jogjaaja.com

Hari Guru Nasional: Terapkan Literasi Digital Sejak Dini dengan Manfaatkan Teknologi

Tyo S - Kamis, 25 November 2021 14:15 WIB
Sejak adanya pandemi COVID-19, pembelajaran daring menjadi konsep baru dalam sistem pendidikan di Indonesia.

JAKARTA, Jogjaaja.com - Pembelajaran daring masih menjadi metode yang diandalkan hingga saat ini. Untuk memperingati Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November, berikut cerita para guru yang berusaha mengoptimalkan sistem pembelajaran daring tersebut.

Shita Dharmasari atau biasa disapa Shita, lahir di Yogyakarta 49 tahun silam. Ia memantapkan hati untuk bergerak di bidang pendidikan mengikuti cita-citanya sejak kecil. Shita memulainya dengan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi kesehatan di Kota Bandar Lampung. Saat itu ia melihat rendahnya literasi dan penguasaan keterampilan abad 21, yaitu komunikasi, kolaborasi, kreatif dan berpikir kritis pada mahasiswanya. Ia meyakini bahwa kekuatan literasi seharusnya dibangun sejak usia dini sehingga pada tahun 2005 ia memutuskan untuk membuka sekolah Lazuardi Haura Global Compassionate School, Bandar Lampung, dan menjadi guru untuk taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan kemudian sekolah menengah pertama sampai sekarang.

Saat pandemi Covid-19 melanda, semua sekolah harus turut menyesuaikan diri untuk beralih ke pembelajaran online. Menurut Shita, pembelajaran di TK memiliki tantangan yang paling berat selama pandemi. Sebagai pendidik ia merasa harus mencari cara agar pada saat usia emas, tumbuh kembang dan sosial emosional anak-anak bisa tetap mendapat stimulasi dengan bermain dan belajar yang menyenangkan juga bermakna meski pembelajaran dilakukan secara daring dengan tetap membuat anak bijaksana dalam menggunakan internet.

Tantangan inilah yang membuat Shita segera membuat pelatihan tentang Google Workspace for Education untuk guru-guru TK dengan mengadopsi model pembelajaran SMP Lazuardi Haura yang telah melakukan blended learning terlebih dahulu jauh sebelum pandemi. Segera sekolah membuatkan akun bagi semua murid TK dan membuat demo video agar murid dan orang tua di rumah mendapat tutorial tentang bagaimana menggunakan Classroom.

“Kami melakukan pembelajaran sinkron yaitu interaksi pembelajaran guru dan murid yang dilakukan pada waktu yang bersamaan, menggunakan teknologi video conference dengan memanfaatkan Google Meet. Kami juga melakukan pembelajaran asinkron dengan murid, yaitu Guru mempersiapkan materi lebih dulu, antara lain membuat video pembelajaran, referensi bacaan, lembar kerja dengan Google Document, Google Sheet, atau presentasi dengan Google Slide, lalu menyematkannya di Classroom. Kemudian murid dapat mengakses modul-modul belajarnya dari media yang disediakan di Google Classroom. Sehingga interaksi pembelajaran dapat dilakukan secara fleksibel tidak harus dalam waktu yang sama,” ungkap Shita.

Menurutnya, kombinasi pembelajaran ini membuat anak-anak yang berada di bangku TK juga bisa tetap semangat dengan praktek belajarnya. Anak-anak senang bernyanyi dan menari dengan latihan bersama guru secara langsung melalui Google Meet dan anak-anak dapat terus berlatih di rumah dengan mengikuti video guru yang ditautkan di Classroom.

“Dengan memanfaatkan aplikasi -aplikasi yang ada di Google Workspace for education, kami buat sedemikian rupa, anak-anak dapat dengan mudah mengikuti pembelajaran di kelas virtualnya. Orang tua merasa sangat terbantu, senang dan takjub, melihat anak mereka bisa mandiri di rumah saat mengikuti pembelajaran di kelas setiap harinya. Anak-anak dapat mengakses Classroom sendiri, bergabung di Meet dengan tautan yang ada di Classroom dengan mudah ketika orang tua harus bekerja. Kami juga memanfaatkan Site untuk memamerkan portofolio murid di kelas agar orang tua dapat melihat karya anak-anaknya” paparnya.

