Bantul

Sertifikasi Dai, Kyai Bantul Kirim Surat Terbuka ke Presiden Jokowi

  • BANTUL, Jogjaaja.com - Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan Bantul KH. Beny Susanto mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo terkait dengan urgensi
Bantul
Ties

Ties

Author

BANTUL, Jogjaaja.com - Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan Bantul KH. Beny Susanto mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo terkait dengan urgensi sertifikasi Dai, Mubaligh dan Khatib. Surat itu dikirim pada Selasa (21/3/2023).

Beny mengatakan, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan bahwa kerusakan dan kehancuran segala perkara (agama dan lainnya) akan terjadi bila diserahkan, dipercayakan kepada bukan ahlinya. Menurutnya fitnah besar kehidupan umat adalah terorisme, teroris, kekerasan, intoleransi, kepicikan dan kebodohan yang disebabkan beragam faktor.

"Antara lain karena liberalisasi agama sehingga berlangsung tanpa kontrol dan pembinaan yang jelas. Seseorang tidak ada riwayat pendidikan keagamaan yang jelas (sanad keilmuan) tiba-tiba menjadi dai, mubaligh ataupun khatib. Belajar tanpa guru, mengambil dari sumber internet yang liar dan kajian kilat kemudian memaksakan diri menjadi dai," katanya.

Dalam urusan dunia, seperti pendidikan ada sertifikasi guru, akuntan butuh pendidikan, advokat butuh pendidikan profesi, psikolog butuh standar profesi, sementara dai, mubaligh, khatib merupakan urusan dunia-akhirat berjalan tanpa standarisasi kompetensi dan keilmuan. Ekstrimisme, terorisme, sparatisme dan teroris terus bergerak meskipun telah ada Densus 88 Anti Teror, BNPT, BIN, TNI dan Polri.

"Ini membuktikan persolan tersebut tidak cukup ditangani mereka, membutuhkan intrumen soft power dan peran serta berbagai stakeholder," ujarnya.

Beny menerangkan, dai, mubalig dan khatib yang kompeten (istilah lain bagi berbagai agama/kepercayaan) merupakan bagian soft power untuk membangun bangsa dan negara yang aman, adil dan makmur. Sangat jelas, apabila tanpa standarisasi yang disampaikan bukanlah mau’dhoh hasanah, nasehat baik tetapi pecah belah, kebencian, permusuhan dan caci maki.

"Apabila terus berlangsung, yang akan rusak jelas bukan semata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetapi juga kehidupan akhirat (dhollun mudhillun). Para ulama adalah mereka yang memandang umat manusia dengan penuh kasih sayang, mengikuti Rasulullah SAW," katanya.

Lebih lanjut Beny menyebut, wacana dari para tokoh dan kementerian agama telah disampaikan pada 2021, bahkan lebih jauh ke belakang akan tetapi penolakan juga melimpah, tokoh, ormas dan perkumpulan. Sependek pemahaman kami, argumentasi penolakan sangat amat dangkal, tanpa pengetahuan dan jauh dari spirit merawat keberagamaan, kebangsaan dan keindonesiaan.

 

"Meskipun merupakan surat pribadi, opini atas urgensi sertifikasi, standarisasi dai, mubaligh dan khatib, saya berharap respon konstruktif dan progresif Bapak Presiden. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa jika fitnah tersebar sangat jelas maka seorang ulama harus menunjukan keulamaanya," pungkas dia. (Anz)