jogjaaja.com

Pakar Transportasi UGM Apresiasi Manajemen Mudik Lebaran 2022, Tapi Butuh Pembenahan

Ties - Sabtu, 14 Mei 2022 09:41 WIB
Kendaraan mengantre saat penutupan Jalan Tol Dalam Kota yang mengarah ke Tol Cikampek di Jakarta, Sabtu, 7 Mei 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

SLEMAN, Jogjaaja.com - Pakar teknik lalu lintas dan teknik transportasi UGM, Dr. Ir. Dewanti., M.S., menilai mudik di tahun 2022 jauh lebih baik dibanding pada tahun 2019.

Meski begitu masih diperlukan beberapa evaluasi untuk perbaikan kedepannya.

Menurutnya, bukan persoalan mudah mengatur dan melayani perjalanan massal dengan jumlah yang sangat banyak dan dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Apalagi mudik tahun ini seperti gelombang besar setelah dua tahun ditiadakan mudik.

“Terakhir mudik kan di tahun 2019 lalu, kalau tidak salah ada kasus Brexit. Sementara tahun ini sedemikian riuh dan heboh setelah dua tahun tidak ada mudik. Tentu tidak mudah mengatur kondisi seperti itu, menjadi hal lumrah masih ada kurang di sana-sini," ujarnya, di Pustral UGM.

Sebagai pakar transportasi, Dewanti mengapresiasi berbagai ujicoba yang dilakukan pemerintah melalui pengaturan perjalanan mudik dari skema model one way, model ganjil genap dan lain-lain. Model ini, dinilainya cukup memberi solusi sebab sebagian besar tol di pulau Jawa sudah tersambung.

Meski diakui kebijakan ini mengundang sejumlah protes dari para pengendara ketika mereka terkena dampak dari pengaturan. Sejumlah penumpukan memang terlihat dari arah Jakarta menuju arah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Meski mepet waktu dari pengumuman dibukanya mudik, upaya-upaya perbaikan sudah dilakukan secara beragam baik dari sisi manajemen lalu-lintas, infrastruktur dan sistem informasi dan lain-lain," ungkapnya.

Berbicara persoalan lalu-lintas, kata Dewanti, tentu muncul persoalan ketika terjadi pergerakan besar di tempat dan pada waktu yang sama. Terlebih mudik 2022 melibatkan 85 juta pemudik yang melakukan perjalanan dalam tempat dan waktu yang hampir bersamaan.

Menurutnya kondisi normal untuk melayani situasi tidak normal tentu menimbulkan sejumlah masalah. Oleh karena itu, menurutnya, perlu kiranya mempertimbangkan jalur sisi selatan sebagai upaya pengembangan jalan kedepan.

Meski diakui topografi jalur selatan berbeda dengan jalur tengah dan sisi utara. Kondisi sisi selatan Jawa Barat ini memiliki kontur tanah naik turun dan berkelok-kelok, hal tersebut tentu menjadi kendala tersendiri bagi pengendara, dan memakan cost cukup besar untuk pengembangan.

“Dengan berkelok-kelok dan naik turun relatif jalan sempit karenanya menjadikan orang akan mikir dan cenderung lebih memilih jalan tol sisi tengah," terangnya.

Karena itu, imbuhnya, bagaimana ke depan bisa mengoptimalkan jalan-jalan non-tol sebagai satu sistem jaringan jalan. Artinya bisa saja dilakukan simulasi dengan berapa orang yang akan bergerak dengan rentang waktu yang pendek sehingga akan terlihat seberapa kemampuan jalan tol melayani.

“Sehingga jika tol sudah melampaui kemampuan maka perlu kiranya melimpahkan ke jalan-jalan non tol. Karenanya sistem informasi begitu penting bagi pengguna jalan," paparnya.

Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan yang menyangkut transport demand, bagaimana mengatur para pemudik atau pengendara tidak keluar ke jalan tol secara bersamaan. Oleh karena itu, menurutnya, ajakan presiden berangkat lebih awal melakukan mudik sebagai langkah baik.

Demikian juga imbauan wfh untuk ASN Jakarta dan sekitarnya di akhir libur mudik dinilai turut membantu mengurai persoalan kemacetan. Ini dinilai tepat disampaikan mengingat jika disampaikan di awal libur maka diperkirakan kepulangan para pemudik akan menumpuk di belakang.

“Di akhir kemarin menyusul kebijakan untuk yang ASN diminta masih wfh sehingga bisa menunda kepulangannya. Dalam konteks mengatur waktu hal ini sangat berpengaruh, coba disampaikan di awal-awal bisa jadi mereka akan menunda pulang."

"Hal penting lain adalah soal law inforcement perlu untuk ditingkatkan, termasuk pengaturan ganjil genap, ini sangat membantu sekali," tuturnya.

RELATED NEWS