
Kabar Gembira, Angka Stunting di Yogyakarta Terus Menurun
- YOGYA, Jogjaaja.com - Kondisi gagal tumbuh bagi balita atau yang disebut dengan ‘stunting’, angkanya terus menunjukkan penurunan yang signifikan di Jogja.
Jogja
YOGYA, Jogjaaja.com - Kondisi gagal tumbuh bagi balita atau yang disebut dengan ‘stunting’, angkanya terus menunjukkan penurunan yang signifikan di Jogja.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2-KB) Kota Jogja meyakini, dibentuknya tim penanganan stunting di tingkat kemantren hingga kelurahan punya andil besar dalam penurunan tersebut.
Kepala DP3AP2-KB Kota Jogja, Edy Muhammad mengatakan, bahwa penurunan yang terjadi memang cukup memuaskan. Meski demikian, zero stunting atau nol kasus stunting tetap menjadi target yang harus direalisasikan Pemkot.
"Stunting posisi terakhir dari 14 persen di 2021, menjadi 12,8 persen. Angka terakhir yang diinput memang menurun lagi cukup signifikan. Ini akan terus kami optimalkan, menuju predikat zero stunting," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/8/2022).
- 8 Perguruan Tinggi Adakan Deklarasi di UGM, Sepakat Susun Kurikulum Bersama
- Selokan Mataram Mengering, Ternyata Ini Penyebabnya
- CIMB Niaga Syariah Raih Rekor MURI atas Transaksi Komoditas Murabahah
Edy pun memaparkan, terdapat dua kebijakan pokok yang dilaksanakannya, untuk menekan angka stunting. Mulai dari pendekatan sensitive, dan diikuti langkah spesifik.
Pada pendekatan sensitif, katanya, pihaknya menjadikan tim penanganan stunting di wilayah sebagai ujung tombak pergerakan edukasi.
"Imbauan secara persuasif kami berikan kepada orang tua anak yang terindikasi stunting. Umur balita menjadi sasaran prioritas. Orang tua kami tekankan, supaya memperhatikan asupan gizi yang cukup kepada anaknya," jelasnya.
Ia mengimbuhkan, Pemkot Jogja juga menganggarkan dana dari APBD untuk pemberian makanan tambahan bagi anak.
Selain itu, pihaknya selalu mendorong peran masyarakat maupun pengusaha, via program dapur balita sehat.
"Sedangkan untuk pendekatan spesifik, Dinas Kesehatan melakukan pantauan langsung, ada pengukuran berat, serta tinggi badan. Intervensinya masih sama, dengan dukungan pemenuhan gizi atau makanan tambahan," jelasnya lagi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani, menyampaikan angka stunting di wilayahnya kini telah melampaui target dari pemerintah pusat per 2024, yakni 14 persen.
Dengan demikian, menurutnya sudah saatnya Kota Jogja tancap gas guna merealisasikan target zero stunting.
Selain itu, ia juga menjelaskan bawa pemetaan terhadap 45 kelurahan di Kota Jogja sudah ditempuh.
Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, pihaknya mengklasifikasi ke dalam beberapa zona, selaras tingkat prevalensi stunting di setiap wilayah.
- Festival Musik GongFest Akan Digelar di Tebing Breksi
- Unik, Setiap Kamis Pahing Seluruh Pegawai dan Siswa di Jogja Pakai Pakaian Adat
- ABC Dan SWAP Energi Indonesia Sediakan Baterai Motor Listrik
"Penentuan zona berdasar balita dua tahun yang memiliki status gizi pendek dan sangat pendek dibandingkan dengan jumlah total baduta yang berada di kelurahan tersebut. Dari hasil prevalensi tersebut, kemudian kami kelompokkan berdasar cut off peta Kemenkes," urai Emma. (Eff)
