
Pelaku Seni Keprajuritan Digembleng Wawasan Kebangsaan dan Tata Nilai Budaya
- YOGYA, Jogjaaja.com - Keberadaan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakuakualaman merupakan cikal bakal kemunculan DIY bagian dari NKRI. Keduanya merupaka
Jogja
YOGYA, Jogjaaja.com - Keberadaan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakuakualaman merupakan cikal bakal kemunculan DIY bagian dari NKRI.
Keduanya merupakan sumber sejarah dan sumber nilai yang menjadi rujukan keberlangsungan Yogyakarta masa kini dan pada era mendatang.
Sebagai sumber sejarah Kasultanan dan Kadipaten adalah entitas monarki pertama yang mendukung eksistensi republik. Dukungan Kasultanan dan Pakualaman terhadap NKRI merupakan visi dan komitmen kebangsaan yang kedepan harus terus dipelihara.
Sebagai sumber nilai Kasultanan dan Kadipaten kaya berbagai warisan budaya tak benda (intangible) berupa filosofi, arsitektural, karya-karya satra termasuk didalamnya tata nilai budaya yang dapat dipakai sebagai acuan dalam menjawab tantangan zaman.
- Rampungkan Jalan Penghubung, PT KHE Optimis Pembangunan Konstruksi PLTA Kayan Cascade Dimulai 2023
- Semester I/2022, Laba Bersih Ultra Voucher Melonjak 192 Persen
- Penjualan Perdana POCO C40 #SiPalingSejutaan Ludes
- Satu Tambang dengan Milik Ratu Elizabeth, Berlian Pink ini Dibanderol Rp310 Miliar
Hal ini muncul dalam "Workshop Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Tata Nilai Budaya Bagi Pelaku Seni Keprajuritan Rakyat DIY" yang digelar Dinas Kebudayaan DIY bersama Sekber Keistimewaan DIY pada Selasa (12/9/2022) di Bangsal Kepatihan Pakualaman.
Workshop diikuti seratus peserta perwakilan kelompok seni keprajuritan rakyat DIY antara lain bregada Wirososro, Rekso Winongo, Suryatmaja, Puroloyo, Purbodiningrat, Sindurejan, Rangsang Manggala, Prawiroyuda, Nitimanggala, Argo Satriya, Kyai Soro, Pasembaja, Saekokapti, Wirabraja, dan lainnya.
Perwakilan dari Kadipaten Pakualaman, KPH Kusumonegoro memaparkan, pentingnya pelaku seni keprajuritan rakyat untuk terus mengolah dan mengasah ketrampilan seni keprajuritan rakyat sehingga menambah keragaman budaya di Yogyakarta.
Hanya saja ia mengingatkan agar seni keprajuritan tidak meniru sama persis bregada Kraton maupun Pakualaman. Dipersilahkan untuk melakukan kreasi dan inovasi yang selaras dengan marwah seni keprajuritan.
"Baik Kraton maupun Kadipaten juga punya sejarah panjang yang meninggalkan warisan sejarah dan nilai budaya yang kiranya dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat masa kini termasuk oleh para pelaku seni keprajuritan rakyat," ungkapnya.
Sementara BPH Kusumo Bimantara mendorong para pelaku seni keprajuritan untuk berani mengolah potensi lokal untuk ditampilkan dalam penampilan seni keprajuritannya masing-masing. Seperti beberapa waktu lalu saat dirinya menjadi juri Festival Bregada ada penampilan kelompok peserta yang menggunakan topeng klono sebagai produk kerajinan khas daerahnya.
"Hal semacam ini bisa dijadikan inspirasi oleh kelompok-kelompok seni keprajurutan lainnya sehingga ini menjadi ciri khas yang membedakan dengan keberadaan prajurit Kraton maupun Pakualaman," katanya.
Perwakilan Dinas Kebudayaan DIY, Anies Izdiha menerangkan, DIY memiliki Perda No 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya. Didalamnya merangku lima aspek dasar yakni musyawarah, gotong royong, tenggang rasam, toleransi dan solidaritas sosial. Lima aspek ini kemudian diturunkan dalam 14 tata nilai budaya yakni nilai religio-spriritual, nilai moral, nilai kemasyarakatan, nilai adat dan tradisi, nilai pendidikan dan pengetahuan, nilai teknologi, nilai penataan ruang dan arsitektur, nilai mata pencaharian, nilai kesenian, nilai bahasa, nilai benda cagar budaya dan kawasan cagar budaya, nilai kepemimpinan dan pemerintahan, nilai kejuangan dan kebangsaan dan nilai semangat keyogyakartaan.
Anies menggarisbawahi bahwa tata nilai budaya DIY ini menjadi tugas bersama untuk diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat. Salah satu contoh selama ini ada anggapan masyarakat Yogyakarta itu dikenal ramah. Predikat ini bisa jadi hal yang menjebak jika tidak pernah ada upaya mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
- Jangan Kelewatan, Ini Info Pendaftaran Stand Sekaten 2022
- Terima Aspirasi Warga, Dishub Yogya Berlakukan Jalur Searah di Jalan Ganbiran Khusus Mobil
- Digitalisasi Ekosistem Warung Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Taraf Hidup
"Ramah itu yang seperti apa? Apakah memang betul kita ini ramah? Ini salah satu hal yang mungkin perlu terus dielaborasi" katanya. (anz)
