Jogja

Sah, BPH Kusumo Kuntonugroho dan Laily Annisa Kusumastuti Menjadi Pasangan Suami Istri

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Pasangan BPH Kusumo Kuntonugroho dan Laily Annisa Kusumastuti akhirnya resmi menjadi suami istri setelah digelarnya prosesi ijab kabul ata
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Pasangan BPH Kusumo Kuntonugroho dan Laily Annisa Kusumastuti akhirnya resmi menjadi suami istri setelah digelarnya prosesi ijab kabul atau akad nikah pada Rabu (10/1/2024) di Kagungan Dalem (KD) Masjid Agung Pura Pakualaman.

Urusan Pranatan Lampah Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman, Mas Ngabehi Citropanambang menjelaskan, pada pelaksanaan ijab atau akad nikah calon pengantin perempuan berada di pěngulon. Calon pengantin laki-laki dari KD Gědhong Ijěm berjalan didampingi sesepuh dan sědherek dalěm menuju KD Masjid Agung.

"Pengantin laki-laki dan pengantin perempuan mengenakan busana batik motif Indra Widagda Indra yang pandai," katanya.

Motif ini merupakan motif pertama yang dibuat berdasarkan iluminasi Bathara Indra dalam naskah Sěstradisuhul dan Sěstra Agěng Adidarma. Yang bertugas sebagai wali nikah adalah dr. Tri Prabowo, M.Kes.,Sp.PD., FINASIM dan sebagai saksi adalah K.P.H Jurumartani dan Prof. Dr. drg. Sudibyo, Sp.Perio(K).

"Setelah menjalani ijab kabul, kedua pasangan selanjutnya mengikuti prosesi Panggih sekitar ham 10.30 WIB di Tratag KD Bangsal Sewatama. Ini merupakan upacara pertemuan pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan setelah upacara ijab," katanya.

Prosesi upacara panggih meliputi, pasrah sanggan kemudian pengantin laki-laki dan perempuan menuju Tratag KD Bangsal Sewatama disertai tampilan Durbala Singkir, diikuti dua pasang abdi dalem pembawa kěmbar mayang. Selanjutnya kěmbar mayang dibawa keluar area Tratag KD Bangsal Sewatama.

Prosesi selanjutnya adalah balangan gantal, ngranupada, měcah tigan, sungkěman. Adapun keterangan ringkasnya sebagai berikut. Pasrah Sanggan di sini disebut pula sanggan paměthuk, dimaksudkan bahwa pengantin laki-laki sudah siap mengikuti upacara panggih, sekaligus memberitahu agar pengantin perempuan dihadirkan dalam acara panggih.

Kemudian Kěmbar Mayang yang menandai bahwa pengantin laki-laki masih jejaka dan pengantin perempuan masih perawan. Kemudian Balangan Gantal, di mana Gantal bermakna ‘lintingan daun sirih diikat dengan benang lawe berwarna putih’ sejumlah tujuh (empat dilempar oleh pengantin laki-laki, tiga dilempar oleh pengantin perempuan) dengan kelengkapan jambe, gambir, tembakau dan injet dalam satu wadah. Makna filosofis gantal beserta kelengkapannya.

Selanjutnya ada Ngranupada yang artinya mencuci kaki. Di sini kaki pengantin laki-laki dibasuh oleh pengantin perempuan. Hal ini menunjukkan bakti seorang istri kepada suami. Selain itu, air bunga setaman yang dipakai untuk mengguyur kaki dimaknai sebagai penyingkir godaan.

Lalu ada pula Měcah Tigan yang menunjukkan adanya warna putih dan merah, yang melambangkan bercampurnya ‘wiji kakung’ dan ‘wiji putri’ yang kelak melahirkan anak dan cucu.

Busana yang dikenakan pada saat panggih bagi pengantin adalah dodot atau kampuh batik motif Indra Widagda Wariga Adi.

Dalam kain batik motif Indra Widagda Wariga Adi termuat motif Indra Widagda dipadukan dengan motif Sěmen Kidang yang memuat harapan agar ajaran yang telah diperoleh dari orang tua dan para sesepuh dapat dijadikan pegangan hidup, sehingga mereka mampu berkelana dengan tangkas di belantara kehidupan. (Anz)