jogjaaja.com

Lemper Raksasa Diarak dalam Tradisi Rebo Pungkasan

Tyo S - Rabu, 21 September 2022 14:45 WIB
Tradisi Rebo Pungkasan di Wonokromo, Pleret, Bantul.

BANTUL, Jogjaaja.com – Setelah dua tahun digelar dengan sederhana karena pandemi Covid-19, tradisi Rebo Pungkasan kembali diselenggarakan dengan meriah di Pendopo Kalurahan Wonokromo, Pleret, Bantul pada Selasa malam (20/9/2022). Rebo Pungkasan merupakan wujud syukur sekaligus pengharapan agar dijauhkan dari segala bentuk malapetaka.

Biasanya, tradisi ini dilaksanakan pada malam Rabu terakhir di bulan Safar, atau biasa disebut ‘Sapar’ oleh masyarakat Jawa. Tradisi Rebo Pungkasan tidak lepas dari keberadaan seorang pemuka agama di Wonokromo bernama Kyai Faqih Usman. Dirinya tersohor sebagai pribadi yang memiliki ilmu agama dan ketabiban. Peristiwa Rebo Pungkasan ini sebagai penanda waktu pertemuan Kyai Faqih dengan Sultan Agung yang pernah memimpin semasa Mataram Islam memusatkan pemerintahnnya di wilayah Kerto, Pleret.

Keunikan dalam tradisi ini ada pada pemilihan simbol atau ikon berupa lemper raksasa dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Konon, lemper dipilih sebagai ikon karena merupakan kudapan favorit Sultan Agung.

Lemper raksasa tersebut diarak bersama dengan gunungan. Arak-arakan dimulai dari Masjid Al-Huda, Karanganom, dan finish di Kalurahan Wonokromo. Masyarakat antusias menyaksikan arak-arakan ini.

“Saya sengaja datang dari Bantul Kota untuk nonton Rebo Pungkasan ini. Seumur-umur, saya memang belum pernah nonton langsung acara arak-arakan Rebo Pungkasan ini. Ternyata menarik dan menambah khasanah budaya kita,” kata seorang pengunjung bernama Dwi.

Pada panggung utama yang berlokasi di pendopo Kalurahan Wonokromo juga ditampilkan berbagai kesenian seperti geguritan dan juga tari radad. Selain itu ada pula dialog bersama dengan Kementerian Desa PDTT, Kemendekbud, dan juga Bupati Bantul.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengapresiasi salah satu warisan budaya tak benda yang dimiliki masyarakat Kalurahan Wonokromo. Menurutnya, acara seperti ini budaya yang harus terus dilestarikan.

"Dengan tradisi ini warga Wonokromo khsusunya akan semakin menyadari pentingnya pelestarian budaya adiluhung, budaya yang bisa mendorong kita lebih produktif, golong gilig, lebih kompak untuk mencapai kebaikan-kebaikan dan kemaslahatan," ujar Halim. (*)

Editor: Tyo S

RELATED NEWS