
Sama Seperti Cicak, Kupu-Kupu Bertahan Hidup dengan Memutuskan Ekornya
- YOGYA, Jogjaaja.com - Banyak yang beranggapan, ekor pada kupu-kupu hanya berfungsi sebagai hiasaan saja.Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa ekor menjadi ala
News
YOGYA, Jogjaaja.com - Banyak yang beranggapan, ekor pada kupu-kupu hanya berfungsi sebagai hiasaan saja.
Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa ekor menjadi alat bertahan hidup hewan berjuluk ‘burung layang-layang’ ini.
Sama seperti cicak, kupu-kupu memutuskan ekor mereka untuk menipu burung—atau pemangsa lain—yang menyerang, dan menjauhkan sang predator dari bagian tubuh yang vital.
“Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa ekor kupu-kupu berevolusi secara independen beberapa kali di berbagai tempat yang berbeda,” kata peneliti yang melaporkan temuan mereka dalam Proceedings of the Royal Society B pada 25 Mei 2022 lalu.
- Lima Rekomendasi Film di Akhir Pekan, Mau Pilih Mana?
- Ternyata Singa Menguap Bukan Karena Mengantuk Tapi Menjalin Ikatan Sosial
- Wakil Gubernur DIY Saksikan Kirab Taruna AAU
- Pemkab Sleman Jemput Bola Layanan Administrasi Kependudukan
Ahli biologi evolusioner asal National Museum of Natural History, Ariane Chotard, menjelaskan, ia dan timnya saat itu mempelajari sayap kupu-kupu Swallowtail yang memiliki kebiasaan mematahkan ekor mereka.
Meski demikian, para peneliti belum sepenuhnya tahu alasan dari perilaku tersebut.
Hingga, mereka pun menemukan fakta bahwa kupu-kupu jenis ini termasuk spesies yang paling banyak menerima serangan dari predator di wilayah tersebut.
Maka, pada musim panas 2020, para peneliti mengumpulkan sebanyak 138 kupu-kupu Sail Swallowtail (Iphiclides podalirius) dari alam liar di Ariege, Prancis.
Sail Swallowtails, yang jamak ditemui di seluruh Eurasia, memiliki dua ekor hitam mencolok di sayap belakang dengan beberapa bercak biru dan oranye.
Dari total hewan yang dikumpulkan, ada 65 kupu-kupu atau 41 persen yang mengalami kerusakan pada bagian sayap. Sementara kupu-kupu yang mengalami kerusakan di bagian ekor sebanyak 82 persen.
“Ini sekilas menunjukkan bahwa pemangsa mungkin mengincar bagian yang kurus [ekor],” peneliti berspekulasi.
Untuk menguji gagasan tersebut, tim peneliti menyimpan burung jenis penyanyi (Parus mayor) dalam sebuah kandang. Mereka kemudian menunjukkan boneka kupu-kupu yang terbuat dari sayap asli dan bagian tubuh dari potongan karton.
“Hasilnya, 43 dari total 59 serangan (hampir 73 persen) berada di sayap belakang. Sementara 23 atau 39 persen dari total serangan menyentuh baik ekor dan area berwarna di bagian atas sayap belakang secara bersamaan,” kata Chotard, dikutip dari Science News, Sabtu (25/6/2022).
Selain itu, peneliti juga juga mengukur berapa banyak kekuatan yang dibutuhkan untuk merobek berbagai bagian sayap kupu-kupu.
Mereka pun menemukan bahwa urat ekor sayap belakang adalah bagian sayap yang paling rapuh dan mungkin merupakan lokasi yang paling tepat untuk patah saat diserang burung.
Akhirnya, mereka pun menyimpulkan ekor kupu-kupu menangkis serangan dari tubuh rentan mereka ke ekstensi rapuh yang mudah robek. Itu memungkinkan binatang ini untuk melarikan diri, sementara sang predator mengejar patahan tadi.
“Ini mungkin mirip dengan strategi yang digunakan beberapa kadal saat mengorbankan ekornya yang bisa dilepas untuk pemangsa yang lapar,” kata Chotard menjelaskan.
- Nih, Sinopsis dan Link Nonton Film Horor The Visit di Akhir Pekan
- Keren, Murid SD Muh Bayen Terbitkan Buku Antologi Kisah Inspiratif
- MG Mulan, Crossover MG Listrik Bertenaga Super, 100 Kpj Hanya 3,8 Detik!
“Sekarang kami memiliki bukti bahwa ekor kupu-kupu memberikan manfaat yang sama terhadap [upaya menghindari] serangan predator,” pungkasnya. (Eff)
