jogjaaja.com

Dominasi Konsumen di Kota Besar Bikin Transaksi Individu di Ekosistem GOTO Berpotensi Terus Tumbuh

Tyo S - Jumat, 04 November 2022 18:10 WIB
GoTo menggelar Konferensi Maju Digital 2022 di Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2022. (TrenAsia/Idham Nur Indrajaya)

JAKARTA, Jogjaaja.com – Belakangan ini viral masyarakat ramai mengunggah bukti transaksi dalam nilai tinggi di aplikasi Gojek. Hal tersebut merepresentasikan konsumen di kota-kota besar di Indonesia sekaligus menunjukkan pertumbuhan bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih sangat luas.

”Di kota tier-1 memang layanan GOTO boleh dibilang sudah menjadi keseharian masyarakat,” kata CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menanggapi ramainya aksi netizen dalam tren viral mengunggah bukti total transaksi pengeluaran di aplikasi Gojek yang salah satunya adalah selebriti Amanda Monopo dengan total pengeluaran sebesar Rp253,774 juta untuk periode transaksi mulai 2 November 2021 sampai 2 November 2022.

Selain Amanda ada banyak lagi masyarakat pada umumnya melakukan posting hal yang sama sehingga trending di Twitter. Mereka menyadari bahwa layanan dari ekosistem GOTO sudah menjadi bagian dari keseharian sehingga mencatatkan transaksi rata-rata yang tinggi.

Bernad mengatakan, yang tercermin dari media sosial itu baru masyarakat konsumen di kota-kota besar. Belum ke kota tier-2 dan seterusnya yang merupakan ruang ekspansi serta pertumbuhan GOTO di masa mendatang. ”Karena penetrasinya yang belum terlalu tinggi di luar kota besar,” terusnya, seperti dikutip dari Trenasia.com, jejaring media Jogjaaja.com, Jumat (4/11)

Kota-kota tier-2 dan seterusnya adalah salah satu ruang besar pertumbuhan transaksi pada ekosistem GOTO seiring pemerataan akses digital ke seluruh daerah di Indonesia.

Dalam situasi perekonomian saat ini yang salah satunya terjadi kenaikan inflasi sehingga diikuti kebijakan kenaikan suku bunga, Bernad menilai, beberapa layanan GOTO terutama dari bisnis on-demand akan lebih resilient (tahan banting). ”Karena sudah mempunyai stickiness bagi para penggunanya,” ujarnya.

Sementara berkaitan dengan harga sahamnya, Bernad melihat secara teknikal GOTO sudah oversell (jenuh jual) sehingga ada peluang untuk rebound. ”Untuk jangka menengah pergerakan saham teknologi secara keseluruhan sedang dalam pressure karena kenaikan suku bunga yang tinggi,” ucap Bernad.

Associate Director of Research Pilarmas Investindo, Maximilianus Nicodemus, mengatakan tingginya transaksi individu di aplikasi Gojek dan platform ekosistem GOTO lainnya seolah mengonfirmasi riset yang dilakukan RedSeer sebagaimana dipublikasi saat GOTO melakukan IPO. ”Bahwa secara total, layanan GOTO mencakup duapertiga dari seluruh total pengeluaran masyarakat,” ucapnya.

Nico, sapaan akrabnya, menilai banyak layanan GOTO memang sudah menjadi bagian dari kebutuhan keseharian masyarakat. Tercermin juga dari kinerja keuangan GOTO sampai dengan semester-I 2022.

Pendapatan Kotor GOTO naik 49% year on year mencapai Rp 10,7 triliun pada setengah tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 7,19 triliun (proforma). Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp 3,39 triliun, melesat 73% dari semester I-2021 senilai Rp 1,96 triliun.

Adapun dari sisi Gross Transaction Value (GTV) secara kuartalan, khusus pada kuartal kedua tahun 2022 saja tercatat GTV GOTO mencapai sebesar Rp 150,5 triliun atau melampaui target yang dicanangkan secara kuartalan berkisar antara Rp 142 triliun - Rp 150 triliun.

”GOTO merupakan pemilik ekosistem terbesar di Indonesia. Tidak hanya ekosistem tapi juga User Experience(UE) yang mereka bangun. Maka kita cukup bergantung kepada aplikasi tersebut. Dan peningkatan user terus menerus terjadi, apalagi potensi peluang ekonomi digital sangat besar. Ini merupakan pasar bagi GOTO yang ekosistem besar dan tingkat engagement tinggi. GOTO sudah jadi kebutuhan dan bukan keinginan,” Nico menegaskan.

Dalam jangka menengah dan panjang, Nico melihat GOTO bukan hanya ditopang fundamental bisnis eksisting tetapi juga inovasi bisnis lainnya yang salah satunya masuk dalam ekosistem kendaraan listrik. Terutama sepeda motor. ”Pemerintah sudah mengharapkan kendaraan listrik bisa mendominasi di 2023, ini jadi momentum bagi GOTO. Ketika ekonomi pulih GOTO bisa memimpin kendaraan listrik,” terangnya. (*)

Editor: Tyo S
Bagikan

RELATED NEWS