News

Virus Corona Pernah Menjadi Endemi di Asia Timur 25 Juta Tahun yang Lalu, Benarkah?

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Virus corona, yang menyebabkan pandemi Covid-19 setidaknya dalam dua tahun terkahir, diduga juga pernah menjadi endemi bagi nenek moyang o
News
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Virus corona, yang menyebabkan pandemi Covid-19 setidaknya dalam dua tahun terkahir, diduga juga pernah menjadi endemi bagi nenek moyang orang-orang di Asia Timur.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, sebuah virus corona kuno—atau patogen yang terait erat—pernah menjadi epidemi di antara nenek moyang orang-orang Asia Timur sekitar 25 ribu tahun yang lalu.

Penelitian yang terbit di jurnal Current Biology pada 2021 lalu, yang menganalisis DNA lebih dari 2.000 orang, menunjukkan adanya perubahan genetik sebagai respons terhadap epidemi yang terus-menerus terakumulasi selama 20.000 tahun atau lebih.

“Temuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa beberapa orang Asia Timur saat ini telah mewarisi adaptasi biologis terhadap virus corona atau virus yang terkait erat,” kata ahli genetika evolusi David Enard, mempresentasikan penelitian berjudul “An ancient viral epidemic involving host coronavirus interacting genes more than 20,000 years ago in East Asia” tersebut, dalam pertemuan tahunan Asosiasi Antropolog Fisik Amerika, 8 April 2022 lalu.

Peneliti asal University of Arizona ini menyebut, bahwa temuannya bersama tim dapat membuka jalan untuk mengeksplorasi bagaimana gen yang terkait dengan epidemi virus purba dapat berkontribusi pada wabah penyakit modern, seperti pandemi COVID-19 saat ini

“Gen dengan sejarah virus purba mungkin juga memberikan petunjuk bagi para peneliti yang mencari obat antivirus yang lebih baik, meskipun itu masih harus dibuktikan,” sambungnya.

Untuk mencapai kesimpulan dalam penelitiannya tersebut, Enard bersama timnya mempelajari sejumlah database DNA.

Data tersebut terdiri dari DNA 2.504 orang yang mencakup 26 populasi etnis di lima benua, termasuk orang-orang Dai Cina, Kinh Vietnam, dan Yoruba di Afrika.

Pertama-tama, mereka berfokus pada 420 protein yang diidentifikasi telah berinteraksi dengan virus corona, termasuk 332 di antaranya adalah SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19.

Interaksi tersebut termasuk dari yang dapat meningkatkan respons kekebalan, hingga paparan yang memudahkan virus untuk membajak sel dalam tubuh.

Hasilnya, dalam 420 protein yang dianalisis, mereka melihat adanya peningkatan produksi yang substansial, pertanda paparan virus serupa pernah terjadi di masa lalu.

Namun, peningkatan produksi tersebut hanya muncul di gen orang-orang Asia Timur, sebanyak 42 protein.

Setelah mengetahuinya, lantas Enard dkk. pun melacak ke belakang tanggapan virus dari 42 protein untuk kembali ke sekitar 25.000 tahun yang lalu.

“Ditemukan bahwa pola yang kami lacak konsisten dengan respons genetik, yang awalnya kuat terhadap virus dan lambat laun berkurang seiring waktu,” tulis Enard dalam laman bioRxiv.org, dikutip Jumat (24/6/2022).

“Pengurangan respons ini terjadi mungkin karena dua hal; karena orang Asia Timur telah beradaptasi dengan virus, atau karena virus telah kehilangan kemampuannya untuk menyebabkan penyakit,” sambungnya.

Lebih lanjut, Enard juga menjelaskan ada 21 dari 42 varian gen punya respons baik untuk meningkatkan kekebalan, atau mencegah efek buruk dari beragam virus yang masuk dalam tubuh.

“Temuan itu menegaskan, bahwa tubuh sudah belajar caranya mengatasi virus tak dikenal yang mengeksploitasi protein. Pertanda virus corona memang pernah memicu endemi kuno.”

Menanggapi temuan Enard dkk. ini, ahli genetika evolusi dari Pasteur Institute di Paris, Quintana Murci, mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan orang Asia Timur memang telah terpapar epidemi mirip virus corona untuk waktu yang lama.

Tubuh mereka pun akhirnya sudah belajar cara merespons virus serupa di kemudian hari.

Ia pun berspekulasi, hal tersebut mungkin menjadi faktor mengapa orang-orang Asia Timur hari ini lebih mampu beradaptasi secara genetik terhadap pandemi virus corona baru atau Covid-19.

“Meski perlu pembuktian lebih lanjut, ada kemungkinan bahwa penyesuaian DNA terhadap epidemi virus corona selama ribuan tahun dapat berkontribusi pada penurunan infeksi Covid-19 dan tingkat kematian yang dilaporkan di negara-negara Asia Timur, dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip dari Science News. (Eff)