Jogja

Ternyata Ada 13 Tokoh Berperan dalam Serangan Umum 1 Maret

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi kisah yang selalu menarik disimak setiap tahun. Serangan spektakuler yang dilakukan TNI bersa
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi kisah yang selalu menarik disimak setiap tahun. Serangan spektakuler yang dilakukan TNI bersama rakyat untuk merebut Kota Jogja dari tangan penjajah Belanda mampu mengembalikan kewibawaan Indonesia.

Museum Benteng Vredeburg Jogja di tahun 2021 peenah menyajikan beragam koleksi 13 tokoh yang paling berperan terhadap peristiwa tersebut melalui pameran bertajuk Patriot Bangsa, Merebut Ibu Kota yang digelar sejak 1 Maret hingga 31 Maret 2021 mendatang. Adapun pameran yang bekerja sama dengan Pemda DIY ini secara resmi dibuka pada Minggu (28/2/2021).

Adapun 13 patriot tersebut terdiri dari:

1. Kolonel Zulkifli Lubis
Adalah sosok perintis Badan Intelijen Negara. Pada akhir 1948 Zulkifli menerima informasi intelijen terkait kemungkinan serangan Belanda ke Ibu Kota RI di Yogyakarta. Sesuai siasat yang disepakat Lubis dan pasukannya mundur ke luar kota menuju ke Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Di wilayah ini sebagai tempat pengungsian, basis pertahanan militer sekaligus sebagai tempat penyimpanan candu.

2. Kolonel Djatikusumo
Pada 1948 Djatikusumo menjabat sebagai KSAD sekaligus Gubernur Akmil dengan pangkat Kolonel. Bersama satuannya para taruna Akmil Djatikusumo ikut bergerilya dan berjuang di medan pertempuran menghadang dan menyerang pos Belanda. Setelah Serangan Umum 1 Maret dan diplomasi menguntungkan.

3. Kolonel Gatot Subroto
Selaku Komandan Divisi II yang membawahi wilayah Solo dan sekitarnya, Gato Subroto bersama anak buahnya melakukan penyerangan terhadap tentara Belanda yang akan memberikan bantuan ke Yogyakarta.

Baca juga: Digrebek Istri saat di Kamar dengan Wanita Lain, Pria Kulonprogo Ini Mengaku Hanya Kerokan

4. Letkol Wiliater Hutagalung
Wiliater Hutagalung adalah seorang dokter TNI, ia yang memiliki gagasan penyerangan spektakuler untuk menghadapi propaganda Belanda. Gagasan tersebit disetujui Panglima Soedirman dan mengkoordinasikan dengan Panglima Divisi II dan Divisi III.

5. Syafrudin Prawiranegara
Saat Ibu Kota Yogyakarta dikuasai Belanda, atas perintah Presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintaha Darurat Republik Indonesia.

6. Opsir Udara III Boediardjo
Mendirikan stasiun darurat di rumah warga di Banaran, Playen, Gunungkidul. Di rumah ini menggunakan Radio PHB PC-2, Boediardjo menyiarkan kabar serangan umum 1 Maret ke Takengon Aceh dan diteruskan ke New Delhi hingga sampai ke PBB.

7. Kolonel Tahi Bonar Sumatupang
TB Simatupang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang yang menyetujui Serangan Umum 1 Maret untuk menegaskan kedudukan Republik Indonesia.

8. Kolonel AH Nasution
Pada mas Agresi Militer Belanda II, AH Nasution bertugas sebagai Panglima Tentara Teritorium Djawa bermarkas di Yogyakarta. Pada 20 Desembr 1948 ia menuliskan maklumat pemberlakukan pemerintahan militer seluruh Jawa hingga diikuti perintah strategis seperti operasi.

9. Lambertus Nicodemus Palas
Serangan Umum 1 Maret menjadi puncak kemenangan diplomasi Indonesia di Sidang PBB. Propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada berhasil dipatahkan L.N. Palar dalam pidatonya di Sidang DK PBB 10 Maret 1948 di Amerika Serikat.

10. Jenderal Soedirman
Untuk melawan propaganda Belanda, Soedirman menginstruksikan Langkah tertentu yang harus diambil, sebagai puncaknya dilakukanlah serangan terbuka dikenal Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat Yogyakarta dikuasai Belanda Soedirman memilih untuk bergerilya membuat kantong perlawanan.

11. Sri Sultan Hamengkubuwono IX


Ketika Belanda menguasai Yogyakarta, HB IX Menyusun rencana untuk mengembalikan semangat juang rakyat, lalu muncullah ide untuk melakukan serangan balasan. Sri Sultan mengirim surat kepada Jenderal Soedirman perihal rencana tersebut. Soedirman mendukung dan menyarankan HB IX agar berkoordinasi dengan Letkol Soeharto. Dua pekan sebelum serangan umum, HB IX membuka pintu kraton untuk berlindung TNI dan menyiapkan persenjataan. Kompleks Kraton dijadikan sebagai pusat serangan, di mana banyak tentara yang berlindung di dalamnya.

12. Letkol Soeharto

Sebagai Komandan WK IIO, Soeharto mempersiapkan pasukan dengan membagi batas tiap sector. Soeharto meminta setiap Sub Wehrkreise harus menempatkan pasukan di dalam kota dengan cara sembunyi.

13. Kolonel Bambang Soegeng

Menjabat sebagai Panglima Divisi III membawahi wilayah Yogyakarta menginstruksikan kepada seluruh TNI untuk mengikat pasukan Belanda agar mencegah bala bantuan masuk ke Yogyakarta.
Sumber : Buku Patriot Bangsa, Vredeburg