
Diorama Kearsipan Jadi Bukti Sejarah Yogyakarta Secara Runtut
- YOGYA, Jogjaaja.com - Diorama Kearsipan yang bertempat di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang s
Home
YOGYA, Jogjaaja.com - Diorama Kearsipan yang bertempat di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang sejarah DIY secara runtut. Hal ini disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir pada Selasa (16/11).
Sri Sultan didampingi oleh Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji, Kepala DPAD DIY Monika Nur Lastiyani, dan Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo. Diorama tersebut mengisahkan tentang sejarah berdirinya Yogyakarta dari masa Panembahan Senopati hingga Keistimewaan DIY. Sejarah Yogyakarta selama kurang lebih 430 tahun terangkum dalam 18 ruangan di satu lantai Gedung DPAD DIY. Pembangunan diorama diperkirakan dapat selesai pada awal Desember dan ditargetkan akan diresmikan pada Februari 2022.
- Beroperasi di Kapal Induk HMS Queen Elizabeth, F-35B Inggris Jatuh di Mediterania
- Tertinggi Selama 20 Tahun, Ekspor RI ke Tiongkok Tembus 85,3 Miliar Dollar AS
- Jogja Berwakaf Dukung Pengembangan Ekonomi Syariah DIY
- Trailer Spider-Man No Way Home Tayang, Berikut 5 Musuh Spider-Man yang akan Muncul
“Saya kira cukup memadai, yang penting bagaimana penjelasannya, bisa menonton runtut 18 ruangan. Harapannya memulai dan mengakhirinya dengan runtut, yang penting bagaimana narasi itu bisa dibikin cerita lewat audio visual untuk bisa memberikan kejelasan,” ungkap Ngarsa Dalem.
Sri Sultan berharap agar pengunjung dapat memahami sejarah Yogyakarta dalam diorama tersebut, “Pengunjung ini kan perlu untuk bisa memahami, sehingga aspek-aspek seperti itu jadi pertimbangan supaya betul-betul yang masuk yang belum tahu, saat keluar dia bisa membayangkan perjalanan apa yang dilakukan di dalam kehidupan masyarakat Jogja dengan segala tantangannya.”
Sri Sultan juga berharap agar nantinya Diorama Kearsipan bisa segera dikunjungi wisatawan dan pelajar agar dapat memahami sejarah keistimewaan DIY.
Diorama Kearsipan menampilkan berbagai era perjalanan sejarah DIY, seperti Yogyakarta sebagai Kota Revolusi, Kota Pendidikan, awal tata pemerintahan Yogyakarta, serta keistimewaan Yogyakarta. Pembangunan diorama ini didasari oleh berbagai arsip yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti Keraton dan ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia).
Kepala DPAD DIY Monika Nur Lastiyani menyatakan, “Diorama Kearsipan ini mencerminkan sejarah Yogyakarta dalam kurun waktu selama sekitar 430 tahun secara detail karena kami menggunakan dasar arsip. Arsip itu adalah bukti otentik sehingga orang tidak akan bisa membantah, karena memang arsipnya ada.”
Teknologi terkini juga diaplikasikan dalam Diorama Kearsipan, seperti teknologi hologram yang bersifat interaktif serta teknologi Augmented Reality. Monika berharap agar teknologi ini dapat menarik minat generasi muda, “Ini menjadi sebuah diorama yang benar-benar kekinian dan bisa menampung anak-anak milenial. Sehingga pesan kami yaitu untuk bisa menghadirkan sejarah Yogyakarta itu bisa sampai dengan mudah kepada mereka karena sudah menggunakan teknologi kekinian.” Tidak hanya untuk anak-anak, diorama ini juga diharapkan dapat menarik minat sejarawan dan peneliti.
Monika juga menyebutkan bahwa diorama ini bersifat dinamis di mana jika dalam perjalanannya nanti menemukan arsip-arsip yang ternyata bisa melengkapi, maka arsip tersebut nanti akan ditambahkan.
Hal serupa dinyatakan oleh Ong Harry Wahyu, Art Director Diorama Kearsipan, bahwa publik dapat ikut menyetorkan data-data yang dapat melengkapi potongan sejarah Yogyakarta.
- Kaesang Putra Presiden Jokowi Makin Tajir, Gelontorkan Rp92,2 Miliar Untuk Borong 188,24 Juta Saham PMMP
- Kucurkan Rp1 Triliun, Gojek Dinilai Berkontribusi Besar Bantu Mitra dan UMKM Bertahan di Masa Pandemi
- 5 Fakta Menarik Film Penyalin Cahaya
Ong Harry Wahyu juga menyebutkan bahwa penyusunan diorama ini melibatkan hampir 50 seniman, antara lain seniman multimedia, seniman perupa, seniman pematung dan berbagai seniman lainnya. Ia menyampaikan bahwa diorama ini berupaya untuk mengkomunikasikan arsip-arsip sejarah Yogyakarta melaui media foto, video, serta media lainnya secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.
Ong juga menyebutkan keunggulan diorama ini, “Kelebihannya adalah kelengkapan dari kebudayaannya, politiknya, lengkap banget. Jogja saya kira di Indonesia sangat lengkap, dari mulai sejarah kerajaan ada di sini, sejarah republik ada di sini, sejarah kebudayaan, kesenian ada di sini. Semua kota lain nggak ada yang selengkap Jogja.” (*)
