jogjaaja.com

Mengenal DARVO, Teknik Manipulasi yang Digunakan Johnny Depp dalam Persidangan

Ties - Kamis, 23 Juni 2022 14:46 WIB
Ilustrasi pengadilan

YOGYA, Jogjaaja.com - Persidangan yang melibatkan pasangan pesohor Hollywood, Johnny Depp dan Amber Heard, akhirnya berakhir dengan pihak laki-laki keluar sebagai yang dimenangkan.

Kendati kasus telah ditutup, perbincangan terus berlanjut, salah satunya ketika akun Twitter @k4mil1aa, yang merupakan salah satu penulis di media She The People menuding Depp menggunakan teknik manipulasi selama persidangan.

“Thread ini adalah tentang mengapa pakar kekerasan dalam rumah tangga lebih mempercayai Amber Heard, apa itu DARVO, dan bagaimana Johnny Depp menggunakannya untuk lolos begitu saja,” tulisnya pada Selasa (21/6/2022) lalu.

Ia menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan Depp untuk memenangkan persidangan sesungguhnya tak lebih dari teknik manipulasi.

Menurutnya, Depp berhasil mengambil simpati publik dan menempatkan posisi mantan istrinya tersebut sebagai pihak yang bersalah. Ia pun menuding, selain menang, teknik DARVO yang dipakai Depp juga berhasil membuat “Heard dipermalukan secara global”.

Selain akun @k4mill1a, pengacara sohor Amerika Serikat (AS) Mark Stephens juga menjelaskan, bahwa memang DARVO lah yang membuat Depp memenangkan sidang di AS, meski aktor tersebut pernah kalah di persidangan yang sama di Inggris tahun 2020 lalu.


“Kami menemukan bahwa DARVO bekerja sangat baik bagi juri, tetapi hampir tidak pernah bekerja untuk keputusan hakim,” kata Stephens pada Washington Post, dikutip Rabu (22/6/2022).

Lantas, apa itu DARVO, dan bagaimana itu dikaitkan dengan kasus kekerasan seksual?

DARVO sendiri merupakan akronim dari “Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender” (Menyangkal, Menyerang, dan Membalikan Korban dan Pelaku).

Ini merupakan sebuah taktik manipulasi yang biasanya digunakan oleh pelaku kekerasan seksual untuk membungkam korban agar mereka merasa malu dan bersalah atas kesaksiannya.

Istilah ini pun hampir mirip dengan ‘gaslighting’, atau memanipulasi korban sehingga ia mempertanyakan kembali kebenaran pernyataannya.
Profesor psikologi University of Oregon, Jennifer J. Freyd, adalah orang pertama yang mengkonseptualisasikan DARVO.

Melalui artikelnya berjudul “What is DARVO?” yang terbit 1997 lalu, ia menulis bahwa DARVO adalah “reaksi perbuatan pelaku, khususnya pelaku kekerasan seksual, sebagai respons atas tindakan yang harus mereka pertanggungjawabkan.”

Respons-respons pelaku ini biasanya berbentuk menyangkal pernyataan korban, menyerang individu yang memberikan kesaksian, dan membalikkan peran antara pelaku dan korban. Dengan taktik terakhir, pelaku seolah-olah akan berperan sebagai "korban".

Sederhananya, pelaku menyangkal, menyerang balik atau mengkonfrontasi korban, dan membalikkan peran. Sehingga pelaku disangka korban, dan korban disangka pelaku.

“Oleh karena itu, dapat dikatakan DARVO digunakan pelaku untuk melindungi diri dan tidak mau mengakui kesalahan,” tulisnya.

Sayangnya, meskipun teknik ini merupakan cara-cara manipulatif yang merugikan korban, seringkali ia efektif mengelabui individu, publik, bahkan penegak hukum sekalipun.
Dalam penelitian berjudul “Perpetrator Responses to Victim Confrontation: DARVO and Victim Self-Blame” yang terbit di Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma (2017), Jennifer dan timnya menemukan bahwa korban yang terkena DARVO lebih cenderung merasa menyalahkan diri sendiri pada akhir wawancara.

“Di sini, kita melihat bahwa paparan tingkat DARVO yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan perasaan orang tentang konfrontasi. Sehingga mendengar lebih banyak DARVO adalah pengalaman yang jauh lebih negatif untuk korban,” tulisnya.

Sementara, pada penelitiannya pada 2020, Jennifer juga menunjukkan bahwa orang-orang yang disajikan dengan laporan pelecehan diikuti oleh aksi DARVO, cenderung tidak mempercayai korban.

Dalam sebuah eksperimen yang melibatkan 316 mahasiswa, ia menemukan bahwa seseorang yang terpapar DARVO akan menganggap korban kurang dapat dipercaya, lebih bertanggung jawab atas kekerasan, dan punya sikap lebih kasar.

“Bahkan, DARVO juga mengarahkan [mengsugesti] seseorang untuk menilai pelaku sebagai orang yang lebih halus dan bertanggungjawab,” tulis Jennifer, dalam penelitian berjdudul “Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender (DARVO): What Is the Influence on Perceived Perpetrator and Victim Credibility?”, dikutip Rabu (22/6/2022).

Himpati—istilah yang diciptakan oleh filsuf Kate Manne, dalam bukunya Down Girl: The Logic of Misogyny (2017)—dianggap sebagai faktor yang mampu menjelaskan mengapa DARVO bekerja cukup efektif.

Himpati sendiri merupakan rasa simpati berlebihan. Dalam kasus DARVO, simpati berlebihan ini biasanya mengarah kepada pelaku kekerasan seksual laki-laki.

“Dalam gagasan himpati, seseorang biasanya lebih berempati kepada laki-laki daripada perempuan. ”

"Mereka lebih nyaman meminta perempuan untuk menanggung seksisme, termasuk kekerasan, sebagai bagian dari peran feminin dan untuk melindungi reputasi dan kekuasaan laki-laki. DARVO mengacu pada bias budaya tersebut," jelas Jennifer. (Eff)

Tags DARVOJohny DeppBagikan

RELATED NEWS