
Banting Stir Jadi Petani Jahe Merah Akibat Covid-19, Mantan Salesman ini Malah Panen Cuan
- EKO Susilo Warga Gumukrejo, Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali ketiban untung. Keputusan untuk banting stir menjadi petani jahe merah, terlebih sejak
Ekonomi, Fintech & UMKM
EKO Susilo Warga Gumukrejo, Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali ketiban untung. Keputusan untuk banting stir menjadi petani jahe merah, terlebih sejak menjadi mitra Bintang Toedjoe berbuah cuan berlimpah.
"Saya awalnya cuma sales dan cuma coba-coba tanam kencur serta cabai sejak tahun 2004. Saya hanya memanfaatkan lahan peninggalan orangtua 3000 meter persegi, " kata Eko Susilo di sela diskusi jahe merah hasil inisiasi Kalbe Farma, Selasa (9/8).
Eko menjelaskan sempat menanam tembakau. Namun, bukannya untung tembakau hasilnya tidak dibayar oleh pengepul. Akhirnya, Dia mengikuti kemitraan dengan Bintang Toedjoe melalui program BU BINA terjadi pada tahun 2020.
"Saya mulai fokus menanam jahe merah. Pemilihan bibit berkualitas sampai teknis penanaman semua Saya ikuti. Apalagi mendapat pendampingan dari balai teknis penananam budidaya. Saya juga menyewa lahan untuk memperluas penananan," kata Eko.
- Kalbe Farma Ajak Petani Mitra Kembangkan Jahe Merah,Ternyata Banyak Manfaatnya
- Fakultas Pertanian UGM Hasilkan 112 Penelitian Terapan
- Ditarget Pekan Depan, Sri Sultan Inginkan Kasus SMAN 1 Banguntapan Cepat Selesai
- Pengaruh Global Terhadap Likuiditas Domestik Dapat Dimitigasi oleh Kebijakan yang Baik
Menurut Eko panen perdana dilakukan pada tahun 2021. Disaat bersamaan harga jahe merah melonjak akibat tingginya permintaan saat Covid-19 merebak. Melalui kemitraan ini, Eko dapat menjelual seluruh hasil panen yang mencapai 22 ton.
Eko menjelaskan setelah bergabung menjadi mitra Bintang Toedjoe bisa tanam lebih banyak, dengan harga yang lebih pasti, dan kualitas jahe yang lebih bagus.
"Biasanya, 1 kg benih jahe merah dapat panen 3 kg jahe merah. Tapi setelah bergabung sebagai mitra Bintang Toedjoe, benih 1 kg bisa panen 5-8 kilogram,” ucapnya.
Teekait harga, Eko mengakui harga di pasaran sangat tinggi, namun sesuai dengan program kemitraan semua hasil panen bisa terserap semua dengan harga yang masih wajar.

"Biaya untuk produksi perdana terpenuhi bahkan masih ada kelebihan untuk memenuhi kebutuhan hidup," ungkap Eko yang enggan merinci berapa jumlah cuan yang diperolehnya.
"Apabila memenuhi kandungan gingerol yang diminta (jehe merah) pasti bisa dipanen. Yang penting ada kepastian pembayaran. Atas hasil panen ini juga mendapat apresiasi dari Bintang Toedjoe berupa traktor tangan dan 7 alat sprai penyiram jahe merah," imbuhnya.
Eko menambahkan penggunan traktor tangan juga memberikan nilai tambah dan menghemat biaya produksi. Dia bisa mengurangi penggunaan tenaga untuk mengggemburkan tanah.
"Saya hanya ingin membuktikan kalau bertani juga bisa menghasilkan. Saya juga masih bisa mengerjakan hal lain karena tidak harus setiap hari ke lahan memantau sawah. Misalnya perawatan cuma sepekan sekali, mencabut suket atau rumput sebulan sekali dan menunggu sekira 10 bulan untuk panennya," tandas Eko.
Saat ini Eko tidak hanya menjual jahe merah utuhan saja, namun varian minukan ekstrak dengab merk Redgine. Di antaranya, jahe merah ekstrak bubuk premium, jahe merah ekstrak bubuk terstandar, jahe merah bubuk, jahe merah bubuk instant dengan gula aren, jahe merah segar, jahe merah simplisia, minyak jahe merah, jahe merah ekstrak cair terstandar.
Selain itu, juga digunakan untuk produk Bintang Toedjoe, yaitu BEJO Jahe Merah, Bejo Sujamer, Komix Herbal, Komix Herbal Jahe, Komix Herbal Jeruk Nipis, Komix Herbal Kids, hingga Komix Herbal Pepermint.
Sementara itu, pembudidayaan jahe merah ini merupakan inisiasi PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) yang dirancang oleh Business Unit Bintang Toedjoe Inovasi Natural (BINA).
BINA merupakan divisi B2B dari Bintang Toedjoe yang fokus pada bahan baku natural, untuk mendukung keberlangsungan dan ketersediaan jahe merah terbaik.
“Kalbe selalu mempertimbangkan keberlanjutan dalam menjalankan operasional perusahaan, terutama dampak positif terhadap lingkungan, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan yang terkait. Hal ini demi mencapai tujuan inisiatif keberlanjutan Kalbe, yaitu Bersama Sehatkan Bangsa,” ujar Kepala Komunikasi Eksternal PT Kalbe Farma Tbk, Hari Nugroho, di salah satu ladang jahe merah di Boyolali Jawa Tengah.
Hari mengatakan bahwa ekosistem jahe merah yang dibangun oleh anak usaha Bintang Toedjoe merupakan salah satu upaya perusahaan mendukung kemandirian bahan baku obat di Indonesia. Khususnya, yang berbasis herbal.
Program ini didukung oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Surakarta.
- RS JIH Yogyakarta jadi Rumah Sakit Rujukan Piala AFF U-16
- Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77, Berikut Ini Tema, Tata Cara Upacara, dan Pedoman Menyemarakkan
- Unik, Setiap Kamis Pahing Seluruh Pegawai dan Siswa di Jogja Pakai Pakaian Adat
“Kami dari BPSB mendukung kelompok tani yang ingin mengembangkan jahe merah. Dari BPSB ikut mendampingi, dari proses penanaman, hingga jadi benihnya. Jangan sampai nanti benih yang dihasilkan kelompok tani itu tidak sesuai yang diharapkan petani lainnya,” tutur Pengawas Benih Tanaman (PBT) BPSB Surakarta, Mardi Satata. (*)
