
Pemerintah Batalkan PPKM Level 3 di Seluruh Indonesia Selama Nataru, Ini Alasannya
- Pemerintah resmi membatalkan penerapan PPKM Level 3 selama libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru.
News
JAKARTA, Jogjaaja.com - Rencana Pemerintah untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 selama libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) di seluruh Indonesia akhirnya resmi dibatalkan. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan resmi seperti dikutip dari Trenasia.com, jejaring media Jogjaaja.com, Senin, 6 Desember 2021.
"Penerapan level PPKM selama Nataru akan tetap mengikuti asesmen situasi pandemi sesuai yg berlaku saat ini, tetapi dengan beberapa pengetatan," ujar Luhut.
Dia mengatakan pemerintah memutuskan untuk membuat kebijakan yang lebih seimbang dengan tidak menyamaratakan perlakuan di semua wilayah menjelang momen Nataru.
Hal itu merujuk pada kondisi penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia yang terus menunjukkan perbaikan yang signifikan dan terkendali pada tingkat yang rendah.
- PPKM Level 3 Saat Libur Nataru, PNS Tak Boleh Cuti dan Penegakkan Disiplin Protokol Kesehatan
- Dinas Pariwisata DIY: Pemberdayaan Masyarakat, Kunci Nglanggeran Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia
- Kenalkan Kopi Indonesia di Rusia, BCA Dukung UMKM Kopi Go Internasional
Dia mengatakan Indonesia sejauh ini berhasil menekan angka kasus konfirmasi COVID-19 harian dengan stabil di bawah 400 kasus. Kasus aktif dan jumlah yang dirawat di rumah sakit juga menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan asesmen per 4 Desember, jumlah kabupaten kota yang tersisa di level 3 hanya 9,4% dari total kabupaten/kota di Jawa-Bali atau hanya 12 kabupaten/kota saja.
Capaian vaksinasi dosis 1 di Jawa-Bali sudah mencapai 76% dan dosis 2 yang mendekati 56%. Vaksinasi lansia juga terus digenjot hingga saat ini mencapai 64% dan 42% masing-masing untuk dosis 1 dan 2 di Jawa Bali.
Meski demikian, Luhut menekankan semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan terutama mengingat munculnya varian baru Omicron yang sudah menyebar di beberapa negara. Penyebaran varian Omicron di berbagai negara dunia terindikasi lebih cepat dan meningkatkan kemungkinan reinfeksi.
Pengetatan Perjalanan
Selama Nataru, Luhut mengatakan syarat perjalanan jarak jauh dalam negeri adalah wajib vaksinasi lengkap dan hasil antigen negatif maksimal 1×24 jam sebelum keberangkatan.
Untuk orang dewasa yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap ataupun tidak bisa divaksin karena alasan medis, tidak diizinkan untuk bepergian jarak jauh.
Sementara, anak-anak dapat melakukan perjalanan, tetapi dengan syarat PCR yang berlaku 3×24 jam untuk perjalanan udara atau antigen 1×24 jam untuk perjalanan darat atau laut.
Dia menambahkan, pemerintah juga menerapkan pelarangan seluruh jenis perayaan Tahun Baru di Hotel, Pusat Perbelanjaan, Mall, Tempat Wisata dan Tempat Keramaian Umum lainnya.
Sementara untuk operasional pusat perbelanjaan, restoran, bioskop dan tempat wisata hanya diizinkan dengan kapasitas maksimal 75 persen dan hanya untuk orang dengan kategori hijau di aplikasi Peduli Lindungi.
"Untuk acara sosial budaya, kerumunan masyarakat yang diizinkan berjumlah maksimal 50 orang. Disiplin penggunaan Peduli Lindungi harus ditegakkan,” kata Luhut.
- Ultra Voucher Gift Card Jadi Pilihan Tepat kado Akhir Tahun
- PMI DIY Kirim Bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Bencana Erupsi Gunung Semeru
- Yayasan AHM Hadirkan Safety Riding Lab Astra Honda Ke-4 di Indonesia
Luhut menambahkan, perbatasan Indonesia juga akan tetap diperketat selama libur Nataru. Syarat untuk penumpang dari luar negeri adalah hasil tes PCR negatif maksimal 2×24 jam sebelum keberangkatan, serta melakukan karantina selama 10 hari di Indonesia.
"Syarat perjalanan akan tetap diperketat, terutama di perbatasan untuk penumpang dari luar negeri. Namun kebijakan PPKM di masa Nataru akan dibuat lebih seimbang dengan disertai aktivitas testing dan tracing yang tetap digencarkan," tandas Luhut.
Dia mengeklaim, melalui penguatan 3T (testing, tracing dan treatment) dan percepatan vaksinasi dalam 1 bulan terakhir, Indonesia saat ini lebih siap dalam menghadapi momen Nataru. (*)
