Jogja

Sultan Minta Perbaikan Infrastruktur Malioboro Segera Dirampungkan

  • YOGYA,  Jogjaaja.com - Setelah PKL Malioboro selesai berpindah ke Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta aka
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA,  Jogjaaja.com - Setelah PKL Malioboro selesai berpindah ke Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta akan melakukan renovasi dan perbaikan. Hal ini agar wajah Malioboro lebih rapi dan nyaman untuk wisatawan.

Perbaikan tersebut di antaranya adalah penambahan penerangan, perbaikan trotoar yang rusak, pengecatan kursi dan penyeragaman warna bangunan di sepanjang Jalan Malioboro.

“Segera dirumuskan apa saja yang darurat itu apa (silakan koordinasi) tanpa perlu menunggu perintah dari saya, termasuk perubahan lewat APBD atau Danais,” ungkap Sri Sultan.

 

Hal tersebut disampaikan Sri Sultan dalam agenda Rapat Koordinasi Pasca Relokasi PKL Malioboro di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Senin . Dalam rapat tersebut turut hadir Wali Kota Yogyakarta Drs. H. Haryadi Suyuti, Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) DIY Srie Nurkyatsiwi, GKR Bendara, Dosen Arsitektur UII Ir. Revianto Budi Santosa, M.Arch., perwakilan seniman Heri Pemad, beserta pejabat terkait.

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah apa yang diperlukan untuk membuat kawasan Malioboro menjadi lebih tertata dan bisa dimanfaatkan untuk aktivitas seni.

Sri Sultan memberikan apresiasi kepada Pemkot dan semua pihak terkait yang telah menyiapkan fasilitas dan bekerja keras selama proses relokasi. "Sudah melihat apa yang dilakukan Kota. Saya melihat toko-toko di Malioboro, lampu-lampunya sudah lebih terang," ujar Sri Sultan. Perbaikan infrastruktur dirasa sangat penting karena setelah PKL tidak ada, banyak kerusakan yang ditemukan.

Setelah perbaikan infrastruktur, Malioboro akan digunakan untuk memfasilitasi para seniman dan pekerja kreatif.

“Malioboro bukan hanya milik PKL, namun milik semua masyarakat. Perlu dinaikkan atmosfer seni atau kreatifnya supaya Malioboro hidup lagi. Malioboro tanpa PKL bukan berarti ruhnya hilang, namun tetap hidup dengan warnanya sendiri."

Menangapi arahan tersebut, Heri Pemad menjelaskan jika Malioboro berpotensi menjadi kawasan yang mencerminkan Yogyakarta. "Saya yakin semuanya berkeinginan merespon adanya Malioboro saat ini. Di mana, temen-temen seniman melalui obrolan-obrolan informal, itu (Malioboro) akan menjadi galeri atau panggung terbesar se-dunia. Bisa direspon secara artistik dan Jogja banget,” ungkap Heri Pemad.

Heri mengungkapkan bahwa Malioboro memiliki banyak potensi untuk dimanfaatkan. Hal ini juga akan sulit diikuti oleh daerah bahkan negara lain. Karena DIY memiliki fasilitas dan sumber daya yang tidak dimiliki daerah lain. “Kami melakukan kurasi dan bekerjasama dengan seniman-seniman lainya untuk mengisi Malioboro dengan pentas atau pertunjukkan seni,” jelas Pemad.


Revianto Budi Santosa, Dosen Arsitektur UII setuju bahwa Malioboro perlu dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai.

“Idealnya Malioboro menjadi etalase yang menghidupkan atmosfer di wilayah-wilayah lain di Jogja. Seni pertunjukan adalah lokomotifnya, kemudian perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai,” jelas Revianto.

Berkaitan dengan adanya PKL yang masih belum mendapatkan tempat, Ngarsa Dalem menjelaskan bisa menggunakan Eks Hotel Merdeka.

“Eks Hotel Merdeka (Hotel Tugu), sebenarnya dapat digunakan sebagai tempat relokasi sementara PKLyang belum kebagian tempat. Hanya masih dalam proses menunggu keputusan tertulis dari pengadilan yang setidaknya menyatakan bahwa Heritage Hotel Merdeka akan dibeli oleh Pemda,” ujar Sri Sultan.  (*)