Travel

Pemda DIY Bersinergi dengan Pelaku Usaha Kembangkan Teras Malioboro Jadi Destinasi Wisata Belanja Terdepan

  • “Teras Malioboro 1 menawarkan wisata belanja dengan suasana bangunan modern tanpa meninggalkan keunikan Jogja. Hal ini memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.”
Travel
Tyo S

Tyo S

Author

SLEMAN, Jogjaaja.com – Teras Malioboro kini semakin menjadi pusat perhatian setelah pengakuan UNESCO terhadap Malioboro sebagai sumbu filosofi. Dengan pengakuan tersebut, status entitas di sekitar sumbu ini semakin kuat. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui dana keistimewaan berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan Teras Malioboro sebagai destinasi belanja dan pusat ekonomi kreatif. 

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM DIY Agus Mulyono menjelaskan, pengelolaan yang sinergis dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku wisata, diharapkan mampu memperkuat Malioboro sebagai pusat ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Menurut Agus, hingga saat ini terdapat sekitar 344 ribu pelaku UMKM di DIY yang telah tergabung dalam platform Sibakul Jogja. “Kita banyak melakukan peningkatan kapasitas bagi para pelaku UMKM ini,” jelas Agus di sela-sela Dolan Blonjo Bareng Mas Temo di The Westlake Resto, Jalan Ring Road Barat, Baturan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Selasa (22/10/2024).

Ia menambahkan bahwa pembinaan difokuskan pada enam aspek utama: produk, sumber daya manusia (SDM), kelembagaan, pembiayaan atau tata kelola manajemen keuangan, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk UMKM, sehingga mereka dapat naik kelas dan memberikan manfaat lebih besar bagi ekonomi DIY.

Keunikan Jogja tetap menjadi daya tarik utama dalam pengembangan Teras Malioboro. “Teras Malioboro 1 menawarkan wisata belanja dengan suasana bangunan modern tanpa meninggalkan keunikan Jogja. Hal ini memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung,” ujar Agus. 

Selain itu, Teras Malioboro 1 telah menunjukkan perkembangan luar biasa dalam dua tahun terakhir, dengan kiprah para tenant yang semakin berinteraksi baik dan aktif meningkatkan usahanya. Agus juga menyoroti pentingnya pendampingan bagi para pelaku UMKM di Teras Malioboro.

 “Pendampingan dilakukan setiap tahun dan difokuskan pada enam aspek utama, yakni produksi, SDM, kelembagaan, pemasaran, permodalan, dan pemanfaatan teknologi informasi,” terangnya. Semua upaya tersebut disatukan dalam platform Sibakul Jogja yang mendorong para pelaku UMKM untuk menjadi mitra resmi.

Para mitra Sibakul mendapatkan berbagai keuntungan, seperti pelatihan dan sertifikasi, termasuk sertifikasi PIRT dan halal. “Mereka juga mendapatkan pendampingan dari PLUT di lapangan,” ungkap Agus. Dengan bergabung dalam Sibakul Jogja, pelaku UMKM memiliki akses yang lebih luas ke berbagai program pemerintah yang dirancang untuk membantu mereka berkembang.

Agus mengungkapkan bahwa pengelolaan Teras Malioboro menjadi bagian penting dari dorongan Pemprov DIY untuk menjadikan UMKM sebagai penggerak utama ekonomi lokal. "Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, UMKM, dan para pelaku wisata diharapkan dapat memperkuat sektor ekonomi kreatif DIY, sekaligus menarik lebih banyak wisatawan ke Jogja," tandasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Balai Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) DIY, Hellen Phornica, menegaskan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam menjaga dan mengembangkan Teras Malioboro sebagai kawasan belanja rujukan. Dalam acara 'Blonjo Dolan Bareng Mas Temo' yang dihadiri oleh 125 tamu undangan, termasuk tour leader, pelaku wisata, perbankan, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Hellen mengungkapkan bahwa kolaborasi yang berkesinambungan dibutuhkan agar Malioboro bisa menjadi destinasi berkelas dunia.

Dengan total 888 tenant dan 799 lapak, Teras Malioboro telah menjadi magnet wisatawan yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Hellen mengungkapkan bahwa pada 2023, jumlah kunjungan mencapai 3,16 juta, sementara pada tahun 2024 hingga September, jumlah wisatawan yang berkunjung telah mencapai 4,19 juta orang. 

"Ini merupakan hasil kerja keras berbagai pihak, mulai dari pelaku tenant, tour guide, hingga pelaku wisata. Harapannya, melalui acara ini, komunikasi dan kerja sama dapat terjalin lebih baik," ujarnya.

Hellen juga memperkenalkan maskot Teras Malioboro, Mas Temo, yang memiliki karakter modern dan unik. Maskot ini diharapkan dapat membantu mempromosikan kawasan Malioboro dan menarik lebih banyak wisatawan. “Acara ini bukanlah akhir, tapi justru awal dari tindak lanjut yang akan terus dilakukan, termasuk masukan dari GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) dan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia),” tambahnya.

Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, UPT KUMKM juga fokus pada peningkatan kualitas para tenant. Pelatihan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan mengubah mindset tenant agar mampu bersaing, baik di pasar domestik maupun internasional. "Kami tidak hanya berharap pengunjung meningkat, tetapi juga para tenant bisa naik kelas. Bahkan, beberapa tenant sudah mulai merambah pasar ekspor," jelas Hellen.

Digitalisasi juga telah diterapkan untuk memantau jumlah kunjungan wisatawan secara real-time, membantu para tenant dalam merencanakan strategi bisnis. Hellen menyatakan bahwa target wisatawan akan terus ditingkatkan, dan pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan omzet para tenant. “PR kami adalah bagaimana memastikan omzet tenant meningkat, dan ini menjadi fokus utama dalam program kami ke depan,” tutupnya. (*)