
Warga ke GKR Hemas: Tolong Tambang Pasir di Kali Progo Ditutup
- SLEMAN, Jogjaaja.com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan DIY, GKR Hemas meninjau lokasi penambangan pasir di Padukuhan Jomboran, Sendangagung,
Sleman
SLEMAN, Jogjaaja.com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan DIY, GKR Hemas meninjau lokasi penambangan pasir di Padukuhan Jomboran, Sendangagung, Minggir, Sleman.
Peninjauan itu merupakan tindak lanjut dari aduan warga yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Kali Progo. Warga mengadu ke DPD RI Perwakilan DIY karena resah dengan aktivitas penambangan pasir di wilayah itu.
Pada kesempatan tersebut, GKR Hemas didampingi cucunya RM. Gustilantika Marrel Suryokusumo, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Hardo Kiswoyo.
- Polres Sleman Berhasil Tangkap Pelaku Klithih
- Aplikasi KAI Access Kini Sediakan Fitur Beli Pulsa, Paket Data, Hingga Token Listrik
- November 2021, Kredit Bank Tumbuh 4,82
- BPPTKG Pastikan Terus Awasi Perkembangan Kubah Merapi
- Kota Yogyakarta Raih Penghargaan Kota Terinovatif dalam Innovative Government Award 2021
- Tahun 2021, BNN Bantul Rehabilitasi 37 Orang Rawat Jalan dan 18 IBM
Begitu tiba di Padukuhan Jomboran, GKR Hemas langsung mendatangi bantaran Kali Progo untuk melihat langsung dampak penambangan pasir terhadap lingkungan sekitarnya.
"Tolong tambang pasir di Kali Progo segera ditutup, Ibu Ratu. Kami sudah sangat resah," kata Tandi, warga Padukuhan Jomboran.
Menurut Tandi, keresahan warga akibat aktivitas penambangan pasir di Kali Progo dipicu oleh berbagai hal, diantaranya kerusakan lingkungan seperti bantaran sungai yang terus terkikis sehingga mengancam keberadaan lahan milik warga yang berada di dekatnya, air sumur tercemar hingga polusi suara yang dihasilkan oleh alat berat sehingga mengganggu konsentrasi anak- anak saat menjalani pembelajaran daring di rumah.
Tandi juga menjelaskan perubahan lingkungan yang terjadi terhadap bantaran Kali Progo di sekitar tempat tinggalnya selama beberapa bulan terakhir akibat aktivitas tambang. "Dulu di sini banyak tanaman singkong, Gusti Ratu. Sekarang Gusti Ratu pirsa (melihat) sendiri," tambah Tandi kepada GKR Hemas sambil menunjuk ke beberapa bagian bantaran sungai yang rusak akibat ditambang.
Merespon keluhan tersebut, GKR Hemas meminta agar pihaknya diberi sampel air dari sumur yang dimaksud, untuk kemudian dilakukan uji laborat. "Tolong saya dikirimi sampel air sumurnya, Pak. Biar saya masukkan ke lab," kata GKR Hemas.
GKR Hemas pada kesempatan itu juga meminta kepada Dukuh Jomboran untuk memberi salinan surat izin penambangan yang beroperasi di wilayahnya.
- Mereka yang Menunggu di Banda Naira Jadi Sajian Menarik di Youtube Indonesia Kaya
- Pasar Modal Indonesia Kembali Adakan Vaksinasi Dosis Dua di Kapanewon Girimulyo Kulonprogo
- Ikuti Jejak GoTo, J&T Express Jadi Decacorn Kedua Asal Indonesia
"(Salinan) Surat izin (penambangan) ini saya bawa. Kemudian akan saya pelajari. Kita lihat, ada tidak pelanggaran yang terjadi dalam proses pemberian izin tersebut. Kalau ada, pasti tindakan tegas akan diberikan," kata GKR Hemas. (Anz)
