Sleman

Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Masjid Tua dengan Banyak Keunikan

  • YOGYAKARTA selain kaya dengan tradisi dan tatanan adatnya juga memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih dijaga kelestariannya sampai saat ini.Salah satu c
Sleman
Ties

Ties

Author

YOGYAKARTA selain kaya dengan tradisi dan tatanan adatnya juga memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih dijaga kelestariannya sampai saat ini.

Salah satu contoh bangunan cagar budaya yang masih dijaga dan difungsikan hingga saat ini ialah Masjid Pathok Negoro Plosokuning atau Masjid Sulthani Plasakuning.


Berlokasi di Jl. Plosokuning Raya 99, Minomartani, Ngaglik, Sleman, pada awalnya masjid ini didirikan untuk menjadi benteng spiritual Kraton Yogyakarta. Menurut literatur yang ada di perpustakaan kraton, Masjid Pathok Negoro Plosokuning merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Yogyakarta dengan usia hampir mendekati tiga abad.


Mengutip dari berbagai sumber, Masjid Pathok Negoro didirikan pada tahun 1724 di atas tanah Kraton dengan luas tanah 2.500 m2 dan luas bangunan 288 m2, pada awal pembangunan. Pembangunannya dilakukan setelah Masjid Gedhe Kauman didirikan. Oleh sebab itu, bentuk masjid tersebut memiliki kemiripan dengan Masjid Gedhe Kauman sebagai salah satu usaha legitimasi masjid Kasultanan Yogyakarta.

Sejarah pemberian nama “Plosokuning” sendiri diambil secara spontan. Namanya diambil dari sebuah pohon bernama Pohon Ploso yang dulu terletak tak jauh dari masjid. Banyaknya daun pohon yang berwarna kuning menjadi inspirasi dari nama masjid itu, maka kemudian diberilah nama “Plosokuning”.

Selain itu, pemberian nama “Pathok Negoro” dikarenakan imam-imam yang diberi wewenang menjaga masjid pada waktu itu juga mempunyai tugas penting sebagai penasihat kerajaan. Oleh karena itu, waktu itu orang Jawa menyebut mereka sebagai “Pathok Negoro”.

Sebagai salah satu Masjid Pathok Negoro, di masjid Plasakuning juga ditempatkan abdi dalem kemasjidan, yang menjalankan tugas di masjid Plasakuning dengan fungsi masing-masing seperti, khatib, muadzin, jajar jamaah, jajar ulu-ulu (penghulu) dan jajar marbot. Kesemua fungsi tersebut diemban oleh abdi dalem bergelar Raden.

Masjid ini memiliki beberapa peninggalan, seperti peninggalan sebuah sumur tua yang dulunya menjadi pesanggrahan Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I. Letak sumur itu berada di sebelah selatan masjid.
 

Masjid Pathok Negara mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yaitu terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Akan tetapi, perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa Masjid Pathok Negara lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga.

Ciri-ciri lain dari kekhasan Masjid Pathok Negara ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid. Keaslian Masjid Pathok Negara Plasakuning dapat terlihat pada bagian atap, di mana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang sampai sekarang masih digunakan di puncak atap masjid.

Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga Kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi Kraton yang lestari hingga sekarang.

Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi Muhammad SAW dengan membaca dan memahami hadits-hadits yang terdapat dalam Sahih Bukhari. (Mg-01)