jogjaaja.com

BI Bakal Terus Kerek Suku Bunga, Analis Ramalkan 75 Basis Poin di November

Ties - Jumat, 23 September 2022 19:39 WIB

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/3/2020). RDG Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5 persen. FOTO ANTARA/Puspa Perwitasari/ama.

undefined

JAKARTA - Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi Bank Indonesia (BI) bisa menaikkan suku bunga hingga 75 basis poin pada bulan November 2022.

Prediksi itu dikemukakan oleh Ibrahim setelah BI baru saja menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung Kamis, 22 September 2022.

Ibrahim mengatakan, kenaikan 50 basis poin yang ditempuh oleh BI melebihi ekspetasi para analis yang memperkirakan bank sentral Indonesia akan mendongkrak suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurut Ibrahim, tampaknya BI mulai mengikuti pola kenaikan suku bunga bank sentral AS alias The Federal Reserve yang baru menaikkan suku bunga mereka juga pada Kamis dini hari, 22 September 2022, sebesar 75 basis poin.

Pada bulan Agustus 2022 pun BI menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sementara para analis memperkirakan suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) akan tetap dipertahankan.

"Ini merupakan suatu gambaran bahwa di pertemuan berikutnya pada saat bank sentral Amerika akan menaikkan suku bunga 100 basis poin, bisa saja BI akan menaikkan 75 basis poin pada pertemuan di bulan November," ujar Ibrahim kepada wartawan, Kamis, 22 September 2022.

Sebagai informasi, selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga mengerek suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 3,50% dan suku bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 5,00%.

Sebelumnya, pada Agustus 2022, BI telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 3,75%. Berarti, dalam dua bulan BI telah menaikkan 75 Bps untuk mengantisipasi inflasi.

"Keputusan kenaikan tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, forward looking, untuk menurunkan ekspektasi inflasi, dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3% plus minus 1 persen pada paruh kedua tahun 2023," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis, 22 September 2022.

Selain itu, lanjut Perry, agar memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar global.

Hal ini di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

Bagikan

RELATED NEWS