Jogja

Selokan Mataram Mengering, Ternyata Ini Penyebabnya

  • YOGYA, Jogjaaja.com - Akhir-akhir ini, masyarakat bertanya-tanya mengapa Selokan Mataram mendadak kering.Banyak yang heran, karena biasanya air di sana terus me
Jogja
Ties

Ties

Author

YOGYA, Jogjaaja.com - Akhir-akhir ini, masyarakat bertanya-tanya mengapa Selokan Mataram mendadak kering.

Banyak yang heran, karena biasanya air di sana terus mengalir, tapi kini tiba-tiba habis seperti dikuras.

Ternyata, air di Selokan Mataram memang sengaja dikeringkan. Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWS-SO) dalam keterangan persnya menjelaskan, mulai bulan Agustus akan ada perbaikan terhadap saluran Mataram (Selokan Mataram).

Perbaikan saluran irigasi sepanjang kurang lebih 30 kilometer itu, dilakukan di beberapa titik agar tidak terjadi kebocoran. Maka, selama proses perbaikan itu pula, saluran irigasi Selokan Mataram I yang mengalir dari Magelang menuju Sleman dikeringkan.


Kepala BBWS-SO Dwi Purwantoro menyampaikan, pengeringan irigasi Selokan Mataram selama masa perbaikan tidak dilakukan tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya sudah ada proses musyawarah bersama semua pihak yang dijembatani oleh Komisi Irigasi.

"Tidak bisa tiba-tiba [dikeringkan],” jelasnya, Selasa (9/8/2022) kemarin.

“Biasanya kami melakukan pengeringan 2-3 bulan. Nanti pengaliran lagi. Lalu, nanti kesepakatan lagi kapan akan dikeringkan lagi. Jadi, kami mengedepankan musyawarah dan mufakat," imbuhnya.

 

Dwi juga mengungkapkan, Selokan Mataram yang merupakan Cagar Budaya ini akan diperbaiki dengan mengembalikan desain awal seperti pertama dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono IX.

Pihaknya mengaku sudah mendapatkan surat dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat agar selama perbaikan tidak mengubah bentuk aslinya, yakni pasangan batu konstruksi tidak boleh beton, tetapi batu kali segi enam.

"Jadi akan dikembalikan ke bentuk desain awal. Namun, prinsip teknis tetap kami kedepankan, kearifkan lokal diutamakan, sehingga tidak menggunakan beton-beton yang terlalu masif jadi lebih artistik," kata dia.

Perbaikan Selokan Mataram sendiri, katanya, selaras dengan pembangunan lain yang dilakukan di hulu sungai, seperti di bendung Karangtalun, Magelang, dan Kulon Progo.

Proyek pekerjaannya adalah perbaikan saluran irigasi untuk mengairi 5.144 hektar lahan di Jawa Tengah dan DIY. Dengan rehab irigasi ini, maka musim tanam diharapkan bisa meningkat hingga 240 persen.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Dwi menjelaskan bahwa proyek perbaikan akan dimulai dari Karangtalun hingga Kali Opak dekat Prambanan. Termasuk juga selokan Van Deer Wijck yang mengalir ke Sedayu, Bantul.

“Selain saluran irigasi, perbaikan juga pada jalan inspeksi sehingga diharapkan dapat meningkatkan sektor Pariwisata,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SNVT PJPA Serayu-Opak Kuji Murtiningrum, dalam kesempatan yang sama  mengatakan bahwa struktur Selokan Mataram sudah cukup tua.

Menurutnya, perbaikan selama ini hanya dilakukan dalam skala minor, dan saat ini merupakan rehab cukup besar setelah 30 tahun terakhir.

Saluran Mataram II di Kalasan sepanjang 15 kilometer, menurutnya, sudah diperbaiki pada musim hujan tahun ini karena curah hujan tinggi dan bangunan yang cukup tua mengakibatkan beberapa bagian irigasi longsor.

Sementara pada bulan Agustus ini, mulai perbaikan pada hulu saluran Mataram I yang menghubungkan Magelang dan Sleman.

"Bulan Agustus ini, kami mulai mematikan air selokan Mataram I, yang sudah disetujui oleh semua pihak dan petani. Termasuk petani ikan. Kami sekarang berpacu dengan waktu. Karena info BMKG curah hujan mulai datang lagi di September," kata Kuji.

 

Skema proyek perbaikan irigasi ini, pendanaan sepenuhnya dari APBN Kementerian PUPR. Nilai totalnya sekitar Rp181 miliar, dan ditargetkan rampung pada Juni tahun 2023. (Eff)