jogjaaja.com

Motif Agama dan Politik di Balik Pembangunan Candi Borobudur

Ties - Senin, 06 Juni 2022 18:08 WIB
null

YOGYA, Jogjaaja.com - Ketika pertama kali melihat bangunan kuno dan megah tersebut, Letnan Gubernur Jendral Hindia-Belanda Sir Stamford Raffles tercengang.

Awalnya, ia belum tahu nama dari bangunan itu. Melalui catatannya dalam History of Java, saat itu Raffles mendengar warga sekitar menyebutnya “Candi Borobudur”.

Dia mengasumsikan bahwa kata “boro” berarti agung dan “budur” merupakan kata lain dari Buddha. Akhirnya, sejak saat itu Raffles mulai mencari tahu lebih dalam lagi soal bangunan tersebut.

Tercatat sejak tahun 1814, ia menugaskan seorang insinyur untuk menyelidikinya dan sebanyak sekitar 200 orang melakukan penggalian.
Baru sekitar tahun 1835, ketika Raffles tidak lagi memimpin, bangunan tersebut dapat berdiri bebas.

Panel-panel kaki bangunan dan relief candi mulai terlihat

Dalam History of Java, Raffles memang menulis bagaimana candi ini ditemukan bahkan sampai dengan penamaannya.

Namun, ia sama sekali luput dalam menjelaskan mengenai bagaimana candi ini dibangun.

Lantas, bagaimana sebenarnya Candi Borobudur dibangun, serta apa motif yang melatarbelakanginya?


Peneliti Southeast Asian Studies Departement dari National University of Singapore, John Miksic, menyebut bahwa motif agama menjadi dasar dari pembangunan Candi Borobudur.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Borobudur: Golden Tales of the Buddhas”, ia menulis bahwa periode dibangunnya candi tersebut adalah masa di mana intelektual mengalami kebangkitan sangat intens.

“Selama abad ke-7 dan ke-8, peziarah Buddha yang berlayar melalui Indonesia meningkat begitu pesat,” tulisnya.

Miksic mencatat, saat itu Jawa dan Sumatra memang menjadi pusat pendidikan Buddha berskala internasional.

Fakta itu terlihat dari catatan-catatan para penjelajah, misalnya, biksu Tiongkok I-Tsing yang mengaku menghabiskan enam bulan belajar Bahasa Sanskerta di Sriwijaya, Sumatra.

Selain I-Tsing, Miksic juga menambahkan, bahwa ada banyak juga biksu-biksu Sinchuan dan Tonkin yang pergi ke pulau Jawa untuk belajar Buddha. Ada pula biksu-biksu asal India Selatan, serta seorang biksu Sri Lanka yang begitu terkenal, Amonghavajra.

Dari fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa Nusantara, khususnya Jawa dan Sumatra pada masa tersebut memang mengalami perkembangan intelektual yang intens hingga menjadi pusat pendidikan Buddha.

Akhirnya, ketika kontak budaya luar semakin terbuka, kata Miksic, “gagasan Buddha Mahayana mulai tersebar di sepanjang rute perdagangan maritim Jawa dan Sumatra”.

Alhasil, ajaran-ajaran inilah yang memotivasi orang-orang Jawa kuno dalam membangun konstruksi bangunan seperti Candi Borobudur.


“Bangunan-bangunan suci ini kebanyakan dipakai untuk upacara-upacara suci dalam mempercepat pencapaian spiritual mereka,” kata Miksic.

Selain karena motif keagamaan, Miksic juga menduga adanya simbol politik dalam konstruksi Candi Borobudur, khususnya melalui penemuan stupa.


Menurutnya, pembangunan puncak stupa seringkali dimotivasi oleh pertimbangan politik. Misalnya, Raja Ashoka dari Maurya membangun 84.000 stupa sebagai simbol kedaulatan teritorialnya.

“Puncak menara di bagian atas stupa sering digambarkan sebagai ‘paku’ yang secara fisik memungkinkan penguasanya menjaga tanahnya agar stabil dan damai,” lanjutnya.

Miksic menjelaskan dugaanya bahwa Candi Borobudur sangat mungkin dibangun sebagai simbol kekuatan politik.

Arkeolog Soekmono dalam bukunya Chandi Borobudur juga mengamini dugaan Miksic. Katanya, proyek sebesar Candi Borobudur sangat sulit untuk dihindarkan dari kepentingan politik.

Hal itu karena di Jawa pada masa itu, Buddha tak sepopuler di Sumatra. Di Jawa, agama Hindu lebih bertahan lama dan populer. Maka, Buddha yang erat dengan pemerintahan Dinasti Syailendra membangun Candi Borobudur untuk menegaskan kekuatan mereka.

Ini juga selaras dengan masa keemasan Dinasti Syailendara, yakni 750 Masehi hingga 850 Masehi, tahun di mana Candi Borobudur juga dibangun. (Eff)

RELATED NEWS