Desa Wisata Berbasis Agrowisata
- Fakta Menarik Mukjizat Nabi Muhammad saat Isra Mi'raj
Lantas apa kira-kira yang akan terjadi selanjutnya? Bentuk serangan udara tanpa pandang bulu adalah praktik yang banyak dilakukan Angkatan Udara Rusia di Suriah. Dan sayangnya kemungkinan cara ini akan digunakan Rusia atas Ukraina dalam beberapa hari mendatang.
