Budaya

5 Rekomendasi Wisata Candi Eksotik di Jogja yang Bisa Kamu Kunjungi

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Banyak lokasi wisata yang dapat dikunjungi ketika berlibur ke Kota Jogja. Mulai dari pantai, gunung, hingga wisata belanja dan kongkow di
Budaya
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Banyak lokasi wisata yang dapat dikunjungi ketika berlibur ke Kota Jogja. 

Mulai dari pantai, gunung, hingga wisata belanja dan kongkow di sepanjang Jalan Malioboro.

Namun, di Jogja bisa juga melakukan safari wisata budaya, salah satunya dengan menunjungi candi. Jogja memang dikenal sebagai kota yang memiliki banyak candi.

Selain Candi Prambanan, ada banyak candi-candi lain yang bisa Anda eksplor.

Selain tentunya belajar sejarah, mengunjungi candi-candi berikut dapat menjadi pengalaman menarik mengingat di sana juga menawarkan pemandangan yang elok.

Lantas, candi apa saja yang bisa dikunjungi saat berada di Jogja? Berikut daftarnya.

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko mungkin tak asing di telinga masyarakat. Nama candi ini sempat viral karena pernah dijadikan sebagai salah satu tempat syuting film Ada Apa dengan Cinta 2.

Terletak di Kecamatan Bokoharjo, Sleman, candi ini mempunyai luas mencapai 16 hektare. Ratu Boko berjarak sekitar 17 kilometer di sebelah timur kota Jogja dan bisa diakses lewat jalan raya Yogyakarta-Solo. 
Candi Ratu Boko didirikan di masa pemerintahan Rakai Panangkaran, berada di ketingian 196 mdpl.

Selain melihat kompleks candi yang bersejarah, wisatawan juga dapat melihat panorama yang cantik, terlebih ketika senja tiba.

Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan candi Hindu, dan berbeda dari candi lainnya karena letaknya di bawah permukaan tanah.

Candi Sambisari terletak sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah, sehingga dari kejauhan candi ini tidak tampak.

Lokasinya terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jaraknya berada 15 kilometer ke arah timur lau dari Kota Yogyakarta.

Candi Sambisari diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 oleh Rakai Garung, Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.

Dilihat sekilas, candi tampak seperti sebuah kastil di tengah taman, dikelilingi rumput hijau yang tertata rapi.

Candi Kalasan

Candi Kalasan atau Candi Kalibening merupakan sebuah Bangunan Cagar Budaya yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha.

Candi ini terletak di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Candi Kalasan berdiri di atas sebuah batura atau alas yang berdenah bujur sangkar dengan ukuran 45 x 45 meter, sedangkan tinggi candi sampai dengan batas atap yang masih tersisa adalah 24 meter.

Di sekeliling lapik candi terdapat sisa-sisa stupa yang dahulu berjajar mengelilingi candi.

Stupa-stupa kecil di sekeliling Candi Kalasan berjumlah 52 buah, namun tidak ada satu pun yang dapat disusun kembali menjadi bentuk yang utuh karena terlalu banyak batu asli yang telah hilang.

Candi Sewu

Candi Sewu merupakan candi Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur.

Candi ini dibangun pada abad ke-8, berjarak hanya 800 meter di sebelah utara Candi Prambanan.

Candi Sewu berusia lebih tua daripada Candi Prambanan. Walaupun aslinya terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Sewu yang berarti seribu dalam bahasa Jawa.

Asal usulnya, berdasar prasasti tahun 792 yang ditemukan pada 1960, nama asli bangunan ini yaitu Manjusri graha (Rumah Manjusri), salah satu Boddhisatwa dalam ajaran Budha.

Candi ini diperkirakan dibangun di abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Pnangkaran, raja termahsyur dari kerajaan Mataram Kuno.

Candi Sewu sempat rusak parah karena gempa di bulan Mei 2006 yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. 

Candi Ijo

Candi Ijo merupakan candi tertinggi di Yogyakarta, terletak di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Kompleks candi yang berada di ketinggian 410 mdpl ini terdiri dari 17 struktur bangunan, terbagi dalam 11 teras berundak.

Teras pertama merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Sementara, teras teratas berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, dan empat bangunan candi, yaitu satu candi utama dan tiga candi perwara.

Di candi utama, terdapat sebuah bilik yang di dalamnya ada Lingga Yoni, melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati.

Sedangkan, dalam tiga candi perwara lainnya, wisatawan dapat melihat arca candi yang konon merupakan kendaraan Dewa Siwa dan meja batu disebut padmasana.

Halaman candi ditumbuhi rumput subur. Tak hanya itu, wisatawan juga disuguhi pemandangan dari hamparan persawahan dan kampung penduduk.

Wisatawan juga dapat menikmati indahnya Gunung Merapi, serta dapat menyaksikan senja.  (*)