Poniman, pemilik usaha Warung Mangut Lele Mbah Marto berada di dapur untuk melayani para pembeli, Jumat (19/11/2021).
Budaya

Padukan Konsep Tradisional dan Digitalisasi, Cara Warung Mangut Lele Mbah Marto Bangkit dari Pandemi

  • Cuaca Jumat pagi (19/11/2021) cukup cerah setelah malamnya diguyur hujan. Di salah satu rumah yang terletak di Jl. Sewon Indah RT 04, Dusun Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang nenek yang akrab dipanggil Mbah Marto tampak sibuk memisahkan cabai dari bagian tangkainya.
Budaya
Tyo S

Tyo S

Author

BANTUL, Jogjaaja.com – Cuaca Jumat pagi (19/11/2021) cukup cerah setelah malamnya diguyur hujan. Di salah satu rumah yang terletak di Jl. Sewon Indah RT 04, Dusun Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang nenek yang akrab dipanggil Mbah Marto tampak sibuk memisahkan cabai dari bagian tangkainya. 

Cabai-cabai yang sudah dipisahkan dari bagian tangkainya kemudian dimasukkan ke dalam tenggok (wadah yang terbuat dari anyaman bambu, berbentuk persegi pada bagian bawahnya dan lingkaran di bagian atasnya-red). Pagi itu, Mbah Marto mampu membersihkan belasan kilogram cabai. Kegiatan seperti itu rutin dilakukan Mbah Marto dengan penuh semangat setiap pagi.

Ia membersihkan cabai-cabai itu untuk digunakan sebagai salah satu bumbu mangut lele. Mbah Marto memang dikenal sebagai penjual mangut lele dengan pengasapan sejak 1980an. Tapi jauh sebelum menjual mangut lele, Mbah Marto sudah berjualan gudeg, opor tahu tempe, dan sayur krecek tempe sejak tahun 1969. 

“Saya mulai berjualan sejak tahun 1960an. Awalnya dulu saya jual berkeliling dengan berjalan kaki hingga ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Setiap hari saya berangkat siang hari dan pulang pada malam hari. Pada tahun 1980an saya juga menambahkan menu mangut lele dan tahun 1986 mulai berjualan di rumah,” kisah Marto. 

Kini usaha Warung Mangut Lele Mbah Marto diwariskan kepada anaknya yang bernama Poniman. Poniman mulai mengelola warung ini sejak tiga tahun silam. Mantan Kepala Cabang Bank Danamon Yogyakarta ini tetap mempertahankan keaslian dari Warung Mangut Lele Mbah Marto.

“Warung Mangut Lele Mbah Marto ini masih saya pertahankan seperti aslinya. Jadi pembeli kami ajak untuk mengambil sendiri nasi, mangut lele, gudeg, opor, krecek tempe, dan lain sebagainya di dapur. Sejak dulu, kami memasak di dapur ini. Jadi, suasana seperti inilah yang justru dicari para pembeli,” ujar Poniman.

Mangut Lele Mbah Marto merupakan salah satu kuliner legendaris di Yogyakarta dengan cita rasanya yang sangat nikmat. Bumbu mangut lele yang sangat kental dan meresap semakin bertambah lezat saat dipadukan dengan manisnya gudeg, gurihnya opor, dan pedasnya sayur krecek tempe. Harganya juga cukup terjangkau, hanya Rp25.000 per porsi.

Dengan kenikmatan yang sempurna itu, Warung Mangut Lele Mbah Marto dikenal luas hingga luar Yogyakarta. Bahkan warung ini juga menjadi langganan artis ibukota yang sedang berkunjung ke Yogyakarta. Banyak artis yang pernah singgah ke warung ini, seperti Atta Halilintar-Aurel Hermansyah, Ari Lasso, Surya Saputra, Enzy Storia, dan masih banyak lagi.

Strategi Warung Mangut Lele Mbah Marto di Masa Pandemi

Meski sudah dikenal luas, perjalanan usaha Warung Mangut Lele Mbah Marto ini tidak selamanya mulus. Menurut Poniman, pandemi COVID-19 menjadi pukulan telak bagi usahanya. 

“Di awal pandemi, warung ini sempat saya tutup selama dua bulan. Tentu saja pandemi memberikan dampak yang luar biasa. Tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi karyawan dan juga supplier bahan-bahan baku untuk mangut lele, sayur, dan lauk lainnya,” tutur pria 51 tahun ini.

Poniman kemudian memutar otak. Sebagai mantan bankir, ia mencoba untuk memaksimalkan pemasaran online. Salah satunya melalui melalui platform digital seperti GoFood.

“Pengaruh dari platform digital seperti GoFood ini ternyata sangat banyak sekali. Perlahan tapi pasti, penjualan kami tertolong dengan adanya GoFood. Banyak orang yang mendapatkan kemudahan. Mereka tidak perlu datang ke warung, tetapi cukup memesan mangut lele lewat aplikasi ini. Jadi adanya GoFood sangat bermanfaat bagi UMKM seperti kami,” katanya.

Dengan adanya layanan platform digital seperti GoFood, imbuh Poniman, Warung Mangut Lele Mbah Marto memadukan konsep tradisional dan digitalisasi. Konsep tradisional terlihat dari cara memasak, jenis masakan, hingga suasana dapur. Sementara digitalisasi tampak dari sisi pemasaran dengan memanfaatkan platform digital seperti GoFood dan metode pembayaran GoPay.

Langkah Poniman ini sejalan dengan Gerakan #BangkitBersama yang digaungkan GoTo dengan ekosistemnya Gojek, GoTo Financial, dan Tokopedia akhir September 2021 lalu. Gerakan ini merupakan komitmen GoTo untuk berkontribusi mendukung kebangkitan ekonomi Indonesia di masa pandemi COVID-19.

CEO Grup GoTo dan CEO GoTo Financial Andre Sulistyo mengatakan bangsa Indonesia telah melewati masa-masa susah, yakni puncak dari kasus COVID-19 beberapa bulan lalu. Dengan spirit kebangkitan, GoTo siap berkontribusi dalam pemulihan ekonomi melalui digitalisasi di berbagai daerah di Indonesia. 

“Digitalisasi adalah salah satu yang bisa memberikan peran penting. Dari digitalisasi, yang tadinya offline bisa dijembatani. Jadi peran GoTo adalah ingin berkontribusi lebih dengan mendorong produk inovatif melalui UMKM, bisa menjual produk ke konsumen, membantu operasional pembayaran maupun pengelolaan. Kami ingin memberikan peran untuk kebangkitan tersebut,” kata Andre Sulistyo. (*)