“Untuk SD dan SMP, kami juga memanfaatkan Google Jamboard untuk interaksi dalam pembelajaran, Google Earth untuk pembelajaran sosial dan sains dan YouTube untuk referensi belajar. Untuk memberikan dukungan pada pembelajaran Hybrid Learning dan meningkatkan keamanan dalam berinternet, Tahun 2021 ini kami juga mulai membekali siswa kami di SD dan SMP untuk menggunakan Chromebook,” cerita Shita.

Adaptasi teknologi membuat guru-guru semakin bersemangat. Shita yang juga adalah Google Certified Educator dan Google Educator Group Lampung melakukan pelatihan untuk guru-guru menjadi pendidik Google Bersertifikat. Hal ini sejalan dengan perannya sebagai Guru Penggerak, sebuah program pendidikan kepemimpinan bagi guru dari Kemendikbud Ristek untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang menerapkan merdeka belajar dan menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid. Guru Penggerak menggerakkan komunitas belajar bagi guru di sekolah dan di wilayahnya serta mengembangkan program kepemimpinan murid untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Perbedaan Zona Waktu Bukan Lagi Tantangan Pendidikan

Pembelajaran daring masih menjadi metode yang diandalkan hingga saat ini. Untuk memperingati Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November, berikut cerita para guru yang berusaha mengoptimalkan sistem pembelajaran daring tersebut.

Ibnu Syifa adalah seorang pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi di SDIT AL HARAKI, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelum menjadi seorang guru, Ibnu pernah menjajal berbagai profesi lain, namun sang kakek pernah berpesan untuk menjadi orang yang bermanfaat, terutama bagi banyak orang, ia pun dengan mantap menjadi guru dan itu menjadi keputusan terbaik yang Ibnu pilih.

“Tiap hari saya mengajar, tiap hari itu pula saya belajar. Delapan tahun saya lalui tanpa rasa bosan sama sekali. Bayangkan tiap pagi datang ke sekolah disambut tawa riang, peluk, dan tegur sapa anak-anak. Satu pengalaman menarik yang saya rasakan ketika menjadi guru, di mana pun saya bertemu murid saya mereka akan cium tangan. Bahkan saat tinggi badan mereka sudah melampaui tinggi badan saya, tidak ada bekas guru dan bekas murid. Seperti tidak ada bekas orang tua dan anak,” ungkapnya.

Ibnu melihat pandemi sebagai peluang untuk mengawinkan teknologi dengan pendidikan. Teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan pendidikan dan sebaliknya pendidikan dapat membumikan teknologi menjadi topik yang lumrah, tidak hanya untuk murid, tapi seluruh ekosistem belajar. Karena murid Ibnu ada yang tinggal di Amerika dan berbagai negara lainnya, selama bisa belajar dari rumah, perbedaan zona waktu bukanlah lagi tantangan.

“Beruntung saya dan teman-teman bernaung dalam sebuah sekolah yang up to date, baik dalam bidang pendidikan maupun teknologi. Kami didukung penuh dalam mensinergikan pendidikan dan teknologi dan menerapkannya dalam pembelajaran jarak jauh. Juga dengan bantuan Google Workspace for Education yang sudah terintegrasi ke dalam proses pembelajaran kami sehari-hari, pelayanan pendidikan tetap bisa kami jalankan dengan baik,” tambahnya.

Saat ini, Ibnu mengajar murid Sekolah Dasar di kelas 4-6 dengan total murid sebanyak 320 orang. Sebagai seorang guru TIK, metode belajar dengan teknologi sudah ia manfaatkan sejak awal. Namun belajar mengajar dalam kondisi ditengah pandemi tentu saja memiliki tantangan, salah satunya karena terdapat perbedaan emosi. Seperti sulitnya mendapat perhatian penuh murid karena tidak semuanya memiliki suasana yang mendukung untuk belajar dari rumah.

Selain dukungan dari sekolah, untuk mengatasi tantangan pendidikan di tengah pandemi, Ibnu yang juga seorang Google Certified Educator bergabung di Google Educator Group untuk membantunya mencari referensi sumber belajar dan metode pengajaran. “Google memiliki fitur yang sangat lengkap dalam setiap proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pengajaran, penilaian, bahkan manajemen kelas. Dalam pengajaran, G Suite for Education memiliki segudang aplikasi yang membuat pembelajaran daring tidak kalah menyenangkannya dengan pembelajaran dalam kelas, seperti Classroom, Meet, Sites, Drive, Dokumen dan lainnya”.

Kembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Murid Saat Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring masih menjadi metode yang diandalkan hingga saat ini. Untuk memperingati Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November, berikut cerita para guru yang berusaha mengoptimalkan sistem pembelajaran daring tersebut.

Febriandrini Kumala (atau yang akrab disapa Andri) merupakan guru di SMP Lazuardi Al Falah Klaten yang telah bergabung sejak tahun 2017. “Saya menjadi guru sejak tahun 2003 di pendidikan non formal dan pernah membuat lembaga pendidikan non formal juga hingga akhirnya bergabung dengan SMP Lazuardi Al Falah. Yang mendorong saya menjadi guru adalah karena keluarga besar saya sebagian besar berprofesi sebagai pendidik sehingga profesi ini tidak asing bagi saya, dan juga saya ingin membantu anak-anak lain selain anak saya sendiri untuk bisa belajar lebih baik dan mengembangkan potensi diri mereka agar berguna bagi masyarakat,” ungkap guru yang mengampu mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia ini.

SMP Lazuardi Al Falah telah lama memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar, meskipun hanya sebatas menggunakan komputer dan proyektor untuk presentasi materi ataupun belajar membuat blog, animasi, dan lainnya di mata pelajaran TIK. Hingga akhirnya sekolah mengenal dan mengadakan pelatihan kepada guru tentang penggunaan Google untuk pembelajaran pada akhir tahun 2017.

Setelah mencoba selama setahun, pada tahun 2019 aplikasi sekolah untuk Google Workspace for Education disetujui dan mulai digunakan dalam proses pembelajaran. Sekolah pun mulai melakukan flipped learning, di mana guru menggunakan Classroom untuk menata materi belajar agar murid bisa mengakses materi belajar kapan saja di luar kelas.

Meski demikian, ketika pandemi COVID-19 memaksa pembelajaran harus dilakukan secara daring, Andri bersama rekan guru lainnya tetap menghadapi tantangan. “Kami para guru tidak langsung paham bagaimana caranya mengajar daring yang baik. Kami memang memiliki akun Workspace for Education, tapi belum semua guru terbiasa dengannya. Kami tidak bisa hanya memindahkan cara mengajar kami di kelas ke Classroom. Jadi hal pertama yang kami perbaiki adalah hubungan antara kami dengan murid dan orang tua, serta memperbaiki cara berkomunikasi melalui platform Meet dan Classroom,” jelas Andri.

SMP Lazuardi Al Falah menyadari bahwa para guru harus menghadirkan pembelajaran online yang bisa mengembangkan kemampuan murid untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif. “Pada kenyataannya, cara belajarnya masih lama. Akhirnya saya mencari cara agar murid bisa berkolaborasi selama pembelajaran daring. Saat ini kami sedang mencoba membuat naskah drama dengan kolaborasi menulis skrip adegan di Dokumen, lalu merekam adegan-adegan di Meet, dan kemudian menggabungkan audionya dengan Slides dengan aplikasi video editor,” ceritanya.

Menurut Andri, untuk mendukung pembelajaran online, terdapat dua aplikasi Google yang pasti digunakan, yaitu Meet untuk sesi sinkronus dan Classroom untuk sesi asinkronus. Sementara Slide digunakan untuk modul belajar di rumah, Dokumen untuk membuat laporan dari kegiatan proyek dan Spreadsheet untuk mengolah data. Sekolah ini juga mengembangkan asesmen berbasis portofolio sehingga menggunakan Sites untuk memberikan penilaian portofolio sekaligus laporan perkembangan murid kepada orangtua.

Guru yang menjadi Leader of Google Educator Group di Klaten ini menyampaikan, “Kami menjadi salah satu sekolah di Klaten yang berhasil menyelenggarakan asesmen beragam berbasis kompetensi sebagai standar kelulusan murid di tahun ajaran 2020-2021 lalu. Dengan desain asesmen ini, secara tidak langsung berarti pembelajaran telah berubah. Kami mulai bergeser dari berbasis konten ke berbasis kompetensi yang menggali potensi daerah dan mengintegrasikan dengan teknologi. Kedepannya, kami ingin mengembangkan asesmen dengan menggunakan teknologi.” (*)

Editor: Tyo S

RELATED NEWS