
Sejarah Singkat Pendopo Agung Ambarrukmo, Lokasi Pernikahan Kaesang-Erina
- SLEMAN - Pendopo Agung Ambarrukmo dipilih menjadi lokasi akad nikah Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono. Berbagai macam persiapan pun telah digelar di ka
Sleman
SLEMAN - Pendopo Agung Ambarrukmo dipilih menjadi lokasi akad nikah Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono. Berbagai macam persiapan pun telah digelar di kawasan tersebut.
Pendopo Agung Ambarukmo adalah bangunan yang berada di kompleks hotel Ambarukkmo ternyata merupakan bangunan bersejarah yang hingga kini masih terjaga keasliannya. Awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubowono II, Pendopo Agung Ambarrukmo menjadi salah satu bangunan utama dari kesatuan kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo.
Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V, dan disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII. saat Sri Sultan Hamengku Buwono VII memutuskan untuk mundur dari takhta, kemudian ia pun memilih menetap dan tinggal di Pesanggrahan Ambarrukmo.
- Mau Cuan Malah Apes, Ternyata Tidak Semua Simpanan Valas Dijamin Negara
- Jaga Kestabilan Industri Perbankan, LPS NaikkanTBP Simpanan Valuta Asing
- Kementerian BUMN Siap Membeli Bahan Kebutuhan Pokok
- Begitu Puteri Indonesia Rampung, Kaesang Langsung Sat Set Lamar Erina
- Bagaimana Peluang Pemulihan Bisnis Asuransi Jiwa di 2023, Ini Prediksinya
Kini, Pendopo Agung Ambarrukmo yang juga merupakan kesatuan dari Pesanggrahan Kedhaton Ambarrukmo telah terbuka untuk umum untuk dikunjungi.
General Manager Hotel Royal Ambarrukmo, Herman Curbois mengatakan Pendopo Agung Royal Ambarrukmo sebenarnya merupakan heritage karena merupakan salah satu bangunan tempat peristirahatan Raja Ngayogyakarto Hadiningrat. Satu kompleks karena di tempat tersebut juga ada Alun-alun, Pringgitan, Gadri, Gandok dan juga Bale Kambang. "Bangunan di sini memang mirip dengan susunan di Keraton Yogyakarta," ujar dia.
Herman menuturkan kompleks pendopo Agung Royal Ambarrukmo dulu menjadi tempatnya peristirahatan raja-raja Yogyakarta. Dulunya jika raja Yogyakarta ingin beristirahat keluar dari keraton biasanya datang ke peristirahatan di kedhaton Ambarrukmo ini yang dulunya memang masih hutan.
Termasuk ketika ada tamu dari luar daerah yang hendak bertemu dengan raja, maka biasanya diminta untuk beristirahat dulu di peristirahatan tersebut. Pemberian nama sendiri juga berdasarkan keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang memilih untuk menempati tempat ini. Di mana saat itu, pada 27 Oktober 1920, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengajukan mundur atau berhenti menjabat sebagai Sri Sultan melalui surat pengunduran diri.
"Setelah resmi turun tahta, beliau kemudian memutuskan untuk tinggal di Pesanggrahan Ambarrukmo,” tuturnya.
Tetapi sebelum ini, sebenarnya juga ada alun-alun, pendopo dan juga balai Kambang. Kendati sudah mencapai umur ratusan tahun, keaslian arsitektur bangunan masih tampak terjaga dengan baik. Mulai dari pendopo, Ndalem Ageng hingga Bale Kambang.
"Fungsinya ini dulu alun-alun untuk masyarakat umum, pendopo untuk resepsi, lalu pringgitan dan ageng dalem untuk VIP atau keluarga, lalu Gadri untuk keluarga dari raja," ujarnya.
Saat ini, bangunan utama digunakan sebagai Museum Ambarrukmo dengan diisi oleh berbagai peninggalan raja-raja Keraton Yogyakarta. Dimulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Sekarang jadi museum yang menyajikan beragam foto-foto sejarah. Selain itu juga untuk menyimpan gamelan dan koleksi wayang kulit,” tuturnya.
Di dalam Dalem Ageng ada beberapa ruangan yang difungsikan untuk tempat beberapa barang. Di antaranya ruangan pertama untuk Gamelan, ruangan kedua untuk wayang dan kemudian juga keris. Ada satu ruangan yang tidak boleh digunakan yaitu ruangan yang dulunya merupakan tempat peristirahatan (kamar) Sri Sultan HB VII.
- Telkomsel dan Kredivo Hadirkan Solusi Keuangan Digital
- Menanti Aksi Jason Ranti, The SIGIT & Sisitipsi di Supersoccer ‘Soccerphoria’ Yogyakarta
- Terapkan Bisnis Berkelanjutan, Ini Strategi Jitu Sarana Menara Nusantara (TOWR) Terapkan ESG
Saat ini, bangunan pendopo boleh dikomersialkan namun untuk kegiatan yang masih ada kaitannya dengan budaya. Biasanya dimanfaatkan untuk lokasi pernikahan. Tidak hanya berupa tulisan saja, melainkan juga tarian, sastra, gamelan hingga pewayangan gaya Yogyakarta. (*)
