Home

Sultan Sampaikan Kunci Sukses Desa Mandiri Budaya

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan jika kesuksesan Desa Mandiri Budaya (DMB) tergantung pengorganisasian dan SDM pelakun
Home
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan jika kesuksesan Desa Mandiri Budaya (DMB) tergantung pengorganisasian dan SDM pelakunya.

“Saya menunggu munculnya embrio gagasan tentang bentuk simplifikasi struktur organisasi dan hubungan fungsional lintas OPD itu karena program DMB melibatkan 15 OPD DIY dan OPD Kabupaten/Kota,” jelas Sri Sultan, Senin (29/11) di Karaton Ballroom, Royal Ambarrukmo Hotel, Sleman.

DMB sendiri adalah sebentuk Desa Model yang dikelola secara terpadu dengan tetap memperhatikan peran warga dalam pengelolaannya. DMB menjadi penting karena memiliki berbagai peran strategis, dan bisa memberikan identitas Desa yang spesifik. Dampak dari penetapan Desa Model itu, memotivasi peningkatan kesadaran dan peranserta warga dalam DMB.

Lebih lanjut, pada agenda Sharing Session Leadership Penguatan DBM yang diikuti Kepala OPD DIY itu, Sri Sultan memberikan usulan untuk melakukan simplikasi pengorganisasian lintas struktural dan fungsional (Cross Structural and Functional Organization) dengan membentuk Satgas Semi Full-Time.

“Untuk Satgas ini team leader-nya Sekda didampingi Ketua Harian Paniradya Pati dan Wakilnya yakni Kepala Biro Organisasi yang didukung SDM Pejabat Eselon 3 OPD terkait yang kompeten di bidang pengorganisasian,” tambah Sri Sultan.

Sri Sultan selanjutnya menyampaikan beberapa poin yang menjadi perhatian terkait penguatan DBM yakni adanya partisipasi nyata dari warga. Pendekatan sosial untuk mengembangkan potensi desa harus dimaksimalkan namun juga beragam sesuai dengan profil setiap desa. Hal ini selaras dengan pepatah jawa desa mawa tata, negara mawa cara. Ungkapan ini terwujud dalam UU Otonomi Desa No.6/2014, yang memberi kewenangan Desa dalam ‘cara’ mengurus rumah tangganya sendiri, tanpa keluar dari bingkai ke-‘tata’-negaraan NKRI dan keistimewaan DIY.

“Jika keunggulan itu dilancarkan dengan strategi: “Desa Melayani Kota”, desa bisa menjadi sentra pertumbuhan. Maka, pembangunan desa oleh kabupaten, harus diprioritaskan. Karena relevan untuk mengakselerasi pembangunan desa, dimana sumber potensinya ada di desa,” imbuh Ngarsa Dalem.

Tantangan OPD Mengembangkan DMB

Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi-informasi global telah sampai pada kehidupan masyarakat di desa. Justru pada saat inilah pengembangan DMB harus digalakkan. Dengan menilik kembali latar belakang DIY yang merupakan daerah istimewa, telah banyak ajaran tentang kepemimpinan yang dapat dijadikan anutan tumindak (acuan bertindak/menentukan langkah).

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan pengejawantahan kepemimpinan “Manunggaling Kawulâ-Gusti” (MKG) yang diteladankan para Kepala OPD kepada lurah dan perangkatnya lalu diturunkan kepada rakyat untuk bersama-sama mencapai tujuan pelaksanaan DMB.

“Hakikat praktik kepemimpinan MKG ini, bahwa kehidupan rakyat manunggal dalam sistem kepemimpinan, yang merupakan komponen saling membutuhkan satu sama lain. Lurah tidak bisa memerintah tanpa rakyat dan rakyat memerlukan pêngayoman dan pêngayêman dari lurah,” tambah Sri Sultan.

Ngarsa Dalem menegaskan pengembangan desa budaya jangan dimaknai sebagai Dhawuh Dalem seorang Sultan kepada Kepala OPD sebagai abdi.

“Kerancuan cara pengabdian ini bisa jadi sekadar digunakan payung-lindung” atas ketidakmampuan atau miskinnya inovasi dan matinya kreativitas untuk menjalankannya,” tegas Ngarsa Dalem.

Menurut Sri Sultan, sejatinya nilai-nilai budaya tidak sekedar cukup dimaknai secara harfiah tetapi harus dikembangan nilai-gunanya bagi warga. Dan perlu dipikirkan cara bagaimana menerapkannya yang kontekstual dengan media masa kini beserta segala dinamika tantangan zaman.

Sri Sultan juga menyampaikan agenda sharing session pengembangan DMB ini melibatkan akademisi yang berpengalaman sebagai fasilitator yakni Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM. Kerja sama fasilitator pendampingan ini dapat mengulas lebih mendalam mengenai strategi perencanaan hingga pelaksanaan operasional yang akan dilakukan Satgas semi-full time yang telah terbentuk.

“Pengorganiasian itu selain harus beradptasi dengan lingkungan strategis yang berubah, baik oleh disrupsi teknologi, tantangan era industri 4.0 yang mengarah pada tatanan society 5.0, ditambah harus hidup harmoni bersama pandemi Covid-19 serta di tengah kehidupan mayoritas kaum milenial dengan visi dan paradigma yang jauh berbeda dengan generasi kita sekarang,” urai Sri Sultan.

Sri Sultan berharap, dengan terbentuknya Satgas yang agak terbebas dari tugas-tugas administrasi birokrasi dan terdiri atas pejabat yang kompeten, semoga segera dapat menghasilkan simplikasi Struktur Organisasi beserta program kerja DMB yang realistis serta dapat menjadi penanda keistimewaan DIY yang layak dikembangkan lebih lanjut.

Sementara, Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Prof. Paripurna P. Sugarda, S.H., M.H., yang hadir pada agenda tersebut dalam sambutannya menyampaikan jika kolaborasi ini merupakan perwujudan dukungan UGM.

“Sejak dulu, kalau berbicara UGM itu pasti tidak akan lepas dari keraton. Saat awal berdiri, UGM menggunakan beberapa ruangan yang menjadi bagian dari bangunan keraton. Jadi keterlibatan UGM di sini sangat saya apresiasi,” tukasnya. 

Oleh karenanya, menurutnya UGM tak bisa dipisahkan dengan keraton dan segala upaya yang dilakukan keraton dalam perwujudan semangat filosofi Mataram, termasuk MKG tersebut. 

Paripurna berharap, pendampingan yang dilakukan dapat memberikan manfaat guna terwujudnya sinergi antar OPD DIY dan Kabupaten/Kota dalam membuat perencanaan hingga eksekusi program pengembamgan DMB. “Semoga apa yang kita lakukan dapat menghasilkan sinergi yang baik,” tutupnya.  (*)