jogjaaja.com

Kasus DBD di Kota Yogya Melonjak Sepanjang 2022, Dua Pasien Meninggal Dunia

Ties - Jumat, 05 Agustus 2022 19:39 WIB
Sejumlah produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya ditemukan BBPOM Yogyakarta saat sidak beberapa waktu lalu. (Anz)

YOGYA,Jogjaaja.com- Warga masyarakat Kota Yogyakarta harus menaruh perhatian serius terhadap potensi penularan demam berdarah dengue (DBD).

Sebab, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyatakan tekah tedapat ratusan warga yabg mengidap penyakit ini dengan angka kematian mencapai dua orang.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga Juli 2022 ini sebanyak 107 kasus DBD dilaporkan terdeteksi di wilayahnya.

Dari jumlah itu dua diantaranya meninggal dunia. Jika diperinci, sebaran DBD paling mencolok terjadi Januari silam, yang menyumbang 41 kasus sekaligus.

"Selebihnya, penularan konsisten di bawah 25 kasus per bulan," kata Endang, Jumat (5/8/2022).

Ia menyebut, lonjakan kasus tersebut tidak dapat disepelekan oleh warga. Terlebih, ada dua warga yang harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat DBD.

"Januari itu kan ada 41 kasus, Februari 13, Maret 10, April 9, Mei 22, Juni 7 dan Juli 5. Semoga grafiknya bisa turun terus. Kemudian, dua pasien yang meninggal dunia ya, di Klitren serta Keparakan," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa, dibandingkan data pada 2021 lalu sebaran DBD di Kota Yogyakarta memang melonjak cukup drastis. Sepanjang 2021 lalu Dinkes hanya menjumpai 94 kasus dengan satu pasien meninggal dunia.

"Makanya ini memang ada peningkatan. Warga masyarakat harus semakin mewaspadai potensi DBD," urainya.

Endang menduga bahwa intensitas hujan yang sejak awal tahun konsisten tinggi sangat mempengaruhi sebaran DBD di wilayahnya. Ditambah lagi, masyarakat dewasa ini mulai menunjukkan keengganan dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di sekitaran lingkungannya.

"Sementara gerakan satu rumah satu jumantik cenderung kurang optimal. Kemudian PSN mengendor, padahal itu kan sangat penting untuk menekan kasus," ujarnya.

Lebih lanjut, Endang menyampaikan, program nyamuk ber-wolbachia hingga kini masih bergulir di Kota Yogyakarta dan dinilai ampuh untuk menekan angka DBD.

Bahkan, katanya, penerapan program ini semakin diperluas, dan mulai diratakan di seluruh kemantren di Kota Pelajar.

"Nyamuk wolbachia sudah lama diterapkan di semua wilayah. Dinkes juga masih rutin menggulirkan pemantauan, dengan mengambil sample-sample nyamuk di wilayah, apa masih ber-wolbachia atau tidak," pungkas Endang. (Anz)

RELATED NEWS