
Prevelensi Hipertensi di DIY Tinggi, Ini Solusinya
- Jogjaaja.com, Jogja - Banyak masyarakat yang merasa sehat karena tidak mengalami keluhan fisik.Padahal padahal angka tekanan darahnya sudah melampaui batas nor
Jogja
Jogjaaja.com, Jogja - Banyak masyarakat yang merasa sehat karena tidak mengalami keluhan fisik.Padahal padahal angka tekanan darahnya sudah melampaui batas normal. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, ancaman ini sangat nyata.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi di wilayah ini mencapai 31,8%, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di angka 30,8%.Bahkan data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat hampir separuh (44,90%) dari puluhan ribu pasien hipertensi terdaftar tidak melakukan kunjungan pemeriksaan klinis dalam setahun terakhir. Hal ini memicu bom waktu kesehatan bagi masyarakat.
Dr. Bagus Andi Pramono, Sp.JP, FIHA, Ketua Pokja Hipertensi PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) menjelaskan bahwa penyakit ini sangat sering mengecoh penderitanya.
- Tigo AI Luncurkan Sistem Terpadu Iklan AI dan Konten Native
- Perkuat Sektor E-KYC, Api.co.id Rilis API Dukcapil Check dan NPWP Check
- Bangunan Modern Tak Lagi Dibangun per Komponen
- PGN Gelar Suadesa Festival 2026, Destinasi Akhir Pekan Rayakan HUT Ke-81 RI
"Hipertensi ini sering datang tanpa gejala, sehingga kita bisa menyebut bahwa hipertensi ini adalah sebuah silent killer. Jadi memang tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Ketika tekanan darahnya tinggi 160, 170... kadang-kadang kita tidak merasakan sesuatu; tidak nyeri dada, tidak sesak napas, tidak pusing."
Bila dibiarkan, tekanan yang terus-menerus ini akan merusak organ vital secara perlahan dan sering memicu gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AFib). Risiko fatalnya tidak main-main.
"Kalau orang dengan darah tinggi meningkatkan risiko strokenya tiga kali lipat dibanding mereka yang tidak ada darah tinggi. Tapi kalau orang dengan atrial fibrilasi (gangguan irama jantung), risiko strokenya meningkat menjadi lima kali lipat. Makanya kenapa dua hal ini adalah hal yang penting untuk kita kontrol, untuk kita monitor." papar Bapak Mawan, Marketing Manager Omron Healthcare Indonesia.
Bahaya Tensi yang Berubah-ubah
Salah satu alasan mengapa mengandalkan kunjungan rumah sakit saja tidak cukup adalah fenomena perbedaan hasil ukur. Dokter Bagus menyoroti adanya bias saat pasien melakukan pemeriksaan klinis.
"Tekanan darah di klinik ini tidak selalu sama dengan tekanan darah dalam kehidupan kita sehari-hari... Ada yang kita sebut sebagai white coat hypertension, tinggi di klinik tapi tidak tinggi di rumah. Kemudian masked hypertension, tampak normal di klinik, tapi ternyata tinggi di rumah."
Oleh karena itu, pemantauan mandiri di rumah menjadi kunci utama. Namun, standar angka yang digunakan untuk diagnosis pun berbeda.
"Di ruang praktik, di atas 140/90 (disebut hipertensi). Tapi ketika dia pemeriksaan tekanan darah di rumah, di atas 135/85 itu sudah kita sebut sebagai hipertensi." tambah dr. Bagus.
Agar hasil pantauan akurat dan bisa dijadikan acuan medis, pengukuran di rumah tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
"Cara mengukur tekanan darah yang benar: Harus istirahat dulu 5 menit, duduk tegak di kursi, kakinya harus menapak di tanah... lengannya ditopang, dan mansetnya harus sesuai. Jangan berbicara saat pengukuran."
Infrastruktur Pemantauan Lokal
Menjawab tingginya urgensi pemantauan mandiri yang presisi, perangkat kesehatan yang tervalidasi secara klinis dan terkalibrasi rutin sangat dibutuhkan. Untuk mendukung hal ini, OMRON Healthcare Indonesia memperkuat keberadaan OMRON Experience Center (OEC) di Yogyakarta.
Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia, menegaskan bahwa aksesibilitas adalah bagian penting dari membangun kebiasaan sehat jangka panjang.
“Sejalan dengan misi global Going for ZERO, OMRON berkomitmen untuk membantu masyarakat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung melalui pencegahan dan pemantauan kesehatan yang lebih baik. Pengelolaan hipertensi membutuhkan pemantauan yang konsisten, termasuk ketika masyarakat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah."
"Melalui OMRON Experience Center dan kerja sama dengan Datascrip di Yogyakarta, kami ingin mendekatkan akses terhadap layanan servis dan kalibrasi, sekaligus mendukung masyarakat agar dapat menggunakan perangkat kesehatan secara tepat dan optimal,”
Pusat layanan yang berlokasi di Jl. Gajahmada No. 21 ini mempermudah masyarakat lokal agar tidak perlu lagi bersusah payah mengirim unit yang butuh kalibrasi ke luar kota.
- ATI Dorong Model Baru Pembiayaan Jalan Tol
- 11 Prajurit Koops TNI Habema Evakuasi Warga Ugimba dengan Dua Helikopter
- Arah Harga Emas (XAUUSD) Terungkap, Dupoin Futures Soroti Area Support Krusial
"Kita memutuskan untuk ekspansi Omron Experience Center menjadi 12 kota. Kalau di Yogyakarta, kita bekerja sama dengan Datascrip... untuk service repair barang-barang Omron. Bapak Ibu enggak usah kirim balik ke Jakarta, langsung bisa dikasih ke Datascrip yang ada di Jalan Gajah Mada."
