
Tradisi Nyadran, Momentum Warga Dusun Kaligawe Bantul untuk Bersyukur dan Mendoakan Leluhur Jelang Ramadan
- Setiap menjelang Ramadan, tepatnya pada bulan Sya’ban, masyarakat Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, selalu melakukan tradisi Nyadran. Budaya yang telah dijaga selama ratusan tahun ini, dilakukan dengan bersih-bersih makam para orang tua atau leluhur, membuat dan membagikan makanan tradisional, serta berdoa atau selamatan bersama di sekitar area makam.
Bantul
BANTUL, Jogjaaja.com - Setiap menjelang Ramadan, tepatnya pada bulan Sya’ban, masyarakat Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, selalu melakukan tradisi Nyadran. Budaya yang telah dijaga selama ratusan tahun ini, dilakukan dengan bersih-bersih makam para orang tua atau leluhur, membuat dan membagikan makanan tradisional, serta berdoa atau selamatan bersama di sekitar area makam.
Nyadran merupakan momentum untuk menghormati para leluhur dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Dalam kalender Jawa, Nyadran digelar pada Bulan Ruwah, sehingga Nyadran juga dikenal sebagai acara Ruwahan. Selain itu, Nyadran dimaknai sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam.
Dusun Kaligawe, yang terletak di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan contoh dusun yang masih menjaga dan mempertahankan tradisi Nyadran sampai saat ini. Bahkan tahun 2022 ini, Dusun Kaligawe menggelar dua kali acara Nyadran.

- Mau Tetap Bisa Menabung Meski Pendapatan Rendah, Ini Caranya
- Mantan Atlet Tenis Asal Ukraina Ini Angkat Senjata Lawan Rusia
- BEI Catat 22 Emiten Masuk dalam Efek Pemantauan Khusus
Kaum Rois Dusun Kaligawe M. Najib mengatakan Nyadran pertama digelar di Makam Gunung Buthak pada Kamis (17/3/2022) malam untuk mendoakan cikal Bakal Kaligawe seperti Eyang Suro Waseso, Eyang Co Wongso, Eyang Joyodipo, dan Eyang Nilam Sari. Sementara pada Jumat (18/3/2022) sore, Nyadran kembali diadakan untuk mendoakan para leluhur dari warga Kaligawe.
“Nyadran di Dusun Kaligawe ini memang sudah diadakan secara turun temurun. Tujuannya adalah untuk bersama-sama mendoakan para cikal bakal Dusun Kaligawe dan para orang tua yang sudah mendahului kita. Nyadran ini biasanya diadakan sebelum Bulan Ramadan. Beberapa hari sebelum dilakukan doa bersama, kami juga membersihkan makam sebagai symbol dari pembersihan diri menjelang bulan suci,” kata M. Najib.
Selain itu, lanjut Najib, Tradisi Nyadran ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan warga Dusun Kaligawe RT 01 dan RT 02. Hal ini diwujudkan dengan gotong royong membersihkan makam, masak bersama, dan puncaknya adalah doa bersama.

- Keseruan Murid KB/TK Amal Insani Saat Fun Cooking Membuat Burger Bersama Geprek Sa'i Sambilegi
- Cari Dana Gempur Rusia, Ukraina Jual NFT Bertema Perang
- DPD Desak Aktor Utama Investasi Bodong Binomo dan Quotex Diusut
Lurah Bantul Supriyadi mengapresiasi tradisi Nyadran yang masih digelar oleh warga Dusun Kaligawe, Bantul ini. Menurutnya, di saat sebagian masyarakat sudah mulai tergerus peradaban, warga Dusun Kaligawe masih terus mempertahankan tradisi Nyadran ini.
“Tradisi Nyadran ini harus terus kita pertahankan sebagai bentuk syukur kita sekaligus mendoakan orang tua dan leluhur kita. Kegiatan ini sangat positif, apalagi melalui kegiatan ini kebersamaan warga RT 01 dan RT 02 Dusun Kaligawe semakin kuat,” ucap Supriyadi.
Dalam tradisi Nyadran ini, warga juga melakukan kenduri dan setiap warga membawa pulang makanan berupa nasi gurih, ingkung, kolak, ketan, dan apem. (*)
