
Pemkot Yogya Kaji Dampak Operasional Tol Terhadap Arus Wisatawan dan Kemacetan
- YOGYA,Jogjaaja.com - Pemerintah Kota Yogyakarta mengaku tengah mengkaji dampak pembangunan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo yang direncanakan bakal operasional da
Jogja
YOGYA,Jogjaaja.com - Pemerintah Kota Yogyakarta mengaku tengah mengkaji dampak pembangunan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo yang direncanakan bakal operasional dalam dua atau tiga tahun ke depan. Berdasarkan catatan, tol Jogja-Bawen akan mulai dibangun dari wilayah DIY pada Agustus 2022 nanti, sementara untuk tol Jogja-Solo rencananya diresmikan pada 17 Agustus 2023.
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, sesuai dengan rekomendasi Kementerian Dalam Negeri disebutkan bahwa daerah yang memasuki habis masa jabatan per 2022 mendatang diminta untuk menyiapkan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) transisi untuk periode 2023-2026. Pemkot Yogya menyebut, operasional tol juga bakal dikaji dalam RPD itu.
"Untuk antisipasi itu persoalan kita pertama ialah pemulihan ekonomi maupun sosial pandemi, yang saat ini masih berjuang untuk pemulihan, jadi itu tentu tidak akan mudah manakala kita tidak punya rencana yang matang. Karena rencana itu harus memuat tiga hal, menyelesaikan persoalannya, kemudian ada keberlanjutan dan visi kedepan seperti apa," ujarnya, Senin (7/2/2022).
Menurutnya, konektivitas Yogya dengan luar daerah setelah tol beroperasi mesti dipikir secara matang. Dampak secara sosial maupun ekonomi harusnya bisa dipersiapkan sejak sekarang. Heroe menambahkan bahwa, selain dari sisi kendaraan atau faktor kemacetan, arus wisatawan khsususnya juga jadi hal yang utama bakal dirasakan oleh Kota Yogya.
"Kita bayangkan arus wisatawan yang tadinya melalui Kartasura dan kemudian sekarang dari Semarang langsung ke Yogya. Nanti yang dari timur, dari Kartasura ke Yogya. Itu artinya arus kendaraan yang masuk akan besar, volume jadi lebih tinggi," jelasnya.
Pemkot Yogya menyebut nantinya skema yang disiapkan adalah berupa pembangunan sirip-sirip pemecah di sekitar destinasi wisata atau menuju destinasi wisata. Persiapan itu nantinya bakal dilakukan tidak hanya di wilayah setempat saja melainkan juga di seluruh wilayah DIY. Strategi ini dianggap bakal mampu menjadi pemecah arus kendaraan yang masuk setelah tol beroperasi.
"Kalau tidak kita antisipasi dengan membuat sirip pembuangan atau yang bisa menjadi jalan alternatif jalur menuju destinasi wisata yang ada di DIY maupun jalur yang menuju kota tentunya akan ada potensi kemacetan yang serius," ungkap dia.
Apalagi dengan kondisi geografis DIY yang berbentuk aglomerasi, keterhubungan antara kabupaten dan kota di wilayah sekitar sangat fleksibel dan berpotensi membuat load atau muatan kendaraan di setiap wilayah menjadi bertumpuk jika tidak disediakan alternatif jalur pemecah. Oleh karenanya, Heroe berharap agar setiap daerah di DIY bisa mengantisipasi hal serupa.
- Marikatsu Spot Ramen dan Katsu Ternyaman di Yogyakarta
- Mudah Kok, Begini Cara Cek Pajak Mobil Lewat SMS
- PBTY 2022 Digelar Daring, Angkat Tema Lestari Budayaku, Mewangi Negeriku
"Makanya wilayah yang ada di DIY, misal Bantul, Sleman atau lainnya bisa mengantisipasi Jogja sebagai kawasan aglomerasi itu gangguan sedikit pun akan mempengaruhi seluruh kawasan, oleh karena itu kita berharap ada antisipasi untuk bagaimana jalur exit maupun masuk tol itu nanti kita buat opsi-opsi yang banyak dan memungkinkan orang bisa membuat jalan masuk maupun keluar dari tol lebih mudah," jelas dia. (Anz)
