Penyerahan hadiah Yogyakarta Endemic Peagon Festival 2022.
Inspirasi Komunitas

Sukses Digelar, Yogyakarta Endemic Pigeon Festival 2022 Juga Diikuti Peserta dari Luar DIY

  • Yogyakarta Endemic Pigeon Festival 2022, sebuah festival merpati endemic Yogyakarta yang digelar di Joglo Pawiro, Plebengan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Minggu (6/2/2022) dibanjiri peserta.
Inspirasi Komunitas
Tyo S

Tyo S

Author

BANTUL, Jogjaaja.com – Yogyakarta Endemic Pigeon Festival 2022, sebuah festival merpati endemic Yogyakarta yang digelar di Joglo Pawiro, Plebengan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Minggu (6/2/2022) dibanjiri peserta. Meski hanya festival ini awalnya hanya bertujuan mengangkat merpati-merpati endemic, tetapi banyak peserta yang datang dari luar DIY, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Penggagas Acara sekaligus Fasilitator Festival ini, Ervan Sholeh Hantara atau yang akrab disapa Pawiro Doro, menjelaskan sebenarnya panitia mengadakan acara ini hanya untuk regional DIY. Tetapi ternyata antusiasme peserta cukup tinggi. Banyak pecinta merpati dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Mojokerto, Tulungagung, Ponorogo, dan daerah-daerah lain juga hadir. Bahkan, sejumlah komunitas lain di luar merpati, seperti komunitas reptile juga datang ke acara ini.

“Jadi Yogyakarta Endemic Pigeon Festival 2022 ini awalnya untuk mengangkat merpati endemic khususnya merpati Jowo Sungut yang merupakan icon Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, dan Kucir Iplik. Tetapi karena banyak peserta dari luar DIY, akhirnya kami juga mengadakan kontes untuk merpati Pajer, Krey, Songkop, dan Bangked,” jelas Pawiro Doro.

Pawiro Doro menambahkan, ada alasan tertentu merpati jenis Jowo Sungut dan Kucir Iplik dikedepankan. Kedua jenis merpati ini merupakan merpati endemic Jogja sekaligus sudah dikenal sejak zaman dulu.

“Doro (merpati) Jowo Sungut sempat digunakan sebagai semacam kode atau sandi dari keraton jika abdi dalem di daerah ingin mengirimkan upeti, persembahan, atau informasi lainnya. Sementara Kucir Iplik mengangkat budaya lokal masyarakat petani yang biasanya setelah bekerja menikmati sore dengan melihat merpati dilepas sambil minum teh. Jadi muatan lokalnya seperti itu,” imbuh Pawiro Doro.

Dalam festival ini, lanjut Pawiro Doro, penilaian didasarkan pada katuranggan atau orisinalitas dari merpati tersebut. Jadi lebih mengedepankan dari segi fisik, sekaligus untuk mencari bibit unggul yang berkualitas dari trah aslinya karena saat ini banyak merpati seperti Jowo Sungut maupun Kucir Iplik yang sudah dikawinsilangkan.

“Rencananya festival seperti ini akan kami gelar setiap tahun. Tidak hanya festival untuk merpati endemic, tetapi juga untuk merpati-merpati lainnya. Joglo Pawiro siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan festival ini,” pungkasnya. (*)