
Pelaku Wisata Optimistis Pulihkan Industri Pariwisata PascaPandemi Covid-19
- JAKARTA, Jogjaaja.com - Kunjungan wisatawan antar negara diprediksi mengalami pertumbuhan sebanyak 30-78% secara global pada tahun 2022 dibanding tahun 20
Budaya
JAKARTA, Jogjaaja.com - Kunjungan wisatawan antar negara diprediksi mengalami pertumbuhan sebanyak 30-78% secara global pada tahun 2022 dibanding tahun 2021 (sumber: UNWTO).
Walaupun demikian, angka ini masih dibawah 50% dari kinerja sektor pariwisata di masa sebelum pandemi. Pemulihan pariwisata pun bergantung pada kebijakan setiap negara dalam hal relaksasi aturan yang terkait dengan perjalanan. Indonesia sendiri mematok kunjungan wisman sebanyak 1,8 – 3,6 juta orang di tahun 2022 dan akan lebih fokus pada wisatawan domestik.
Archipelago bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menggelar webinar bertajuk ‘Indonesia’s Hotel & Tourism Outlook 2022’ pada hari Kamis, 24 Februari 2022. Dalam kegiatan ini hadir berbagai narasumber dari pemerintahan, asosiasi industri, pemain pariwisata, dan akademisi.
Saat Indonesia dan dunia mulai bangkit dari pandemi Covid 19, sektor pariwisata dan perhotelan memposisikan dirinya agar dapat tumbuh di tahun 2022 dan seterusnya.
Sektor hotel dan restoran sangat penting dalam menghidupkan kembali sektor pariwisata dan pemerintah menghimbau semua pihak untuk dapat bekerja sama. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah agar dapat membuka kembali industri pariwisata untuk wisatawan internasional secara hati-hati dan dan bijaksana.
“Kami optimis bahwa tahun 2022 ini merupakan tahun kebangkitan pariwisata, karenanya ia mengharapkan dukungan semua stakeholder agar pariwisata, sebagai salah satu kontributor PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia, dapat kembali menunjukkan kinerja positifnya,” kata Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Sementara itu, Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, menyoroti pentingnya peran pemerintah dan perbankan untuk mendukung pemulihan pariwisata seperti menunda kenaikan suku bunga agar pelaku pariwisata dapat bertahan hingga kondisi pariwisata mencapai titik pra-pandemi.
“Banyak hotel dan restoran terpaksa ditutup dan hampir 2 juta pekerja di sektor ini kehilangan pekerjaan. Tetapi dengan adanya kebijakan pemerintah yang melonggarkan pembatasan kegiatan dan adanya pertumbuhan pariwisata domestik, tingkat occupancy sudah mulai membaik. Para pengusaha juga perlu mengadopsi teknologi dan standar kebersihan yang baik. Industri membutuhkan pendekatan holistik untuk menghidupkan kembali serta menumbuhkan hotel dan restoran,” tambah Hariyadi.
“Industri perhotelan saat ini sedang mengalami banyak perubahan, namun kami sangat optimis akan pemulihan dengan kondisi saat ini yang berangsur membaik. Archipelago mengutamakan layanan yang aman dan nyaman dengan menyediakan teknologi dan touchless dengan Google Nest, penggunaan mobile app, menu digital dan QR code, ruang serbaguna yang fleksibel, tingkat kebersihan yang lebih baik, sustainability, dan fasilitas kesehatan di dalam kamar. Kami sangat senang dan siap menyambut tamu kembali ke hotel kami, terutama ketika kondisi pariwisata telah membaik," kata John M Flood, CEO dan Presiden Archipelago International yang mewakili pelaku pariwisata daerah.
- Malam Nominasi FFI Digelar di Borobudur
- Terlanjur Pinjam Uang di Pinjol Ilegal? Lakukan Langkah Ini
- Kolaborasi Bhinneka dan UNIKOM Bandung Luncurkan Campus Marketplace Unikommart.Bhinneka.com
Perubahan permainan dan tren yang terkait dengan industri perhotelan juga disorot dalam presentasinya. “Archipelago telah melihat tingkat okupansi rebound pada pertengahan 2021 dan optimis bahwa 2022 bisa menjadi tahun bumper untuk sektor pariwisata dan perhotelan” tambahnya.
(*)
