
Mencairnya Es Kutub Siap Melepas Virus Purba yang Terperangkap
- YOGYA, Jogjaaja.com - Es kutub di Greenland, atau yang sering disebut ibun abadi (permafrost) terus mengalami proses pencairan seiring dengan fenomena perubahan
News
YOGYA, Jogjaaja.com - Es kutub di Greenland, atau yang sering disebut ibun abadi (permafrost) terus mengalami proses pencairan seiring dengan fenomena perubahan iklim.
Akibatnya, sekitar 6 miliar ton air mengalir ke laut lepas setiap harinya, yang membuat daratan terancam tenggelam. Namun, tak hanya itu. Karena nyatanya, mencairnya permafrost juga berpotensi melepas virus dan mikroba yang sebelumnya terperangkap di lapisan es.
Melansir laman Unhearted Greenpeace, profesor Geofisika di Universitas Alaska Fairbanks dan ahli lapisan es, Vladimir Romanovsky, menjelaskan skenario awalnya.
Kata Romanovsky, hal pertama yang perlu dipahami adalah mikroba misterius membeku di daratan, bukan di lapisan es kutub.
Sementara itu, lapisan es kutub mengandung gas rumah kaca CO2 (karbondioksida) dan metana yang sangat besar. Sehingga, jika es mencair, maka gas ini akan keluar dan dapat menyebabkan perubahan iklim tak terkendali.
"Permafrost [sesungguhnya] sudah mencair dari atas ke bawah di banyak wilayah," kata Romanovsky.
Menurutnya, meski lapisan es di bawah tanah tetap beku sepanjang tahun, sebagian besar lapisan es bagian atas mengalami pergeseran karena mencair.
"Kami mengamati di bagian paling utara Arktik Kanada, di mana suhu permafrost masih sekitar -14 derajat Celcius, sudah mencair dari atas. Itu berarti bagian dari materi yang telah dibekukan selama ribuan tahun tidak lagi beku," katanya lagi.
Suhu yang meningkat dengan cepat di wilayah tersebut akan menambah lapisan aktif permafrost sedikit demi sedikit. Lapisan es ini disebut aktif karena selama musim panas berbentuk air, bukan es.
Meski begitu, “permafrost tidak perlu sepenuhnya mencair untuk membuat mikroorganisme yang membeku di daratan terbebas dari penjara es,” katanya.
Lapisan aktif yang semakin besar dan aktif lebih lama menjadi habitat baru ketika peningkatan jumlah air yang tidak beku cukup untuk mengaktifkan beberapa proses biologis.
Faktanya, sebagaimana dijelaskan virolog Universitas Aix-Marseille, Jean-Michel Claverie, mikroba atau virus yang terbangun dari tidur panjang itu dapat mengambil kesempatan untuk bergerak ke arah talik, lapisan di atas permafrost yang jarang membeku.
Menurut Claverie, virus kuno yang terperangkap di permafrost dapat bertahan dan hidup kembali.
"Gagasan bahwa bakteri dapat bertahan sangat lama saya pikir pasti diterima. Perdebatan yang tersisa adalah berapa lama? Apakah itu satu juta tahun? 500 ribu tahun? Apakah itu 50 ribu tahun?" kata Claverie, dikutip dari Science Focus.
Claverie, kemudian menggunakan DNA virus yang diambil dari lapisan es di sekitar Sungai Kolyma di Siberia timur laut, dan menginfeksi amuba untuk mengetahui apakah virus ini masih berfungsi sebagaimana mestinya.
"Ini adalah bukti prinsip yang kami jalankan di lab. Kami dapat menghidupkan kembali virus dari sampel permafrost kuno. Sejauh ini kita belum bisa mencapai 30 ribu tahun, tetapi mungkin akan datang di beberapa titik," tuturnya.
Meski demikian, masih banyak hal yang belum diketahui soal virus dan mikroba yang terperangkap di lingkungan ekstrem seperti es kutub.
Seperti dilansir dari Forbes, dalam skenario terburuk, es yang mencair dapat mengeluarkan penyakit-penyakit yang berbahaya ke lingkungan sekitarnya.
Pasalnya, para peneliti telah menemukan cacar yang masih utuh dan virus flu Spanyol dalam sampel jaringan beku berusia 100 tahun.
- Citayam Fashion Week Viral, Berikut Daftar Pekan Fesyen Terbesar di Dunia
- Sigit Susetya Targetkan Dulang Suara Maksimal Demokrat di Kulonprogo
- Disbud DIY Adakan Catur Sagatra, Ini Maksudnya
Kemudian wabah antraks di Siberia lima tahun lalu juga diyakini sebagai hasil dari patogen yang diawetkan dalam bangkai rusa. (Anz)
