Bantul

Padukuhan Grojogan Tamanan Bantul adakan Sadranan Ageng

  • Bantul, Jogjaaja.com Sebanyak 200 warga Padukuhan Grojogan Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta, mengikuti Sadranan Ageng, Minggu 23 Februari 2025 pukul 07.30
Bantul
Leon

Leon

Author

Bantul, Jogjaaja.com Sebanyak 200 warga Padukuhan Grojogan Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta, mengikuti Sadranan Ageng, Minggu 23 Februari 2025 pukul 07.30 - 09.30.

Tujuan Sandranan Ageng sebagai bentuk penghormatan pada leluhur dengan mengirim doa. Nyandran merupakan ritual masyarakat Jawa yang diadakan pada bulan Ruwah dan Syaban dalam kalender Jawa dan Hijriyah. Mengirim doa pada leluhur sebelum memasuki bulan Ramadan

Kepala Dukuh Grojogan Roi Hermawan dalam sambutan mengatakan, Sandranan Ageng kegiatan yang diadakan lima tahun sekali.  Bertema mikul dhuwur mendhem jero.

Padukuhan Grojogan punya panca sasanalaya. Lima pemakaman. Yaitu Makam Mbah Banteng, Makam Nduwet, Makam Semboja, Makam Ndawung, dan Makam Lembah Wukir Pangeranan.

Acara yang dipandu budayawan Ratun Untoro yang juga warga Padukuhan Grojogan. Diawali pemaparan sejarah cikal bakal Padukuhan Grojogan oleh Ratun Untoro, pembacaan tembang Macapat oleh Murono, tahlilan dipimpin Mbah Kaum Kaswandi, makan bersama, dan doa. Diakhiri tabur bunga dan doa di masing-masing makam.

Menurut Ratun, leluhur Padukuhan Grojogan ada tiga: Eyang Truno, Eyang Kertosono, dan Mbah Banteng.

"Dalam perjalanan waktu, Eyang Truno dan Eyang Kertosono berseteru. Maka bila ada pewarisnya akan menikah, mengambil tanah di kuburan kedua leluhur itu, kemudian disatukan. Itu menggambarkan, keturunan dua leluhur tersebut telah bersatu, tidak bermusuhan," ujar Ratun yang sehari-hari Widyabasa Ahli Madya Balai Bahasa Yogyakarta.

Meski Sandranan Ageng diadakan tiap lima tahun sekali, warga Padukuhan Grojogan tetap mengadakan sadranan tiap tahunnya.

 

"Dilakukan di masing-masing makam. Tapi kalau Sadranan Ageng diadakan bersama seluruh warga. Setelah tahlil dan doa bersama, baru ke masing-masing makam," tambah Ratun. (*)